Telepon Darurat dari Teheran, Armada AS Sudah Siap: Apakah Perang AS–Iran Tinggal Hitungan Jam?

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam dan kini memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Pada 26 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara terbuka mengungkapkan bahwa sejak dia memerintahkan pengerahan armada besar ke perairan dekat Iran, pihak Teheran telah berulang kali menghubungi Washington untuk mencoba membuka jalur kesepakatan.

Namun, Gedung Putih menegaskan bahwa meskipun pintu diplomasi belum sepenuhnya ditutup, negosiasi hanya akan dilakukan dengan syarat-syarat tertentu. Hingga kini, tidak ada indikasi jelas bahwa Iran bersedia menerima prasyarat tersebut.

Di tengah kebuntuan diplomatik, opsi militer di Washington justru semakin menguat.

Dua Opsi Utama Trump terhadap Iran

Menurut sumber-sumber pemerintahan dan intelijen yang dikutip sejumlah media Barat, Presiden Trump saat ini tengah mempertimbangkan dua skenario utama untuk menekan Teheran:

1. Blokade Laut Total terhadap Ekspor Minyak Iran

Opsi pertama adalah blokade maritim guna menghentikan sepenuhnya ekspor minyak Iran. Strategi ini menyerupai pendekatan yang sebelumnya diterapkan terhadap Venezuela—tekanan ekonomi dilakukan secara bertahap hingga negara sasaran mengalami cekikan energi dan finansial total.

Langkah ini dinilai berpotensi melumpuhkan perekonomian Iran tanpa harus langsung memicu perang terbuka, namun tetap membawa risiko eskalasi regional yang besar.

2. Serangan Presisi terhadap Pucuk Pimpinan Iran

Opsi kedua adalah serangan presisi terhadap kepemimpinan tertinggi Iran, yang dalam istilah militer dikenal sebagai operasi decapitation strike atau “pemenggalan kepala”.

Mantan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, dalam wawancara dengan Channel 12 Israel pada 26 Januari, secara terbuka menyatakan bahwa jika Amerika Serikat mengambil langkah militer terhadap Iran, Israel harus memilih momen yang tepat untuk ikut terlibat.

“Kita perlu menyingkirkan Khamenei dan kepemimpinan Iran,” tegas Gallant.

Pernyataan ini memperkuat spekulasi bahwa Israel tengah bersiap menjadi bagian dari skenario militer yang lebih luas.

Militer AS dalam Posisi Siap Tempur

Hingga 27 Januari 2026, USS Abraham Lincoln dilaporkan telah mencapai posisi operasional yang telah ditentukan di kawasan tanggung jawab CENTCOM. Sejumlah laporan intelijen yang diterima Gedung Putih menyebutkan bahwa kepemimpinan Iran berada dalam kondisi paling rapuh sejak Revolusi Iran 1979.

Sumber militer menyebutkan bahwa jika perintah diberikan, serangan militer AS dapat dilancarkan dalam waktu satu hingga dua hari.

Pada hari yang sama, militer AS secara resmi mengumumkan bahwa CENTCOM akan menggelar latihan udara berskala besar di Timur Tengah selama beberapa hari ke depan. Latihan ini berfokus pada:

Sejumlah analis menilai latihan tersebut berpotensi menjadi kamuflase operasional, dan tidak menutup kemungkinan berubah menjadi operasi tempur nyata dalam waktu singkat.

Ledakan di Pangkalan Militer Parchin

Situasi semakin genting setelah Iran mengonfirmasi terjadinya ledakan di fasilitas militer Parchin, sekitar 30 kilometer tenggara Teheran, pada 27 Januari.

Pangkalan Parchin merupakan lokasi strategis yang selama ini dikenal sebagai pusat:

Dalam konflik Desember 2025, fasilitas ini juga dilaporkan pernah menjadi target serangan Israel.

Sumber lain menyebutkan bahwa pada waktu yang hampir bersamaan, militer Iran tengah melakukan uji coba rudal di wilayah Teheran. Hingga kini, belum dapat dipastikan apakah ledakan tersebut disebabkan oleh kecelakaan teknis atau merupakan aksi sabotase maupun serangan tersembunyi.

