Skenario Terburuk dari Warning MSCI: Pasar RI Bisa Turun Kasta ke Frontier

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait hasil konsultasi mengenai perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float dinilai berpotensi menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Frontier Market atau Pasar Perbatasan merujuk pada kategori pasar saham negara berkembang tahap awal yang lebih kecil, kurang likuid, dan berisiko lebih tinggi. 

Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su mengatakan, perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float yang disampaikan MSCI dapat membuat pasar Indonesia turun kelas di indeks global tersebut.

“Ini adalah penilaian saya mengenai skenario terburuk bagi Indonesia menyusul pengumuman terbaru dari MSCI. Jika Indonesia diturunkan statusnya dari Emerging Market menjadi Frontier Market, saya meyakini arus keluar dana (fund outflow) akan sangat besar,” kata Harry kepada wartawan, Rabu (28/1).

Dia menjelaskan, saat ini, total dana investasi yang mengacu pada indeks MSCI Indonesia mencapai sekitar US$ 120 miliar. Sementara investasi terbesar di indeks MSCI Frontier saat ini adalah Vietnam, dengan nilai kurang dari US$ 60 miliar. Artinya, secara agregat Indonesia berpotensi mengalami arus keluar dana asing lebih dari US$ 60 miliar.

“Angka ini sangat besar dan sulit dibayangkan,” kata dia. Menurut Harry, nilai US$ 60 miliar tersebut setara dengan sekitar 30% dari total free float pasar saham Indonesia.

Masalah utama yang disoroti adalah kejelasan kepemilikan saham. MSCI menggunakan istilah opacity atau kurangnya transparansi untuk menggambarkan persoalan ini. Mereka menuntut adanya transparansi yang lebih baik dalam struktur kepemilikan saham.

Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan mulai dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Danantara, hingga emiten perlu bekerja sama secara erat untuk menciptakan struktur kepemilikan saham yang baru, jelas, dan mudah diakses.

“Kita memiliki waktu sekitar empat bulan sebelum potensi eksodus dana benar-benar terjadi, dan saya rasa tidak ada pihak di Indonesia yang menginginkan skenario tersebut terwujud. Sudah saatnya dibentuk satuan tugas khusus oleh regulator terkait untuk segera menangani persoalan ini,” kata dia.

Adapun MSCI mengumumkan akan membekukan saham Indonesia, baik dalam rebalancing maupun penambahan bobot dalam indeksnya. Imbasnya, tidak akan terjadi peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) saham-saham RI di MSCI.

Selain itu, tidak akan ada penambahan saham Indonesia ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta penghentian migrasi naik antarsegmen indeks ukuran, termasuk perpindahan dari Small Cap ke Standard Index.

Hal senada juga disampaikan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta. Dia menyatakan  BEI, OJK, dan KSEI dapat segera berkoordinasi  secara intensif agar meningkatkan transparansi pasar dan meredam sentimen negatif. 

"Perlu adanya koordinasi antara BEI, OJK, dan MSCI. Pastinya juga MSCI akan terus memantau pengembangan new market Indonesia," kata Nafan.  

Menurut dia, jika otoritas telah melakukan koordinasi secepat mungkin, maka diharapkan  sentimen negatif tersebut akan mereda. 

Terkait arah pergerakan IHSG, dia menilai secara teknikal pergerakan indeks sejatinya masih berada dalam tren naik sebelum adanya pengumuman terbaru dari MSCI. Menurut dia, indikator teknikal IHSG sebelumnya masih menunjukkan posisi yang relatif kuat, dengan indeks bergerak di atas level rata-rata tertentu. 

Namun, tren tersebut mulai mengalami tekanan setelah munculnya dinamika terkait pengumuman MSCI, khususnya setelah lembaga pengelola indeks global itu merampungkan konsultasi mengenai penilaian free float saham Indonesia.

Nafan menjelaskan, salah satu persoalan utama yang disorot investor global adalah rendahnya porsi saham publik atau free float di pasar Indonesia. Selain itu, terdapat perbedaan standar antara metodologi MSCI dan data yang digunakan oleh KSEI, yang memicu kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham. 

“Investor global sangat menekankan aspek transparansi, terutama terkait struktur kepemilikan saham. Jika free float ingin ditingkatkan, maka partisipasi publik juga harus benar-benar diperbesar,” ujarnya. 

Ia menambahkan, kekhawatiran tersebut semakin relevan di tengah isu potensi penurunan klasifikasi Indonesia menjadi Frontier Market. Menurut Nafan, status pasar itu memiliki risiko yang lebih tinggi dengan tingkat likuiditas yang lebih rendah dibandingkan Pasar Berkembang (Emerging Market).

Dengan turunnya status Indonesia ke kelas frontier maka saham-saham yang paling terdampak adalah saham-saham dengan bobot terbesar di MSCI saat ini.

Daftar 10 Emiten Indonesia dengan bobot saham paling besar dalam indeks MSCI Indonesia:

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 22,55%
  2. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 12,56%
  3. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 9,58%
  4. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar 8,68%
  5. PT Astra International Tbk (ASII) sebesar 6,83%
  6. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 5,09%
  7. PT Amman Mineral International Tbk (AMMN) sebesar 4,69%
  8. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 3,92%
  9. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar 3,86%
  10. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 3,28%

(Sumber: web MSCI)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Miles Films Rayakan 30 Tahun Musik Film Lewat Pameran di Lokananta Surakarta
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Travis Scott Muncul di Teaser Terbaru Film The Odyssey, Jadi Siapa?
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Pimpinan Komisi X: Hitungan Kami, Gaji Guru Honorer Minimal Rp 5 Juta per Bulan
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Atap Balai Pedukuhan dan Rumah Warga di Gunungkidul Rusak akibat Gempa Bantul
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Tren Mabuk Gas Tertawa Whip Pink, Ternyata Bahayanya Luar Biasa
• 22 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.