Implementasikan Energi Terbarukan, KPBS Pangalengan Tekan Biaya Produksi Susu Sapi Hingga 17%

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BANDUNG— Koperasi Peternak Sapi Bandung Selatan (KPBS) di Pangalengan, Jawa Barat, berhasil memangkas biaya operasional produksi susu hingga rata-rata 17% per bulan setelah mengimplementasikan teknologi Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam enam bulan terakhir. 

Peralihan energi ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dalam memproduksi susu yang, selama ini masih mengandalkan bahan bakar solar. 

Ketua KPBS Pengalengan, Aun Gunawan mengatakan, intervensi teknologi ini memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi biaya produksi susu. 

“Dampak kepada peternak jelas ada, karena penerimaan susu itu juga memerlukan biaya, dengan adanya ini penghematan biaya juga luar biasa. Kalau ini mungkin sekitar 17% yang baru satu MCP (Milk Collecting Point) ya,” jelasnya, baru-baru ini.

Dia mengatakan, memang sudah sejak lama pihaknya ingin bergerak menuju industri berkelanjutan. Terlebih, limbah dari peternakan sapi ini menjadi sorotan meskipun pihaknya terus berupaya meminimalisasi itu.

“Sekarang kan feses sapi ini didorong untuk dioptimalkan jadi bio gas, sekarang kita lagi cari bagaimana skema terbaiknya,” ungkap Aun.

Aun menjelaskan, program ini sudah diimplementasikan sejak enam bulan lalu dengan harapan industri susu sapi ini bisa berkelanjutan.

Nantinya, ia juga akan mendorong implementasi ini bisa diterapkan di semua lini produksi. Sehingga industri susu sapi bisa terus berkembang.

“Untuk sekarang penerapan baru di sisi produksi di KPBS Pengalengan, nanti siapa tahu bisa diterapkan di peternak,” jelasnya.

Pihaknya menjelaskan penggunaan teknologi MCP atau tempat penampungan susu lainnya. Pemasangan teknologi efisiensi energi juga akan dilengkapi pada pendinginan susu agar penggunaan listrik dapat ditekan hingga 50%-70% dari pemakaian normal.

Saat ini, ia menjelaskan, KPBS Pangalengan sudah berkolaborasi dengan 2.100 peternak di dua kecamatan dengan total populasi 16.000 sapi. Pihaknya saat ini mampu menampung 80 ton susu per hari.

“Sebenarnya ini masih ada gap antara permintaan dan pasokan, tapi kita sekarang mengoptimalkan yang ada saja dulu,” jelasnya.

Sementara itu, inisiator implementasi transisi energi baru terbarukan di industri produksi susu sapi, Ahmad Muzaki Syafii sekaligus Energy Transition Project Lead WRI Indonesia menjelaskan peralihan penggunaan energi baru terbarukan merupakan tren yang saat ini terjadi di dunia.

“Latar belakangnya, tentu saja kita melihat tren global. Salah satunya bahwa transisi ke energi terbarukan itu menjadi sesuatu hal yang penting. Kami ingin melihat bahwa sektor hulunya juga terlibat dalam transisi energi,” ujar perwakilan WRI Indonesia.

Ahmad mengemukakan teknologi EBT yang diterapkan di KPBS Pangalengan mencakup dua sektor. Pertama, teknologi variable speed drive (VSD) atau pengatur kecepatan inverter di pusat tempat susu koperasi peternak (PTSKP) untuk mengatur kecepatan tenaga chill water pump, sehingga tidak bekerja penuh terus menerus. 

Kedua, solar water heater (SWH) atau Pemanas Air Tenaga Surya yang dipasang di Los Cimau, menargetkan efisiensi energi untuk pemanas air yang sebelumnya mencapai 70%-80% dari total penggunaan energi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Makna Logo Imlek Festival 2026: Harmoni Budaya Tionghoa dan Nusantara
• 25 menit lalutvrinews.com
thumb
Presiden Pimpin Rapat di Hambalang, Fokus Bahas Kerja Sama Pendidikan dengan Inggris
• 17 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kebijakan RKAB Berubah, Target Produksi Batu Bara Sumsel 2026 Belum Pasti
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Sekda Jateng Sambangi Basecamp Bukit Mongkrang di Gunung Lawu, Cek Pencarian Pendaki yang Hilang
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Terungkap! Misi Pertama Thomas Djiwandono Jadi Dewan Gubernur BI
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.