Di sisi lain, pembom strategis Amerika Serikat yang mampu menjangkau wilayah Iran kini berada dalam status siaga lebih tinggi dari biasanya.

Media Israel Today melaporkan bahwa pengerahan pasukan AS di Timur Tengah telah sepenuhnya rampung, sementara Pentagon secara langka mengonfirmasi bahwa senjata laser generasi baru telah memasuki tahap penempatan tempur nyata.

Pengerahan Militer Skala Besar di Teluk Persia

Pada 27 Januari, Angkatan Udara AS menggelar konsentrasi kekuatan besar di kawasan Teluk Persia, dengan sasaran yang dinilai semakin jelas: Iran.

Beberapa indikator utama meliputi:

Sistem pertahanan udara AS dari Fort Hood, Texas, kini dipindahkan ke:

Selain itu, sistem THAAD juga tengah dialihkan ke sejumlah pangkalan AS di kawasan.

Respons Iran dan Ancaman Jalur Laut Strategis

Media oposisi Iran melaporkan bahwa Masoud Khamenei, putra ketiga Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, kini mengambil alih sebagian besar urusan harian ayahnya dan muncul sebagai figur inti pengendali rezim.

Iran meningkatkan kehadiran militernya di:

Drone jarak jauh Iran dikirim untuk mengumpulkan intelijen terhadap USS Abraham Lincoln. Pada saat yang sama, drone AS dan Iran dilaporkan beroperasi bersamaan di atas Selat Hormuz, meningkatkan risiko benturan langsung.

Iran dan kelompok Houthi juga disebut tengah bersiap melancarkan perang maritim asimetris di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb—dua jalur vital perdagangan global.

Lebih mengkhawatirkan, Iran memindahkan pasukan Garda Revolusi dari pangkalan resmi ke sekolah-sekolah, meniru taktik Hamas dengan menjadikan fasilitas sipil sebagai tameng manusia.

Israel mengklaim bahwa Amerika Serikat telah memberi peringatan kepada UEA, Yordania, Irak, dan Arab Saudi. Jika konflik pecah, Inggris, UEA, dan Yordania diperkirakan akan membantu mencegat rudal dan drone Iran yang diarahkan ke Israel.

Sementara itu, Turki dikabarkan tengah merencanakan pembentukan zona penyangga di perbatasan Iran guna mengantisipasi potensi gelombang pengungsi jika rezim Teheran runtuh.

Isu HAM Iran dan Sikap Tiongkok Disorot

Pada 26 Januari, Perserikatan Bangsa-Bangsa meloloskan resolusi untuk menyelidiki dugaan penindasan HAM di Iran. Tiongkok memilih menentang resolusi tersebut tanpa memberikan penjelasan resmi.

Sikap Beijing menuai kritik luas di media sosial. 

Sejumlah warganet menyindir: “Ketika dunia menyelidiki kekerasan, dia yang menahan peluru.
Ketika orang lain mencari kebenaran, dia sibuk mematikan lampu.”

Penutup

Dengan pengerahan militer yang hampir sepenuhnya rampung, ketegangan AS–Iran kini berada di titik kritis. Dunia internasional menanti apakah tekanan ini akan berujung pada kesepakatan terakhir, atau justru menjadi awal konflik besar yang dapat mengguncang stabilitas Timur Tengah dan jalur energi global.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pengunjung Asal Palembang Terkejut Saat Mendengar Selecta Pernah Disinggahi Bung Karno
• 12 jam lalurealita.co
thumb
Mauricio Souza Nilai Adaptasi Pemain-Pemain Baru Persija Cukup Baik
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kiper Timnas Indonesia Maarten Paes Berlabuh di Ajax Amsterdam
• 14 jam laluviva.co.id
thumb
Luncurkan My Prime Hospital Network, MSIG Life Gandeng 260 Rumah Sakit
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Kemensos Tindaklanjuti Usulan Sekolah Rakyat di Baubau, Sukamara dan Aceh Besar
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.