Penulis: Fityan
TVRINews – Gaza
Serangan Udara Israel Berlanjut di Tengah Kelangkaan Bantuan dan Rencana Rekonstruksi AS.
Kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza mencapai titik kritis seiring meningkatnya keputusasaan warga Palestina akibat penutupan pintu perbatasan Rafah yang berkepanjangan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa blokade total oleh pasukan Israel telah memperparah penderitaan jutaan warga yang kini sangat bergantung pada bantuan internasional.
Di lapangan, eskalasi militer dilaporkan tetap tinggi. Tim koresponden melaporkan adanya tembakan tank dan artileri berat di wilayah timur Khan Younis sejak fajar Selasa 27 Januari 2026.
Serangan udara juga menyasar rumah-rumah di Deir el-Balah serta penghancuran bangunan di Jabalia. Di wilayah utara, setidaknya empat warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan di area al-Sanafour, Kota Gaza.
Dampak Kemanusiaan yang Meluas
Berdasarkan data terkini, perang yang berlangsung sejak Oktober 2023 ini telah merenggut sedikitnya 71.660 nyawa dan melukai lebih dari 171.000 orang di Gaza.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata sempat diupayakan, tercatat hampir 500 warga Palestina termasuk perempuan dan anak-anak tewas sejak Oktober 2025.
Pemerintah Israel memberikan sinyal akan mengizinkan sejumlah kecil orang melintasi Rafah menuju Mesir melalui inspeksi ketat.
Namun, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai masuknya bantuan logistik skala besar sebagaimana yang didesak oleh komunitas internasional.
Eskalasi di Tepi Barat
Ketegangan tidak hanya terbatas di Gaza. Di Tepi Barat yang diduduki, pasukan Israel meluncurkan serangkaian operasi penggerebekan yang mengakibatkan penangkapan puluhan warga.
Mengutip laporan kantor berita Wafa, operasi tersebut mencakup wilayah Hebron, Qalqilya, hingga Jericho.
Lembaga Masyarakat Tawanan Palestina (PPS) menyebut tindakan ini sebagai bentuk "hukuman kolektif."
"Pasukan Israel telah meningkatkan intensitas penangkapan dan interogasi lapangan sejak awal tahun ini," ujar perwakilan PPS dalam keterangan resminya.
Di tengah kehancuran infrastruktur Gaza, Amerika Serikat melalui Donald Trump dan penasihatnya, Jared Kushner, meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai "Master Plan" untuk pembangunan kembali Gaza melalui dewan perdamaian yang baru dibentuk.
Namun, optimisme yang ditunjukkan Washington dinilai berbanding terbalik dengan realitas berbahaya yang dihadapi warga Palestina di lapangan.
Di saat diskusi mengenai rekonstruksi dimulai, serangan artileri dan jet tempur masih terus menghujani wilayah kantong yang terkepung tersebut, mengabaikan seruan gencatan senjata yang sebelumnya telah diupayakan.
Editor: Redaktur TVRINews




