Viral Bayi 9 Bulan dengan Wajah Bak Boneka: Kondisi Langka, Kraniosinostosis

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Baru-baru ini, kisah seorang bayi berusia 9 bulan bernama Rana menjadi sorotan publik dan viral di media sosial. Melalui akun TikTok @mamanyarana, sang ibu, Vina Dorika, beberapa kali membagikan perkembangan kondisi buah hatinya yang tengah berjuang melawan penyakit langka.

Rana, bayi asal Jawa Timur itu didiagnosis mengalami kraniosinostosis, yaitu kondisi langka ketika tulang tengkorak menutup terlalu dini. Kondisi ini menghambat tumbuh kembang Rana. Di usianya yang hampir 10 bulan, Rana belum bisa mengangkat kepala.

Saat ini, Vina menyebut, Rana sedang fokus pada pengobatan untuk mengurangi frekuensi kejangnya. Rana yang sebelumnya setiap hari bisa kejang hingga 50 kali dengan durasi sekitar 10 menit setiap kejang, kini frekuensinya mulai menurun sekitar 20 kali setiap hari dengan durasi kejang 2-3 menit.

Apa Itu Kraniosinostosis?

Dokter Spesialis Anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K), menjelaskan bahwa saat bayi lahir, lempeng-lempeng tulang tengkorak di kepala belum menyatu secara sempurna. Masih terdapat celah atau ubun-ubun yang berfungsi memberikan ruang bagi otak untuk tumbuh seiring bertambahnya usia.

Namun, pada kraniosinostosis, lempeng-lempeng tulang tengkorak tersebut menutup lebih cepat dari seharusnya. Akibatnya, pertumbuhan otak bayi dapat terhambat dan bentuk kepala berisiko menjadi tidak simetris atau tampak peyang.

Padahal, hingga usia dua tahun, sekitar 70-80 persen pertumbuhan otak bayi terjadi pada masa ini. Jika tulang tengkorak sudah menutup terlalu dini, saat otak terus membesar akan terjadi desakan di dalam kepala.

 “Nah ini yang bisa menimbulkan potensi berbahaya, terjadi peningkatan tekanan di otaknya, selain tadi bentuk kepalanya yang jadi peyang,” ucap dr. Reza kepada kumparanMOM, Selasa (27/1).

Tanda dan Penanganan Kraniosinostosis

Menurut dr. Reza, salah satu tanda yang sering ditemukan adalah ubun-ubun yang menutup terlalu cepat. Selain itu, dokter juga akan memantau lingkar kepala bayi. Jika lingkar kepala terukur lebih kecil dari normal dan ubun-ubun sudah menutup dini, anak perlu segera dikonsultasikan ke dokter saraf anak serta dokter bedah saraf.

Pada sebagian kasus kraniosinostosis, tindakan operasi memang diperlukan. Operasi bertujuan untuk memperbaiki posisi tulang tengkorak agar bentuk kepala lebih proporsional, sekaligus memberikan ruang optimal bagi pertumbuhan otak. Dengan begitu, risiko peningkatan tekanan di dalam otak dapat diminimalkan.

“Karena kalau kita ibaratkan tempurung, dalamnya itu bertambah besar, tapi tempurungnya itu sudah fix. Maka kan ini yang bisa menyebabkan tekanan tinggi. Harusnya kan dia ngikut pertumbuhannya, ngikut ukuran tengkoraknya, ngikut ukuran perkembangan otak yang normalnya. Nah itu yang terjadi,” tegasnya.

Terkait penyebab, kraniosinostosis dapat terjadi secara acak atau spontan. Meski demikian, ada pula kasus yang dipengaruhi oleh faktor genetik, serta faktor lain yang bersifat multifaktorial.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Skenario Terburuk dari Warning MSCI: Pasar RI Bisa Turun Kasta ke Frontier
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
270 Ide Nama Bayi Laki-laki Huruf J Modern, Maknanya Bagus!
• 3 jam lalutheasianparent.com
thumb
Dolar AS Turun Tajam, Trump Tak Khawatir
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Temui Dubes Belanda, Wali Kota Solo Minta Artefak Museum Radya Pustaka Dikembalikan
• 9 jam lalumerahputih.com
thumb
KPK Ungkap Tertibkan Aset Pemda Rp122,10 Triliun Selama 2025
• 2 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.