Festival Harmoni Imlek Nusantara akan digelar sebagai perayaan Imlek berskala nasional yang mengusung nilai kebhinekaan dan inklusivitas. Hal tersebut disampaikan oleh ketua Umum Panitia Imlek Nasional Irene Umar dalam konferensi pers di Kompleks Kantor Wapres, Jakarta Pusat, Rabu (28/1).
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif itu juga menjelaskan logo, filosofi, dan rangkaian acara festival yang dirancang berlangsung sejak 17 Februari hingga puncaknya pada 28 Februari 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
“Tujuan kita bikin ini sebenarnya supaya ini bisa jadi event tahunan. Supaya orang-orang enggak usah ke luar negeri tapi di Indonesia sendiri bisa menikmati Imlek yang sangat meriah,” kata Irene.
Menurut Irene, perayaan ini juga menjadi sarana untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia merupakan negara yang inklusif.
“Dan juga bisa menunjukkan kepada seluruh dunia, Indonesia adalah negara yang paling inklusif. Di mana Ramadan dan Imlek dirayakan bersamaan dengan damai sejahtera dan semuanya happy,” ujarnya.
Filosofi Logo Kuda ApiIrene menjelaskan, logo Harmoni Imlek Nusantara menampilkan sosok kuda yang dirancang dengan identitas Indonesia yang kuat. Pada bagian rambut kuda, terdapat bentuk yang mengingatkan pada kuda lumping, serta warna merah putih sebagai simbol kebangsaan.
“Mungkin kalau teman-teman ngelihat di rambutnya si kuda itu udah langsung keingat kuda lumping kan? Itu Indonesia banget kan,” ujar dia.
Ia menambahkan, warna merah putih pada rambut kuda dimaknai sebagai pengingat akan identitas nasional.
“Untuk mengingatkan kita bahwa mahkotanya kita itu adalah bendera Merah Putih,” imbuhnya.
Elemen mata api pada kuda juga memiliki makna khusus.
“Matanya itu adalah matanya api. Api itu mengobarkan semangat. Dan kebetulan tahun ini adalah tahun Kuda Api,” tutur Irene.
Sementara itu, bagian mulut dan kaki kuda melambangkan pengendalian diri dan kebijaksanaan.
“Di mulutnya itu kita berarti harus sangat penuh dengan wisdom pada saat kita berbicara,” jelas Irene.
Irene menambahkan bahwa meskipun kuda melambangkan energi besar, setiap langkah tetap harus terkontrol.
“Setiap steps adalah penuh makna dan penuh wisdom yang terkontrol supaya arahnya menuju ke arah Indonesia Emas tentunya,” katanya.
Logo tersebut juga memuat unsur Batik Banji, Batik Pucuk Rebung, serta bunga batik. Irene menjelaskan bahwa kedua batik itu merupakan batik pesisir, sementara bunga batik di kaki kuda menjadi pengingat nilai kemanusiaan.
“Supaya pada saat kita melangkah, kita tetap akan ingat dengan kebudayaan kemanusiaannya kita,” ujarnya.
Rangkaian Festival dan Nilai KebhinekaanIrene menuturkan bahwa Harmoni Imlek Nusantara dirancang untuk menegaskan semangat Bhinneka Tunggal Ika, terlebih karena Imlek, Cap Go Meh, dan Ramadan saling beririsan.
“Maka dari itu kita mencanangkan ada lima core di sana,” kata Irene.
Lima pilar tersebut meliputi berdoa, silaturahmi, beramal melalui donasi, kuliner sebagai pemersatu, serta ruang publik yang dapat dinikmati semua kalangan.
Salah satu simbol persatuan yang dihadirkan adalah kuliner.
“Di tengah-tengah nanti kita akan canangkan makan ketupat Cap Go Meh. Supaya bisa menjadi satu persatuan lah yang dilihat dari sebuah kuliner,” ujar Irene.
Puncak acara festival akan digelar di Lapangan Banteng pada 28 Februari, yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.
“Di sanalah kita melihat bahwa ini perdamaian Bhinneka Tunggal Ika-nya terjadi,” ucapnya.
Donasi dan Dampak SosialSelain perayaan budaya, Harmoni Imlek Nusantara juga mengusung program donasi bertajuk Berbagi Cahaya. Irene menjelaskan bahwa donasi tersebut akan disalurkan ke empat kategori utama.
“Donasi Berbagi Cahaya ini adalah malam amal, alokasi donasinya kita bagi sebagai empat kategori dan monitor bersama secara terbuka dan tepat sasaran,” kata Irene.
Ia menyebutkan bahwa fokus festival ini adalah menciptakan dampak nyata melalui pendidikan vokasi, infrastruktur produktif, ketahanan masyarakat dan fasilitas publik, serta jaring pengaman sosial.
“Kita akan memberikan beberapa sembako bantuan ya untuk ke tempat-tempat bencana, supaya keempat ini terdistribusi dengan proper,” sambung Irene.




