EtIndonesia. Perhatian internasional kini turut tertuju pada langkah strategis Rusia di Suriah. Pada 25 Januari 2026, militer Rusia secara mendadak menarik seluruh pasukannya dari Bandara Qamishli, sebuah titik strategis di Suriah timur laut yang selama ini menjadi pusat logistik dan garis kehidupan utama bagi pasukan Kurdi.
Menurut berbagai laporan lapangan, proses evakuasi dilakukan secara intensif sepanjang malam. Sejumlah pesawat angkut militer Il-76 terlihat lepas landas satu per satu, mengangkut personel dan perlengkapan penting. Bersamaan dengan itu, jet tempur MiG, helikopter Mi-8, serta seluruh peralatan berat dan sistem pendukung juga ditarik keluar dari pangkalan tersebut.
Setelah penarikan rampung, pangkalan Qamishli dilaporkan diserahkan kepada Pasukan Pertahanan Nasional Suriah serta unsur kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS). Langkah ini secara efektif meninggalkan sekitar 100.000 pasukan Kurdi yang selama ini mendapat dukungan Amerika Serikat dalam posisi terjepit, tanpa perlindungan strategis dari Rusia.
Qamishli: Titik Kunci yang Kini Hilang
Qamishli bukan sekadar bandara militer. Selama bertahun-tahun, lokasi ini berfungsi sebagai urat nadi logistik, suplai senjata, dan jalur penghubung utama bagi wilayah-wilayah Kurdi di Suriah timur laut, termasuk Kobani dan wilayah sekitarnya.
Ketika tekanan militer Turki meningkat dalam beberapa bulan terakhir, Rusia sebelumnya berperan sebagai penyeimbang kekuatan, menciptakan zona penyangga tidak resmi untuk menahan eskalasi langsung antara Turki dan pasukan Kurdi. Keberadaan Rusia di Qamishli menjadi faktor penentu yang mencegah operasi militer besar-besaran Ankara.
Namun situasi berubah drastis. Sumber-sumber regional menyebutkan bahwa hubungan Kurdi dengan Washington mengalami ketegangan. Pasukan Kurdi dikabarkan telah menyerahkan sebagian sumber daya strategis, pos logistik, serta cadangan pangan kepada Amerika Serikat, sekaligus menolak permintaan AS untuk terlibat dalam potensi operasi militer terhadap Iran. Keputusan ini diyakini mempercepat hilangnya dukungan tidak langsung dari Moskow.
Moskow Menarik Diri, Kurdi Ditinggalkan
Upaya pasukan Kurdi untuk meminta bantuan Rusia setelah penarikan pasukan AS dilaporkan tidak membuahkan hasil. Presiden Rusia, Vladimir Putin disebut hanya mengizinkan evakuasi ratusan simpatisan pro-Rusia dan staf terkait, sementara puluhan ribu pasukan Kurdi dan penduduk sipil di kawasan tersebut dibiarkan menghadapi situasi yang semakin genting.
Akibatnya, Qamishli dan Kobani kini berada dalam kondisi terisolasi. Jalur suplai darat terputus, ladang minyak strategis tak lagi dapat diakses, sementara pasokan air bersih dan listrik berada di ambang krisis. Di sisi lain, amunisi pasukan Kurdi dilaporkan menipis, sementara serangan udara Turki terus berlangsung secara sporadis namun konsisten.
Upaya bantuan dari wilayah Kurdi Irak memang masih terjadi, namun bersifat terbatas dan berskala kecil, jauh dari cukup untuk mengubah keseimbangan militer di lapangan.
Manuver Presisi Putin
Banyak analis menilai langkah Rusia sebagai manuver strategis yang dingin dan presisi. Dengan menarik diri dari pangkalan non-inti seperti Qamishli, Moskow dinilai tengah menukar pengaruh taktis jangka pendek dengan jaminan keamanan jangka panjang bagi basis-basis utamanya di Suriah, yakni Pangkalan Udara Hmeimim dan Pangkalan Angkatan Laut Tartus.
Langkah ini juga memperkuat posisi Rusia dalam negosiasi regional yang lebih luas, sekaligus mengurangi risiko terseret ke dalam konflik baru antara Turki, Kurdi, dan Amerika Serikat.
Sementara itu, pasukan Kurdi kini harus menanggung konsekuensi langsung dari manuver geopolitik yang kompleks, berada di persimpangan antara kepentingan Amerika, Rusia, dan Turki—tanpa jaminan perlindungan nyata dari salah satu pihak.
Situasi di Suriah timur laut pun kian rapuh, dan banyak pihak memperingatkan bahwa kekosongan kekuatan di Qamishli dapat memicu eskalasi konflik yang lebih luas dalam waktu dekat.




