BEI Sebut Panic Selling Dipicu Isu MSCI, IHSG Terancam Turun Kasta

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai aksi jual besar-besaran atau panic selling yang terjadi di pasar saham domestik hari ini sebelum dan sesudah trading halt, dipicu kekhawatiran investor terhadap kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyebut tekanan pasar hari ini terjadi akibat dua isu utama yang menjadi perhatian pelaku pasar, terutama terkait kebijakan MSCI terhadap rebalancing indeks dan permintaan transparansi data kepemilikan saham.

"Jadi hasil daripada apa yang terjadi hari ini memang ada menurut saya panic selling karena 2 hal yang disampaikan di konsen adalah pertama untuk di bulan Februari rebalancenya di freeze," ungkap Iman, di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1).

Iman menjelaskan, pembekuan rebalancing berarti takkan ada perubahan komposisi saham Indonesia di indeks MSCI dalam waktu dekat.

"Jadi kalau kita terjemahkan apa yang disampaikan tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen perusahaan tercatat kita di MSCI," katanya.

Namun demikian, kekhawatiran utama pasar justru muncul dari tuntutan MSCI terkait transparansi data kepemilikan saham yang dinilai belum sepenuhnya terpenuhi.

"Tetapi memang yang jadi concern adalah kalau data yang mereka minta, jadi mereka artinya data yang kami usulkan mereka merasa tidak cukup," lanjut Iman.

Kata dia, MSCI telah menyampaikan batas waktu hingga Mei untuk pemenuhan transparansi data. Jika hingga tenggat tersebut permintaan MSCI tak terpenuhi, Indonesia berisiko mengalami penurunan status pasar.

"Kita sudah sampaikan, kalau data yang mereka harapkan itu tidak terpenuhi sampai dengan transparansi itu ya, mereka kan transparansi dipenuhi sampai dengan bulan Mei, mereka akan menurunkan peringkat kita dari emerging market menjadi front end market," jelas dia.

Dia menjelaskan, penurunan status akan menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara yang berada di kategori Frontier Market seperti Bursa Filipina dan Vietnam.

"Artinya kita mungkin sejajar dengan Vietnam dan Filipina. Karena sekarang kan di emerging market [kita] sama dengan Malaysia," sebutnya.

Merespons kondisi itu, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tengah menyiapkan langkah tindak lanjut, meski belum merinci kebijakan yang akan ditempuh.

"Nah ini memang tadi saya bilang baru juga berdiskusi dengan OJK dan juga dengan KSI yang beberapa hal kita akan tindak lanjuti jadi kita tidak bicara sebelum apa yang kami sampaikan," ucap Iman.

Sebelumnya, MSCI mengumumkan pembekuan sementara sejumlah aksi indeks saham Indonesia, termasuk kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), penambahan konstituen baru, serta perpindahan kelas indeks. Kebijakan itu diambil lantaran MSCI menilai transparansi struktur kepemilikan saham di RI masih perlu diperkuat, efeknya memicu tekanan signifikan terhadap IHSG sepanjang Rabu (28/1).


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bencana 25 November 2025 Tinggalkan Luka Mendalam di Tapanuli Tengah, 17.984 Rumah dan Ribuan Hektare Lahan Pertanian Rusak
• 7 jam lalumediaindonesia.com
thumb
GASKAN Berharap Dirjen dan Pemda Mencari Solusi terkait Blokade Jalan Trans Sulawesi di Wilayah Luwu Raya
• 9 jam laluharianfajar
thumb
Serangan Rusia di Ukraina Menewaskan 12 Orang, Menargetkan Kereta Penumpang
• 5 jam laluerabaru.net
thumb
Agen ICE Berusaha Terobos Konsulat Ekuador, Picu Insiden Internasional
• 7 jam laluokezone.com
thumb
BI Luncurkan Laporan Perekonomian Indonesia 2025, Stabilitas Tetap Terjaga
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.