KKP: 19 Unit Kampung Nelayan Merah Putih Sudah Beroperasi

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat sebanyak 19 unit Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) telah selesai dibangun dan sudah beroperasi penuh.

Pada tahap I pembangunan KMNP ini, pemerintah menargetkan sebanyak 65 KMNP telah terbangun pada Mei 2026. Target ini mundur dari sebelumnya dibidik pada Desember 2025.

Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Humas dan Komunikasi Media, Doni Ismanto mengatakan dari 65 unit KMNP yang akan dibangun 19 unit rampung dan sisanya masih dalam proses pembangunan dengan progres 80 persen.

“Yang sudah 100 persen itu ada 19, 19 titik. Dan sekarang yang 65 itu rata-rata udah hampir, selain dari 19 yang sudah 100 persen itu rata-rata udah sampai 80-an persen,” kata Doni dalam konferensi pers di Kantor Kelautan dan Perikanan, Rabu (28/1).

19 KMNP yang sudah rampung tersebut di antaranya ada di Toli-Toli Sulawesi Tengah, Bumiharjo Jawa Tengah, Pujiharjo Jawa Timur, Labetawi Maluku, Gebang Mekar Jawa Barat, Karang Duwur Jawa Tengah dan Poncosari Yogyakarta.

Pembangunan KMNP Terkendala Cuaca

Doni mengatakan pembangunan KMNP tahap I ini akan dikejar sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Hanya saja saat ini masih terkendala dengan cuaca ekstrem.

“Kita kan kejar, dikebut lah ya. Kan tapi cuaca kayak gini juga, di beberapa titik itu ya cuacanya juga kayak di Jakarta juga. (Kendalanya) ada cuaca, ada masalah akses ke sana buat bawa barang dan sebagainya,” ujarnya.

KKP Bawa KMNP ke Davos

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membawa program Kampung Nelayan Merah Putih (KMNP) ke panggung global dalam World Economic Forum (WEF) Annual Meeting di Davos, Swiss.

Program tersebut disampaikan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam pidatonya di hadapan para pemimpin dunia dan pelaku ekonomi global. Menurut dia, isu kemaritiman menjadi salah satu poin penting yang diangkat Presiden dalam pidato berdurasi hampir 40 menit tersebut.

“Pak Prabowo selain beliau berbicara tentang Prabowonomics, itu menyinggung juga isu kemaritiman. Pertama pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, beliau menyebutnya Kampung Nelayan Modern, memodernisasi kehidupan masyarakat pesisir dan itu memang menjadi tanggung jawab KKP,” katanya.

Doni menambahkan, kehadiran Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono di WEF tahun ini merupakan yang pertama, dengan agenda yang padat mulai dari forum utama, side event, hingga pertemuan bilateral dengan tokoh-tokoh global.

“Bisa dikatakan ini adalah WEF pertama bagi Pak Menteri Kelautan dan Perikanan. Agendanya memang padat, mulai dari opening remarks, side event, sampai pertemuan bilateral,” jelas Doni.

Selain KMNP, Presiden Prabowo juga menyinggung rencana penyelenggaraan Ocean Impact Summit (OIS) di Bali pada Juni 2026. Forum tersebut diharapkan menjadi ajang lanjutan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam isu kelautan dan ekonomi biru di tingkat global.

“Pak Prabowo menyinggung akan diselenggarakannya Ocean Impact Summit di Bali nantinya,” kata Doni.

KKP menilai, momentum WEF Davos dimanfaatkan tidak hanya untuk memperkenalkan kebijakan nasional, tetapi juga untuk membangun jejaring internasional dan memperkuat narasi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan potensi ekonomi kelautan yang besar.

Indonesia Jualan Blue Economy di Davos, Bidik Investor Global

Indonesia juga memanfaatkan WEF sebagai ajang untuk mempromosikan ekonomi biru (blue economy) sekaligus membidik investor global di sektor kelautan dan perikanan.

Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut, Hendra Yusran Siri, mengatakan tema kelautan dan air menjadi salah satu fokus utama WEF tahun ini melalui konsep Blue Davos, seiring meningkatnya perhatian dunia terhadap isu perubahan iklim, pangan, dan keberlanjutan.

Dia menyinggung tingginya nilai ekosistem perairan yang sebesar USD 58 triliun atau setara dengan Rp 968.368 triliun (kurs Rp 16.696 per dolar AS).

“Dan ada 1,8 miliar penduduk dunia yang terpapar risiko banjir di sini, kemudian kita juga kehilangan sumber air tawar hampir 75 persen dan sekali lagi juga nilai dari ekosistem perairan ini juga sangat besar mencapai USD 58 triliun tapi investasinya baru sekitar 2 sampai 3 persen,” katanya.

Menurut Hendra, ada tiga pilar utama, yaitu pengelolaan dan keamanan air, pangan biru sebagai sumber pangan masa depan, serta perlindungan laut dan penguatan ekonomi biru. Ketiga isu tersebut dinilai relevan dengan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Mensesneg Prasetyo: Hari Ini Presiden akan Lantik Dewan Energi Nasional
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Sukses Transformasi Digital Bawa PERURI Raih Penghargaan Best Digital Innovation Award di Awal Tahun 2026
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Tekan Impor BBM, Prabowo Targetkan Cadangan Energi Nasional Naik ke 3 Bulan
• 8 jam lalumatamata.com
thumb
Bak Firasat, Dedi Mulyadi Sudah Pesan 1000 Nasi Boks Sebelum Longsor Cisarua Terjadi
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Tes Kepribadian: Warna Pertama yang Dilihat Ungkap Kekuatan Inti Dirimu
• 14 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.