PADANG, KOMPAS — Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat, menyiapkan 254 unit hunian tetap di dua lokasi, yakni Balai Gadang dan Simpang Haru, bagi penyintas banjir bandang atau galodo. Hunian tersebut mulai dibangun pekan ini dengan target pengerjaan sekitar empat bulan.
Dua lokasi yang akan dibangun hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak banjir bandang itu adalah di Bumi Perkemahan, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, dan di belakang Pasar Simpang Haru, Kelurahan Simpang Haru, Kecamatan Padang Timur.
“Lahan untuk huntap di kedua lokasi itu sudah clean and clear. Di Bumi Perkemahan, seluas 2,9 hektar, akan dibangun 209 unit, sedangkan di Simpang Haru, seluas 0,5 hektar, akan dibangun 45 unit,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Padang, Tri Hadiyanto, ketika dihubungi, Rabu (28/1/2026).
Tri menjelaskan, bangunan huntap itu memiliki tipe 36 dengan luas tanah sekitar 78 meter persegi. Konsep bangunannya adalah couple atau dua rumah dempet dan jarak dengan rumah lainnya sekitar 1 meter. Tiap rumah memiliki dua kamar tidur dan satu kamar mandi.
Menurut Tri, pembangunan huntap di kedua lokasi tersebut sudah mulai dikerjakan minggu ini. Pekerja sudah melakukan pemancangan untuk bangunan. “Target selesai sekitar empat bulan,” katanya.
Dalam pembangunan huntap di Bumi Perkemahan Balai Gadang dan Simpang Haru, kata Tri, Pemkot Padang bekerja sama dengan Yayasan Buddha Tzu Chi.
Tri menambahkan, total kebutuhan huntap bagi masyarakat yang rumahnya hanyut atau rusak berat akibat banjir bandang di Padang sekitar 570 unit.
Untuk mencukupi kebutuhan itu, Pemkot Padang tengah menyiapkan pula lahan di lokasi lain, seperti di daerah Sungkai, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, dan penambahan area di Bumi Perkemahan, Balai Gadang.
Sejak 27 November 2025, lebih dari 100 keluarga penyintas banjir bandang di Padang menempati rumah khusus (rusus) dan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) milik Pemkot Padang sebagai hunian sementara (huntara) di Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah. Sebagian penyintas lain tinggal di huntara lain, mengontrak rumah, ataupun tinggal di tempat saudara.
Sejatinya, kebutuhan pokok penyintas bencana di rusus dan rusunawa Lubuk Buaya relatif tercukupi. Namun, mereka kesulitan bekerja atau beraktivitas karena lokasi huntara jauh dari domisili sebelumnya. Mereka pun berharap segera mendapat huntap agar bisa kembali menata kehidupan seusai bencana.
“Kami berharap bisa segera tinggal di hunian tetap. Kalau tinggal di rumah sendiri, kami pun bisa menata langkah untuk menjalani hidup ke depan,” kata Zulfikar (49), penyintas banjir bandang dari daerah Batu Busuak, Kelurahan Lambung Bukit, yang kini tinggal di rusus Lubuk Buaya.
Di Bumi Perkemahan, seluas 2,9 hektar, akan dibangun 209 unit, sedangkan di Simpang Haru, seluas 0,5 hektar, akan dibangun 45 unit





