FAJAR, MAKASSAR — Bursa transfer putaran kedua BRI Super League 2025/2026 menjadi fase penentuan bagi PSM Makassar. Setelah resmi mendatangkan penyerang asing Luka Cumic, manajemen Juku Eja dikabarkan segera melangkah lebih jauh dengan memperkuat sektor yang paling bermasalah musim ini: lini pertahanan.
Nama Dusan Lagator, bek tengah asal Montenegro, mencuat kuat dan disebut tinggal selangkah lagi diperkenalkan secara resmi. Sejumlah sumber menyebutkan, PSM dan pemain berusia 30 tahun itu telah mencapai kata sepakat. Lagator didatangkan dari kompetisi Liga India dan diproyeksikan langsung menjadi solusi di jantung pertahanan Pasukan Ramang.
Jika terealisasi, kehadiran Lagator bukan sekadar tambahan pemain asing. Ini sinyal tegas bahwa PSM mulai bersikap realistis terhadap kondisi internal tim—terutama performa menurun kapten sekaligus bek andalan, Yuran Fernandes.
Jawaban atas Masalah di Jantung Pertahanan
Lima kekalahan beruntun yang dialami PSM bukan datang tanpa sebab. Dalam evaluasi internal dan sorotan publik, kesalahan individual di lini belakang menjadi faktor dominan. Nama Yuran Fernandes pun paling sering disorot.
Sejak ditangani pelatih baru Tomas Trucha, PSM gagal menemukan stabilitas. Alih-alih membaik, pertahanan justru kerap runtuh pada momen-momen krusial. Kesalahan koordinasi, salah antisipasi, hingga keputusan yang terlambat menjadi pola berulang.
Situasi ini membuat kehadiran bek tengah baru menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi opsi tambahan.
Yuran Fernandes di Bawah Sorotan
Isu penurunan performa Yuran Fernandes semakin kuat seiring rumor kepindahannya ke Persebaya Surabaya. Di mata suporter, sang kapten terlihat tak lagi tampil dengan determinasi penuh seperti musim-musim sebelumnya.
Anggota Komunitas VIP Utara (KVU), Sulyadi Abbas, menilai perubahan itu sangat kentara.
“Dalam beberapa pertandingan terakhir, Yuran seperti tidak sepenuh hati bersama PSM. Kesalahan-kesalahan fatal terus berulang dan berujung kekalahan,” ujarnya kepada FAJAR, Senin (26/1/2026).
Padahal, sebelumnya Yuran adalah simbol ketenangan di lini belakang. Duetnya bersama Aloisio Neto Soares pernah membuat publik Makassar merasa aman setiap kali PSM bertahan.
“Kita dulu tenang kalau Yuran main. Sekarang kondisinya berbeda. Kalau memang sudah tidak 100 persen di PSM, lebih baik angkat kaki saja. Jangan sampai mempengaruhi pemain lain,” tegasnya.
Kapten yang Berpengaruh Besar
Sorotan terhadap Yuran bukan semata soal teknis, tetapi juga soal psikologis ruang ganti. Sebagai kapten, sikap dan performanya dianggap sangat menentukan atmosfer tim.
“Kami berharap manajemen dan pelatih bicara dari hati ke hati dengan Yuran. Jangan sampai pemain lain masih semangat, tapi melihat kaptennya setengah hati, akhirnya ikut drop,” tambah Sulyadi.
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Dalam situasi krisis, figur pemimpin di lapangan seharusnya menjadi penopang, bukan sumber keraguan.
Profesionalisme dan Kontrak Harus Dihormati
Pengamat sepak bola nasional Syamsuddin Umar menegaskan bahwa profesionalisme adalah harga mati bagi pemain berstatus profesional.
“Siapa pun pemainnya, ketika sudah terikat kontrak, maka kewajiban harus dijalankan sepenuh hati. Tidak boleh setengah-setengah,” ujarnya.
Jika ada persoalan di luar lapangan, menurut Syamsuddin, jalurnya adalah komunikasi, bukan penurunan performa.
“Kalau ada yang tidak sesuai, bicarakan baik-baik. Jangan sampai berdampak ke performa tim dan merugikan klub,” tegas mantan pemain dan pelatih PSM tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya peran manajemen untuk peka terhadap dinamika ruang ganti. “Semua masalah harus dikendalikan agar target tim tetap terjaga,” tambahnya.
Tak Cukup Satu Pos
Selain bek tengah, PSM Makassar juga masih terus memburu bek kanan. Nama Todor Todoroski memang masuk radar, namun negosiasi disebut belum menemui kata sepakat.
Satu hal yang kini tak terbantahkan: mendatangkan Dusan Lagator saja belum cukup. Namun, kehadirannya bisa menjadi titik balik, sekaligus pesan keras bahwa tidak ada posisi yang benar-benar aman jika performa terus menurun.
Di tengah tekanan suporter dan situasi klasemen yang kian mengkhawatirkan, PSM Makassar tak lagi punya ruang untuk setengah-setengah—baik di lapangan maupun di ruang negosiasi.



