Menuju penghujung tahun 2025, kita disambut dengan fenomena yang cukup menyedihkan. Beberapa kawasan meliputi: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat ditimpa bencana alam yang banyak menelan korban jiwa serta kerusakan yang sangat parah. Hal tersebut membuat hati kecil ini memaksa untuk ikut dalam membantu para penyintas bencana. Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk ikut serta dalam misi kemanusiaan, dan tempat yang saya tuju yaitu Agam, Sumatra Barat.
Perjalanan menuju Agam itu panjang, melelahkan, dan sunyi. Di antara suara mesin kendaraan dan pemandangan alam yang berganti, saya duduk sambil bertanya pada diri sendiri: apa sebenarnya yang sedang saya cari? Yang saya tahu, perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat. Ia adalah perjalanan untuk memahami manusia, dan mungkin juga memahami diri saya sendiri.
Keputusan untuk ikut dalam misi kemanusiaan ini tidak lahir begitu saja. Ada banyak kenyamanan yang harus ditinggalkan, ada rasa khawatir yang tidak bisa sepenuhnya ditepis. Namun, di balik semua itu, ada satu dorongan yang terus menguat: keinginan untuk hadir, meski hanya sebentar, bagi mereka yang sedang berjuang dalam kondisi yang jauh dari kata mudah.
Agam menyambut kami dengan keindahan alam yang luar biasa. Hamparan hijau, udara yang berbeda, dan keramahan masyarakat setempat menjadi kesan pertama yang sulit dilupakan. Namun, di balik keindahan itu, ada realitas lain yang pelan-pelan terbuka. Akses yang terbatas, fasilitas yang minim, dan kehidupan warga yang berjalan dalam keterbatasan menjadi pengingat bahwa tidak semua orang hidup dalam kondisi yang sama.
Sebagai relawan, hari-hari kami diisi dengan berbagai aktivitas. Mulai dari membantu kebutuhan dasar masyarakat, berinteraksi dengan anak-anak, hingga mendampingi warga yang terdampak situasi tertentu. Tugas-tugas itu terkadang terasa sederhana, tetapi justru di situlah letak maknanya. Sebuah senyum, sapaan hangat, atau sekadar mendengarkan cerita mereka sering kali menjadi bentuk bantuan yang paling dibutuhkan.
Saya masih ingat satu momen ketika berbincang dengan seorang warga. Dengan nada tenang, ia menceritakan kesehariannya, tentang kesulitan yang sudah lama menjadi bagian hidupnya. Tidak ada keluhan berlebihan, tidak ada kemarahan. Yang ada justru ketegaran dan rasa syukur yang sederhana. Saat itu, saya merasa belajar lebih banyak daripada yang saya berikan. Saya datang dengan niat menolong, tetapi pulang membawa pelajaran tentang kehidupan.
Menjadi relawan di Agam mengajarkan saya bahwa kemanusiaan tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan besar. Ia hadir dalam kesediaan untuk mendengar, dalam empati yang tulus, dan dalam kehadiran yang tidak menghakimi. Saya menyadari bahwa sering kali kita merasa “membantu”, padahal sesungguhnya kita sedang “belajar”.
Ketika misi ini berakhir dan saya kembali pulang, ada sesuatu yang berubah dalam cara pandang saya. Perjalanan ini membuat saya lebih peka, lebih bersyukur, dan lebih sadar bahwa di luar sana masih banyak cerita yang belum terdengar. Cerita tentang perjuangan, harapan, dan keteguhan manusia dalam menghadapi keterbatasan.
Agam bukan hanya meninggalkan kenangan tentang alam dan perjalanan panjang. Ia meninggalkan jejak dalam cara saya memandang kemanusiaan. Bahwa menjadi manusia bukan soal seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa besar kita mampu peduli. Pada akhirnya kita hanya diberikan dua pilihan, menjadi aktor dalam sebuah pergerakan, atau tetap menjadi penonton di barisan belakang.





