Sebuah feri yang membawa lebih dari 350 orang dan melayani rute antarpulau di Filipina tenggelam pada 26 Januari pukul 01.50 dini hari di wilayah selatan Filipina. Tim penyelamat sebelumnya menyatakan telah mengevakuasi sedikitnya 215 penumpang dan menemukan 7 jenazah. Data terbaru menunjukkan, dalam insiden feri ini sebanyak 316 orang berhasil diselamatkan, jumlah korban tewas meningkat menjadi 15 orang, dan 28 orang lainnya masih hilang.
EtIndonesia. Menurut laporan Associated Press, Penjaga Pantai Filipina menyatakan bahwa feri penumpang-kargo M/V Trisha Kerstin 3 membawa 332 penumpang dan 27 awak, dan tenggelam dalam perjalanan dari kota pelabuhan Zamboanga menuju Provinsi Sulu dan Pulau Jolo, diduga akibat gangguan teknis.
Komandan Penjaga Pantai Filipina, Laksamana Ronnie Gil Gavan, mengatakan bahwa feri yang membawa lebih dari 300 penumpang tersebut tidak dalam kondisi kelebihan muatan.
Pihak berwenang menyatakan bahwa Penjaga Pantai Filipina dan Angkatan Laut telah mengerahkan pesawat pengintai serta bekerja sama dengan kapal-kapal nelayan sipil untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan secara maksimal, memanfaatkan kondisi cuaca cerah di perairan lepas Provinsi Basilan.
Gubernur Provinsi Basilan, Mujiv Hataman, mengatakan kepada Associated Press di Pelabuhan Isabela bahwa, “Saya menerima 37 orang di pelabuhan ini. Sayangnya, dua di antaranya telah meninggal dunia.”
Hataman membagikan gambar dari lokasi kejadian di Facebook, yang memperlihatkan para penumpang yang selamat diarahkan turun dari kapal. Sebagian mengenakan selimut penghangat, sementara yang lain di evakuasi menggunakan tandu.
Dalam wawancara dengan radio DZBB, Hataman mengatakan bahwa sebagian besar korban selamat berada dalam kondisi baik, namun beberapa penumpang lanjut usia memerlukan bantuan medis darurat. Ia menambahkan bahwa pihak berwenang masih mencocokkan daftar penumpang dan melanjutkan operasi pencarian.
Komandan Penjaga Pantai Distrik Mindanao Selatan, Romel Dua, mengatakan melalui sambungan telepon kepada media bahwa kondisi cuaca relatif tenang, sehingga membantu mempercepat upaya pencarian dan penyelamatan. Saat ini, 28 orang masih dinyatakan hilang.
Dua menambahkan bahwa militer telah mengerahkan pesawat dan kapal untuk membantu operasi pencarian. Penyelidikan telah dimulai guna mengungkap penyebab kecelakaan.
Kecelakaan laut cukup sering terjadi di Filipina akibat badai yang kerap melanda, perawatan kapal yang buruk, praktik kelebihan muatan, serta lemahnya penegakan peraturan keselamatan.
Pada Desember 1987, feri Dona Paz tenggelam setelah bertabrakan dengan sebuah kapal tanker minyak, menewaskan lebih dari 4.300 orang, menjadikannya kecelakaan laut terburuk di dunia pada masa damai. (Hui)



