Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo kembali menegaskan, ruang penurunan suku bunga BI Rate masih terbuka lebar untuk tahun ini.
Meskipun, BI telah memangkas suku bunga kebijakan itu sebanyak enam kali atau sebesar 150 basis points sejak September 2024 hingga ke level 4,75% saat ini.
"Suku bunga setelah 6 kali kita turunkan, kami masih punya ruang turunkan suku bunga," kata Perry saat meluncurkan Laporan Perekonomian Indonesia 2025 di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Namun, ia mengingatkan, syarat utama penurunan suku bunga itu ialah inflasi harus tetap terkendali rendah di kisaran target 2,5% plus minus 1%.
"Dengan inflasi yang rendah dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi. Dan kami juga akan terus melakukan ekspansi likuiditas moneter," paparnya.
Perry menegaskan, penurunan suku bunga acuan memang menjadi salah satu kebijakan penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi lebih cepat.
Suku bunga yang rendah akan mendorong perbankan untuk agresif menyalurkan pembiayaan atau kredit. Ia memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2026 akan dikisaran 8-12% dan 2027 menjadi 9-13%. Adapun realisasi pertumbuhan kredit pada 2025 sebesar 9,69%.
"Kami pastikan kawan-kawan perbankan, likuiditas akan lebih dari cukup supaya Anda semua bisa menyalurkan kredit demi sektor riil," papar Perry.
Sebagaimana diketahui, level suku bunga acuan BI Rate yang saat ini bertengger di level 4,75% bukan menjadi yang terendah selama masa kepemimpinan Perry Warjiyo, sebab saat periode Pandemi Covid-19, suku bunga BI Rate ia sempat tetapkan di level 3,5%, teparnya pada Maret 2021-Mei 2022.
(arj/haa)


