Bank Indonesia (BI) berkomitmen akan terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui sejumlah bauran kebijakan, seperti moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, dan ekonomi kerakyatan.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan kebijakan makroprudensial akan tetap longgar pada tahun 2026-2027 mendatang untuk mendukung stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
Mengutip bi.go.id, kebijakan makroprudensial adalah kebijakan Bank Indonesia yang ditetapkan dan dilaksanakan guna turut menjaga stabilitas sistem keuangan.
Perry menambahkan, untuk menjaga perekonomian nasional butuh adanya sinergi dari pemerintah, lembaga keuangan, maupun dunia usaha. Komitmen BI sendiri yakni merumuskan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"Kami akan pastikan stabilitas, khususnya nilai tukar, kami akan bawa jaga stabilitas dan akan terus kami dorong untuk menguat rupiah kita," jelasnya saat Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2025, Selasa (28/1).
Buka Peluang Pangkas Suku Bunga 2026
Dari sisi kebijakan moneter, BI sudah menurunkan suku bunga acuan alias BI Rate sebanyak 6 kali sejak September 2024. Sepanjang 2025, penurunan suku bunga dilakukan 5 kali dengan total 125 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen.
Bank Indonesia disebut masih membuka peluang akan ada penurunan suku bunga kembali pada tahun ini, meskipun tidak menyebutkan akan dilakukan berapa kali seiring dengan pergerakan laju inflasi.
"Setelah enam kali kita turunkan sejak September 2024, kami masih punya ruang untuk menurunkan suku bunga dengan inflasi yang rendah dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi, dan kami juga akan terus melakukan ekspansi likuiditas moneter," ungkap Perry.
Perry juga memastikan kondisi likuiditas akan terjaga lebih dari cukup agar perbankan dapat menggencarkan penyaluran kredit demi pertumbuhan sektor riil. Sama halnya dengan ketahanan eksternal melalui kecukupan cadangan devisa.
Saat ini, lanjut dia, cadangan devisa Indonesia berada di level USD 156,5 miliar. BI akan terus menjaga bahkan meningkatkan cadangan devisa demi memastikan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
"Jadi kebijakan moneter tagline-nya adalah pro-stability and pro-growth. Stability, nilai tukar kami akan jaga stabil dan menguat, dan pro-growth melalui kebijakan suku bunga rendah, ekspansi likuiditas dan juga kecukupan cadangan devisa," jelas Perry.
Sementara dari sisi kebijakan makroprudensial, BI terus berkomitmen bahwa kebijakannya akan terus dilonggarkan. Untuk mendukung likuiditas perbankan, BI salah satunya akan terus menyalurkan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
"Akan kami longgarkan tahun ini bahkan tahun depan. Jangan khawatir, jangan pernah bertanya. Kebijakan makroprudensial akan terus kami longgarkan untuk mendorong pertumbuhan kredit pembiayaan bagi sektor riil," tegas Perry.
Perry menjelaskan, KLM akan terus diberikan bagi perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor riil, program prioritas, serta bagi bank yang berlomba-lomba menurunkan suku bunga kredit.
"Demikian juga kebijakan-kebijakan makroprudensial yang lain. Kami akan terus, stand-nya adalah longgar tahun ini maupun tahun depan. Penyangga likuiditas makro prudensial, RIM, ratio intermediasi makro prudensial," imbuhnya.
Di sisi lain, BI juga akan terus mengarahkan kebijakan makroprudensial untuk mendorong inklusi ekonomi, UMKM, ekonomi kerakyatan, termasuk mendukung program Asta Cita pemerintah. Terakhir, BI juga berkomitmen memperkuat sistem pembayaran.
"Kami terus akan digitalisasi Indonesia dan cross-border melalui konsolidasi industri. Demikian juga untuk kami dorong untuk pengembangan infrastruktur, BI Fast. Demikian juga kita bangun inovasi," tutur Perry.





