Handphone (HP) yang tersimpan di saku kita hari ini bukan lagi sekadar alat komunikasi. Di dalamnya tersimpan dompet digital, album foto keluarga, percakapan pribadi, hingga berbagai rahasia penting kehidupan sehari-hari. Kita hidup, bekerja, dan bertransaksi melalui benda kecil itu, tapi sering lupa menanyakan satu hal mendasar, apakah "pintu digital" di saku kita benar-benar terkunci rapat?
Muhammad Rasyid Sahputra, Head of Research & Development ITSEC Asia, mengatakan di tengah kenyamanan internet yang kian menyatu dengan hidup manusia, ancaman kejahatan siber justru bergerak semakin senyap dan berbahaya. Ia menegaskan internet yang selama ini dicintai telah berubah menjadi ruang yang penuh risiko.
Salah satu contohnya adalah kemunculan malware seperti Klopatra. Virus berbahaya ini mampu menguras rekening bank korban hanya dalam hitungan menit tanpa disadari pemiliknya.
Dalam ekosistem digital saat ini, smartphone justru menjadi pintu masuk utama. Hampir seluruh aktivitas dilakukan lewat perangkat tersebut, mulai dari transaksi keuangan, belanja, hingga layanan kesehatan. Jka ponsel berhasil ditembus hacker, maka seluruh data pribadi pemiliknya ikut terancam.
Namun, ancaman siber tak berhenti pada soal uang. Bagi orang tua, bahayanya bisa jauh lebih mengkhawatirkan. Rasyid menyebut bagaimana judi online, pornografi, hingga iklan tak pantas kini dengan mudah menyusup ke layar gawai anak-anak, bahkan lewat game yang terlihat aman.
"Inilah racun digital. Mereka tidak mengetuk pintu, tapi langsung masuk," ujarnya di sela acara Infinix Smartphone with Pre-Installed Digital Protection Powered by IntelliBroń Aman di Jakarta, Selasa (27/1).
Bahaya terbesarnya adalah sifat ancaman itu sendiri yang tidak kasat mata. Banyak orang masih mengira pencurian data adalah sesuatu yang abstrak, padahal faktanya sangat nyata dan masif.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kebocoran data sering kali terjadi tanpa disadari pemilik perangkat. Rasyid menyoroti fenomena ketika ponsel orang tua dipinjamkan kepada anak, lalu anak tersebut menginstal game sembarangan yang ternyata telah terinfeksi malware. Dalam sekejap, data pekerjaan sang ayah mulai dari akses sistem hingga informasi sensitif bisa dicuri.
“Banyak yang berpikir, ‘data saya cuma segitu, saya bukan siapa-siapa’. Padahal ini bisa jadi gerbang pertama bagi hacker untuk melakukan aksi kejahatan yang lebih besar,” katanya. Rasyid menyebut contoh nyata yang marak terjadi akhir-akhir ini ketika seseorang bisa kehilangan seluruh uang tabungan hanya karena salah mengklik tautan APK berbahaya.
Ironisnya, selama ini solusi keamanan kerap terasa rumit dan membebani. Pengguna diminta memasang antivirus yang terkadang memperlambat ponsel, atau orang tua diharapkan mengawasi layar anak selama 24 jam sesuatu yang nyaris mustahil.
“Kenapa untuk merasa aman kita harus jadi ahli IT? Kenapa melindungi keluarga harus sesulit itu?” ujarnya.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, ITSEC Asia mengusung prinsip bahwa keamanan adalah hak asasi, dan hak asasi tidak boleh dipersulit. Dari situlah mereka mengembangkan solusi bernama IntelliBroń Aman, yang disebut Rasyid bukan sebagai antivirus, melainkan digital bodyguard.
Rasyid menggambarkan cara kerjanya dengan analogi taksi. Tanpa pengaman, pengemudi akan tetap mengantar penumpang ke alamat berbahaya karena tak tahu risikonya. Namun dengan sistem keamanan yang cerdas, tujuan akan dicek terlebih dahulu.
“Kalau alamatnya server malware atau situs penipuan, sistem kami akan menghentikan perjalanan sebelum sampai,” jelasnya.
Alih-alih menunggu virus masuk lalu dipindai, IntelliBroń Aman bekerja dengan memutus komunikasi ancaman. Ketika malware mencoba mengirim data seperti password perbankan ke server hacker, sistem akan langsung memblokirnya.
“Virusnya mungkin ada, tapi dia jadi bisu. Tidak bisa mengirim apa-apa,” kata Rasyid. “Solusi yang kami hadirkan lebih dari sekadar perlindungan finansial, tapi juga dirancang untuk menjaga masa depan anak-anak. Dengan mekanisme yang sama, sistem dapat membersihkan akses internet dari judi online, pornografi, dan konten tidak pantas lainnya.”
Bagi Rasyid, ini bukan hanya soal keamanan siber, tetapi tentang ketenangan pikiran setiap orang tua. Ia menegaskan bahwa melindungi pengguna dari kejahatan digital berarti sekaligus melindungi generasi berikutnya dari ancaman yang tak terlihat. Bagaimanapun, di era digital saat ini handphone menjadi benda penting sekaligus krusial. Sebab, nyaris semua data, rahasia, hingga uang tersimpan di dalamnya.
Terakhir, Rasyid menegaskan bahwa teknologi seharusnya memberdayakan, bukan mengancam. Smartphone hadir untuk membuat hidup lebih baik, dan keamanan digital harus berjalan seiring dengan kemajuan tersebut.





