Data transaksi menunjukkan investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 3,61 triliun pada sesi pertama perdagangan hari ini, Rabu (28/1). Angka tersebut bahkan melampaui transaksi net sell asing pada periode pekan lalu, 19-23 Januari 2026 yang berjumlah Rp 3,25 triliun.
Berdasarkan data Stockbit, investor asing tercatat melakukan transaksi jual sebesar Rp 12,57 triliun dan transaksi beli sebesar 8,96 triliun hingga jeda makan siang tadi.
Ramainya aksi jual investor asing terjadi setelah pengelola indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait hasil konsultasi mengenai perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama aksi jual investor asing. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat dilepas sebanyak 333,42 juta saham, disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebanyak 200,25 juta saham. Selain itu, saham PT Sentul City Tbk (BKSL) juga tercatat dijual sebanyak 177,64 juta saham.
Tekanan jual juga terlihat pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang dilepas sebanyak 145,34 juta saham, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebanyak 132,85 juta saham, serta PT Sinergi Inti Andalan Prime Tbk (INET) sebanyak 94,92 juta saham.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai perubahan metodologi perhitungan free float yang disampaikan MSCI berpotensi memicu arus keluar dana asing dalam skala besar. Adapun skenario terburuk adalah jika Indonesia diturunkan statusnya dari Pasar Berkembang (Emerging Market) menjadi Pasar Perintis (Frontier Market).
“Ini adalah penilaian saya mengenai skenario terburuk bagi Indonesia menyusul pengumuman terbaru dari MSCI. Jika Indonesia diturunkan statusnya dari Emerging Market menjadi Frontier Market, saya meyakini arus keluar dana (fund outflow) akan sangat besar,” kata Harry, Rabu (28/1).
Frontier Market atau Pasar Perintis merujuk pada kategori pasar saham negara berkembang tahap awal yang lebih kecil, kurang likuid, dan berisiko lebih tinggi.
Harry menjelaskan, saat ini total dana investasi yang mengacu pada indeks MSCI Indonesia mencapai sekitar US$ 120 miliar. Sementara itu, investasi terbesar di indeks MSCI Frontier saat ini hanya sekitar US$ 60 miliar, yang didominasi oleh Vietnam. Artinya, Indonesia berpotensi mengalami arus keluar dana asing secara agregat lebih dari US$ 60 miliar.
“Angka ini sangat besar dan sulit dibayangkan,” ujarnya.
Menurut Harry, persoalan utama yang disorot MSCI adalah kejelasan kepemilikan saham. MSCI menggunakan istilah opacity atau kurangnya transparansi untuk menggambarkan masalah struktur kepemilikan saham di Indonesia. Oleh karena itu, lembaga tersebut menuntut adanya transparansi yang lebih baik dan dapat diakses oleh investor global.
Ia menekankan pentingnya kerja sama seluruh pemangku kepentingan, mulai dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Danantara hingga emiten, untuk membangun struktur kepemilikan saham yang lebih jelas dan transparan.
“Kita memiliki waktu sekitar empat bulan sebelum potensi eksodus dana benar-benar terjadi. Saya rasa tidak ada pihak di Indonesia yang menginginkan skenario tersebut terwujud. Sudah saatnya dibentuk satuan tugas khusus oleh regulator terkait untuk segera menangani persoalan ini,” kata Harry.
Hari ini, MSCI mengumumkan akan membekukan saham Indonesia, baik dalam proses rebalancing maupun penambahan bobot indeks. Dampaknya, tidak akan ada peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) saham-saham Indonesia di indeks MSCI.
Selain itu, MSCI juga tidak akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta menghentikan migrasi naik antarsegmen indeks ukuran, termasuk perpindahan dari Small Cap ke Standard Index.


