Reyfan Elcaraka Fahturohman masih berusia empat tahun, namun satu bulan terakhir ini aktivitasnya banyak di SD Negeri Gembongan, Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo.
Reyfan ikut kakaknya, Ariendra Ralea Irgantari (9 tahun), bersekolah karena sang ibu harus menjalani terapi di rumah sakit. Jika tak ikut ke sekolah, dia sendirian di rumah.
Rabu pagi (28/1), Reyfan tampil rapi. Berkemeja dan topi. Dia tampak berbaur dengan teman-teman kakaknya yang sedang mengikuti pelajaran olahraga.
Reyfan mengikuti gerakan demi gerakan pemanasan yang dipimpin salah satu guru. Tak ada rasa canggung dalam diri Reyfan. Beberapa kali dia terlihat tersenyum dan bercanda dengan teman-teman barunya ini.
Keberadaan Reyfan juga tak mengganggu para siswa. Justru mereka tampak senang dengan kehadirannya.
"Setiap hari (sama adik ke sekolah). Soalnya mama radioterapi. Sudah hampir satu bulan (adik ikut)," kata Lea ditemui di sekolahnya.
Lea merasa kehadiran adiknya tak merepotkan. Dia justru malah senang Reyfan bisa ikut ke sekolah.
Siswa kelas 3 ini bercita-cita menjadi dokter. Lea ingin dirinya bisa menyembuhkan orang-orang yang sakit. Kelak Lea juga ingin memiliki rumah sakit sendiri.
"Mau (jadi) dokter. Pengin mengobati orang," katanya.
Kata Kepala SekolahKepala SD Negeri Gembongan, Pri Hastuti Komarul, bercerita ibunya Lea mengalami sakit kanker payudara, sehingga membutuhkan terapi selama enam bulan. Ibu Lea merupakan orang tua tunggal.
"Ketika ibunya (Lea) ini mau berangkat kemoterapi dia kerepotan untuk membawa dua putranya yang masih kecil-kecil. Jadi Mbak Lea ini punya adik dua, yang satu balita, yang satu masih batita," kata Pri Hastuti.
Lea sempat diminta ibunya untuk menjaga Reyfan di rumah saja. Lea tak mau, karena dia takut ketinggalan pelajaran.
"Terus, ibunya ke sekolah, datang ke sekolah memohon izin kepada saya, 'Ibu, bolehkah Lea berangkat ke sekolah membawa adiknya karena saya kerepotan membawa dua anak kecil saya ketika harus terapi di rumah sakit?' Saya bilang, 'Boleh, Ibu, silakan.' Dan kami memang mengizinkan Mbak Lea untuk nanti membawa adiknya ke sekolah," katanya.
Pri Hastuti memberikan izin ini atas pertimbangan kemanusiaan dan membantu meringankan beban Ibu Lea agar bisa menjalani terapi dengan lancar. Kedua, apa yang dilakukan Lea ini justru sebuah pembelajaran dan menumbuhkan karakter yang positif bagi siswa lain.
"Pertimbangan kami yang pertama dari sisi kemanusiaan kami bisa membantunya baru sampai taraf itu. Dan yang kedua juga untuk pendidikan karakter, pendidikan karakter positif bagi anak-anak kami semua," jelasnya.
Pri Hastuti mengatakan ibu Lea selama ini bekerja sebagai buruh harian lepas. Kadang dia juga membuat makanan untuk dijual.
Lea membawa adiknya ke sekolah sejak semester lalu. Awalnya Lea seminggu dua kali mengajak adiknya ke sekolah.
"Semester ini sudah semakin sering. Jadi ini minggu ketiga Mbak Lea membawa adiknya hampir setiap hari karena memang kebetulan ibunya juga harus semakin rajin untuk di jadwal terapinya," katanya.
Ibu Lea menjalani terapi di Rumah Sakit Hardjolukito di Bantul yang jaraknya jauh dari sini.
Selama Lea berjalan di kelas, Reyfan diberi kegiatan seperti mewarnai dan bermain.
"Dan sama sekali tidak mengganggu kegiatan pembelajaran di kelas lain," katanya.
Lea Sosok BerprestasiLea menurut Pri Hastuti salah satu siswa berprestasi sejak kelas 1. Secara akademik bagus dan secara sosial juga bagus.
"Kemauan belajarnya tinggi. Dan ketika saya tanya cita-citanya, itu, "Saya mau jadi dokter. Saya mau punya rumah sakit sendiri". Tahun ini kami mengikuti festival literasi Kulon Progo dan kelas 3 saya yang mengampu, itu saya baca semua ceritanya anak-anak. Itu memang Mbak Lea ini di cerita yang dikirimkannya dia bercita-cita menjadi seorang dokter. Ingin memiliki rumah sakit sendiri sehingga dia bisa membantu semua orang yang membutuhkan," katanya.
Lea tinggal bersama ibu dan dua adiknya di daerah Klebakan sekitar 1 kilometer dari sekolah. Biasanya Lea berangkat dari rumah dengan membonceng adiknya dengan sepeda. Kemudian sepeda dititipkan di rumah teman sekelasnya bernama Indri.
"Terus mereka bertiga kadang diantar bapaknya Indri, kadang jalan kaki. Bertiga, kalau pulang, mereka jalan kaki sampai rumahnya Indri, terus nanti pulangnya dari rumahnya Indri naik sepeda lagi sampai ke rumah," katanya.





