Indonesia Perkuat Modernisasi Industri Maritim Nasional dengan Monitoring Berbasis Teknologi Satelit

disway.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID - Indonesia memperteguh jati diri bangsa sebagai negara maritim dalam mendorong digitalisasi sektor transportasi dan logistik laut guna meningkatkan efisiensi operasional dan ketepatan layanan.

Karena itu, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau PELNI terus memperkuat transformasi digital dalam operasional pelayaran melalui pemanfaatan sistem berbasis teknologi untuk meningkatkan monitoring perjalanan kapal, perencanaan rute, serta pengelolaan jadwal secara terintegrasi.

Penguatan sistem ini memungkinkan proses pengambilan keputusan dilakukan secara berbasis data, sehingga operasional armada dapat berjalan lebih efisien, terukur, dan andal dalam mendukung layanan kepada masyarakat.

BACA JUGA:PT Sinergi Gula Nusantara Raih Disway Awards 2025 Kategori Agroindustri dan Maritim Populer

Modernisasi sistem pelayaran ini menjadi bagian dari upaya PELNI dalam mendukung pengembangan industri maritim nasional, sekaligus meningkatkan ketepatan jadwal, keselamatan pelayaran, serta kualitas layanan bagi penumpang dan pengguna jasa.

PELNI melakukan transformasi digital sektor maritim nasional dengan mengimplementasikan Sistem Komunikasi Kapal (SisKomKap) berbasis satelit Low Earth Orbit (LEO).

Langkah ini ditempuh melalui kerja sama strategis dengan BuanterOne, penyedia layanan telekomunikasi satelit di bawah naungan PT Dwi Tunggal Putra (DTP), untuk periode 2026–2029.

BACA JUGA:Estonia Posisikan Indonesia sebagai Mitra Strategis untuk Inovasi Maritim dan Keamanan Siber Tahun 2026

Kerja sama tersebut ditandai dengan seremoni kick-off yang digelar di atas KM Nggapulu saat bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa 27 Februari.

Pemilihan lokasi di atas kapal menegaskan komitmen PELNI dalam menghadirkan teknologi langsung ke jantung operasional pelayaran nasional.

Sebelumnya PELNI telah menggunakan layanan telekomunikasi berbasis satelit Geostationary Earth Orbit (GEO). Satelit GEO berada pada ketinggian sekitar 35.786 km dari Bumi, sedangkan LEO lebih dekat yaitu sekitar 500-1.200 km.

Hal ini menyebabkan, satelit LEO memilki latensi rendah, biasanya di 70-100 milidetik (ms), atau setara dengan fiber optik.

Sedangkan satelit GEO memiliki latensi tinggi, sekitar 550-1.500 ms atau lebih, membuat koneksinya lebih lambat.

Implementasi teknologi satelit LEO menjadi fondasi utama penguatan SisKomKap PELNI.

BACA JUGA:Diplomasi Prabowo Dongkrak Wibawa Indonesia, Dekan FISIP UAI: Penting untuk Kekuatan Pertahanan Maritim

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ledakan di Pabrik Kue Yunani, 5 Orang Tewas dan 7 Lainnya Terluka
• 22 jam laluidntimes.com
thumb
Penegakan Hukum Indonesia Dinilai Penuh Praktik Transaksional
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Sedang Berlangsung! Live di ANTV: Fiorentina vs Como, Klub Milik Bos Djarum Lagi Ganas usai Menang 6-0
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Kedapatan Menjual di Atas HET di Toraja Utara, Suplai Gas 3 Kg Dihentikan Selama Tiga Bulan
• 11 jam laluharianfajar
thumb
Membedah Prospek Saham Merdeka Group, Pilih MBMA, MDKA, atau EMAS?
• 13 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.