Washington: Jam Kiamat (Doomsday Clock), istilah hipotesis yang merujuk pada berapa lama lagi umat manusia menuju bencana besar, bergerak ke posisi 85 detik menuju tengah malam pada Selasa kemarin, atau empat detik lebih dekat dari tahun lalu. Doomsday Clock telah dipasang oleh organisasi Bulletin of the Atomic Scientists sejak awal Perang Dingin.
Dikutip dari France 24, Rabu, 28 Januari 2026, pergerakan 85 detik menuju tengah malam ini merupakan posisi terdekat menuju bencana sepanjang sejarah, seiring meningkatnya kekhawatiran global terhadap ancaman senjata nuklir, perubahan iklim, dan disinformasi.
Pengumuman terbaru ini disampaikan Bulletin of the Atomic Scientists pada Selasa kemarin, atau satu tahun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memulai masa jabatan keduanya.
Bulletin menilai negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok semakin agresif dan nasionalistis, sehingga melemahkan kerja sama internasional yang krusial untuk mencegah bencana global. Situasi tersebut dinilai mempercepat persaingan kekuatan besar yang berisiko memicu konflik berskala luas.
Menurut laporan France24, ancaman perlombaan senjata nuklir kembali mengemuka menjelang berakhirnya perjanjian pengurangan senjata nuklir New START antara Amerika Serikat dan Rusia. Ketua Dewan Sains dan Keamanan Bulletin, Daniel Holz, menyatakan bahwa untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, dunia berada dalam kondisi tanpa penghalang nyata terhadap perlombaan senjata nuklir yang tak terkendali.
Dewan juga menyoroti sejumlah kebijakan Presiden Trump, termasuk ancaman untuk melanjutkan uji coba nuklir serta dorongan terhadap sistem pertahanan rudal Golden Dome, yang dinilai berpotensi mempercepat militerisasi ruang angkasa. Selain itu, penggunaan aparat bersenjata dalam penindakan di Minnesota disebut turut menambah kekhawatiran terhadap meningkatnya konflik domestik di Amerika Serikat.
Isu perubahan iklim menjadi perhatian lain, menyusul rekor emisi karbon dioksida global serta mundurnya kebijakan iklim Amerika Serikat. Kondisi ini dinilai memperburuk pemanasan global sekaligus melemahkan komitmen internasional dalam menekan krisis iklim.
Di sisi lain, krisis kepercayaan global akibat disinformasi dinilai memperparah risiko dunia. Jurnalis Filipina peraih Nobel Perdamaian Maria Ressa menyebut dunia tengah menghadapi “kiamat informasi” yang dipicu teknologi penyebaran kebohongan secara masif.
Didirikan pada 1947 oleh Albert Einstein dan J. Robert Oppenheimer, Bulletin of the Atomic Scientists awalnya menempatkan Jam Kiamat pada posisi tujuh menit menuju tengah malam. Presiden dan CEO Bulletin, Alexandra Bell, menegaskan bahwa janji-janji perdamaian dunia tidak sejalan dengan tindakan nyata, sehingga risiko global terus meningkat. (Keysa Qanita)
Baca juga: 10 Tahun Paris Agreement, Dunia Masih Jauh dari Target 1,5 Derajat Celsius


