EtIndonesia. Suatu hari, di sebuah meja jamuan minum, ketika suasana mulai hangat dan wajah-wajah memerah karena pengaruh alkohol, seorang pria melontarkan celetukan setengah bercanda:
“Menggenggam tangan wanita penghibur, rasanya seperti kembali ke usia delapan belas atau sembilan belas tahun; menggenggam tangan adik ipar, menyesal dulu pernah salah menggenggam tangan; menggenggam tangan kekasih, terasa aliran hangat mengalir ke hati; menggenggam tangan teman perempuan semasa sekolah, menyesal dulu tidak berani melangkah; tapi menggenggam tangan istri… rasanya seperti tangan kiri menggenggam tangan kanan.”
Orang-orang di meja pun tertawa.
Namun, seorang wanita paruh baya yang sedari tadi diam, tiba-tiba angkat bicara:“Ungkapan ‘tangan kiri menggenggam tangan kanan’ itu justru sangat tepat.”
Suasana mendadak hening. Semua mata tertuju padanya.
Wanita itu melanjutkan dengan tenang: “Menggenggam tangan orang lain—entah itu memabukkan atau mengguncang jiwa—setelahnya bisa saja dilepaskan dan dibuang.
Tetapi tangan kiri atau tangan kanan, jika salah satunya hilang, hidup pun akan pincang selamanya.”
Seseorang yang masih memiliki kedua tangannya dengan utuh, jika memandang pernikahan dan hidup dengan sikap seperti ini, sejatinya menyimpan sebuah kebanggaan yang sunyi di dalam dirinya.
Karena hanya ketika seseorang kehilangan salah satu tangannya, barulah dia sungguh-sungguh memahami betapa berharganya menggenggam tangan kiri dengan tangan kanan.
Saat seseorang tanpa sadar menggenggam tangan kirinya dengan tangan kanan, akan muncul rasa memiliki yang alami—sebuah rasa aman dan kepenuhan yang nyata, bukan semu.
Pernikahan yang seperti “tangan kiri menggenggam tangan kanan” memiliki ketenangan yang panjang dan jernih, bagaikan air musim gugur yang mengalir tanpa riak.
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, orang-orang di dalam pernikahan akan mengalami berbagai ketidakberdayaan dan kebingungan. Sudut-sudut tajam kepribadian perlahan terkikis, dan gairah pun memudar.
Namun perasaan yang tersembunyi di lipatan-lipatan pikiran, yang melekat di rambut yang mulai memutih, justru tetap mampu menyentuh hati dan memikat jiwa.
Tangan siapa pun, setelah ditempa oleh badai usia dan kerasnya waktu, lambat laun akan kehilangan daya tarik yang dulu pernah dimilikinya.
Pada dasarnya, perjalanan dari cinta bebas menuju pernikahan adalah proses dari gemerlap menuju kesederhanaan. Yang tersisa hanyalah hari-hari biasa—hari-hari seperti tangan kiri menggenggam tangan kanan.
Mungkin tidak lagi mendebarkan, tidak lagi romantis, tetapi jauh lebih nyata dan dapat diandalkan dibandingkan “menggenggam tangan orang lain”.
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang pria hanya akan merasa tenang dan akrab terhadap istrinya apabila dia telah menyiapkan perasaan seperti tangan kiri menggenggam tangan kanan.
Sesungguhnya, para pria pun paham:“Menggenggam tangan wanita penghibur itu mahal,
menggenggam tangan kekasih itu melelahkan.”
Hanya tangan istri yang setia menemani—dalam kegagalan maupun keberhasilan—yang akan tanpa syarat memberikan kelembutan seumur hidup.
Dan ketika suatu hari segalanya telah berlalu, ketika kabut kehidupan telah menghilang, jika seorang pria dan wanita masih mampu saling menggandeng tangan hingga akhir perjalanan hidup, maka itu bukan lagi sekadar kesederhanaan.
Itulah keindahan hidup yang abadi, tak lekang oleh waktu.
Renungan / Hikmah Cerita
Kata-kata bisa diucapkan oleh siapa saja, tetapi tidak semua orang mampu mengucapkannya dengan bijak. Banyak orang, jika mendengar pasangan atau lawan jenis berkata seperti itu, mungkin akan langsung membantah—dan pertengkaran pun tak terelakkan.
Namun mampu merespons dengan cara yang ringan, menenangkan, dan penuh makna, bukan hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga kecerdasan emosional (EQ) yang tinggi.
Menggenggam tangan kiri dengan tangan kanan memang terlihat biasa, bahkan membosankan. Namun justru di sanalah tersembunyi kebahagiaan yang paling berharga.(jhn/yn)





