Tahun 2026 diproyeksikan menjadi fase krusial bagi industri otomotif nasional, bukan hanya dari sisi volume produksi dan ekspor, tetapi juga terkait posisi strategis Indonesia di tengah dinamika rantai pasok global.
Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu menyebut bahwa salah satu faktor kunci yang mulai mencuat adalah kondisi kelebihan kapasitas produksi (over capacity) yang dialami pabrikan otomotif China.
“Saat ini, sorotan justru tertuju pada lonjakan agresif merek China seperti Wuling, Chery, dan BYD (yang sudah mengalami over capacity di negaranya), dan selain ingin memasuki captive market Indonesia yang begitu besar, dengan keinginan besar untuk mengambil pasar yang selama puluhan tahun dikuasai Jepang,” kata Yannes kepada kumparan belum lama ini.
Situasi tersebut mendorong produsen asal Negeri Tirai Bambu untuk semakin agresif mencari pasar dan basis produksi baru di luar negaranya. Indonesia pun masuk dalam radar, bukan sekadar sebagai pasar penjualan, tetapi juga sebagai calon hub produksi dan ekspor.
“Meskipun secara logika industri murni terlihat kontradiktif karena pabrikan China memiliki kelebihan kapasitas produksi yang masif di negaranya, potensi mereka menjadikan Indonesia sebagai basis ekspor sesungguhnya sangat besar,” sambungnya.
Meski begitu, Yannes menambahkan, peta ekspor otomotif Indonesia pada 2026 memang masih akan didominasi pabrikan Jepang yang telah lama berinvestasi di Tanah Air. Namun, tekanan over capacity di China berpotensi mengubah peta persaingan.
“Peta ekspor otomotif Indonesia tahun 2026 diproyeksikan masih akan didominasi oleh pabrikan Jepang yang sudah lama berinvestasi di Indonesia, khususnya Toyota dan Mitsubishi. Mereka menjadikan Indonesia benteng pertahanan utama untuk membanjiri pasar Global South dengan produk ICE dan Hybrid mereka yang tangguh,” ujar Yannes kepada kumparan belum lama ini.
Di sisi lain, kelebihan kapasitas produksi di China membuat sejumlah merek seperti Wuling, Chery, dan BYD bergerak cepat memperluas jejak globalnya. Indonesia dinilai menjadi target strategis, baik karena besarnya pasar domestik maupun potensi sebagai basis ekspor.
Menurut Yannes, langkah pabrikan China yang mulai melirik Indonesia sebagai basis produksi terlihat berlawanan dengan logika industri konvensional. Namun, jika dilihat dari perspektif geopolitik dan perdagangan global, strategi tersebut justru sangat masuk akal.
Tekanan tarif tinggi dari Amerika Serikat serta pembatasan akses ke pasar Eropa membuat produsen China membutuhkan wilayah alternatif yang lebih aman secara geopolitik dan perdagangan. Indonesia dinilai memenuhi kriteria tersebut.
“Ini juga didorong oleh desakan geopolitik untuk mencari wilayah perlindungan strategis guna menghindari tembok tarif tinggi Amerika Serikat dan sementara ini Eropa yang masih memblokir akses langsung produk mereka,” tandas Yannes.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia berpotensi menjadi arena pertarungan baru antara dominasi lama pabrikan Jepang dan ekspansi agresif produsen China yang tengah mencari jalan keluar dari tekanan over capacity di pasar domestiknya.




