Lao Kim Hoa (73) adalah satu dari 19 orang yang seolah mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup. Ia menyintas malam tragis di pengujung 2025 ketika Panti Wreda Damai yang ditempatinya di Manado, Sulawesi Utara, habis dilalap api.
Kini, panti tersebut telah kembali aktif merawat para penghuninya yang tersisa, termasuk Lao Kim Hoa. Wanita yang lebih akrab disapa Ci Hoa itu bilang, ia sangat menikmati rasanya kembali ke rumah bagi warga lanjut usia itu.
“Enjoy, soalnya teman-teman, apalagi Ibu (Olva Sumual, pengurus panti) begitu baik,” kata wanita yang akrab dipanggil Ci Hoa itu tentang perasaannya setelah kembali ke panti tersebut.
Sebulan lalu, tepatnya pada Minggu (28/12/2025) sekitar pukul 20.25, Panti Wreda Damai yang berlokasi di Kelurahan Ranomuut tiba-tiba dilingkupi kobaran api yang besar. Saat itu, para penghuni panti yang berjumlah 35 orang rata-rata sudah terlelap, sementara warga sekitar panik karena sebaran api tampak tak terkendali.
Berdasarkan keterangan Kepolisian Daerah Sulut, api baru dipadamkan secara menyeluruh sekitar pukul 23.00. Sebanyak 16 orang tewas, 15 orang di antaranya “dalam kondisi sudah tidak bisa dikenali,” sebagaimana disebutkan dalam pernyataan kepolisian.
Ci Hoa tergolong penghuni yang beruntung. Alih-alih berakhir di kantong jenazah, ia mendapati dirinya terbaring di salah satu ranjang di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Sulut. Rupanya, saat itu dia belum tertidur, sehingga bisa segera menyelamatkan diri setelah seorang penjaga panti menggedor kamarnya, seperti dilaporkan Kompas.com.
Malam itu, Ci Hoa tak hanya kehilangan tempat tinggal dan harta benda, tetapi juga belasan kawan. Butuh dua pekan hingga tim identifikasi korban musibah (DVI) Polda Sulut mampu mengenali 13 dari 16 korban, sementara penyebab kebakaran belum diungkap secara jelas ke publik.
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Ci Hoa kembali ke Panti Wreda Damai yang menempati lokasi baru di seberang gedung lama panti yang sudah habis terbakar. Pengurus panti menyewa tempat itu selama tujuh bulan untuk 19 orang penghuni yang tersisa.
“Aktivitas (kami) sehari-hari, bisa olah raga, makan pagi, olah raga… Santai-santai dang di sini,” kata Ci Hoa.
Olva Sumual (76), pengurus Panti Wreda Damai, mengatakan sebagian penghuni panti dirawat di rumah sakit, sementara yang lainnya diungsikan ke keluarganya. Satu persatu penghuni kembali antara 8 dan 14 Januari 2026.
“Semua sudah beraktivitas normal. Mereka (penghuni) berjumlah 19, ada tiga opa dan 16 oma,” kata Olva.
Secara umum, lanjut Olva, keadaan penghuni panti cukup baik. Beberapa dalam kondisi stroke ringan, tetapi ada pula yang masih bisa beraktivitas secara mandiri. Sebagian lagi sudah sangat pelupa karena demensia.
Terlepas dari itu, kata Olva, segala kebutuhan mereka dipenuhi oleh lima petugas yang sudah mulai bekerja sedari pagi. “Ada yang masak, ada yang cuci baju, mandiin mereka. Ada [pekerja] yang tinggal di [panti], ada yang pulang,” ujarnya.
Pascamusibah itu, pemerintah setempat telah menyalurkan berbagai jenis bantuan kepada Panti Wreda Damai. Pemprov Sulut, misalnya, memberikan bantuan sosial sebesar Rp 250 juta.
Wakil Gubernur Sulut Victor Mailangkay mengatakan, pemprov berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara tepat guna, transparan, dan bertanggung jawab demi pemulihan aktivitas panti pascakebakaran. “Bantuan ini diharapkan dapat membantu pemulihan dan memberikan rasa aman bagi para penghuni panti,” ujarnya.
Pemkot Manado juga memberikan bantuan dalam banyak benetuk, seperti sumbangan peti jenazah, layanan mobil ambulans, serta lahan pekuburan di daerah Pandu. Wali Kota Manado Andrei Angouw mengatakan, pendataan korban dan koordinasi antarinstansi berjalan dengan baik.
Sementara itu, kepolisian masih berupaya mengidentifikasi tiga jenazah. Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabiddokkes) Polda Sulut, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) dr Tasrif mengatakan, salah satu korban tidak memiliki data pembanding.
“Mudah-mudahan melalui media, bisa disosialisasikan sehingga yang merasa ada keluarganya yang menjadi korban segera melapor,” kata dia.
Olva mengaku bersyukur atas bantuan yang diberikan banyak pihak. Namun, kini ia berharap bisa menemukan tempat baru secepatnya karena lokasi di Ranomuut sudah terbilang sangat padat. Panti yang berada di bawah naungan Yayasan Persaudaraan Kristen Damai itu memang terletak di dalam gang kecil yang sulit dilalui mobil.
“Dulu waktu bangun bangunan ini tahun 1986, memang belum ada bangunan-bangunan lain. Masih sepi, mobil masih bisa dihitung satu-dua. Sekarang, kan, orang hampir semua sudah ada mobil. Kalau kita mau datang ke sini juga sering kali harus maju mundur karena tempatnya agak sepi,” kata Olva.
Ci Hoa sudah mendengar rencana tersebut, tetapi belum tahu banyak tentangnya. Seperti yang sudah ia sebutkan, ia hanya ingin tenang di masa tuanya. “Yang saya harapkan, semoga tetap enjoy di sini, supaya ke depan lebih baik lagi,” ujar Ci Hoa.





