Jakarta, VIVA – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, ke depan pihaknya akan terus berupaya optimal dalam mendorong pertumbuhan pendapatan negara lebih cepat, sambil berhati-hati dalam mengelola ruang fiskal yang makin terbatas.
Karenanya, Dia pun berharap bahwa baik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) maupun Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) bisa bekerja secara maksimal, dalam mengumpulkan seluruh potensi cukai dan pajak untuk masuk ke kas negara.
"Ruang fiskal kita terbatas dan harus dikelola dengan hati-hati. Salah langkah sedikit, maka dampaknya akan langsung terasa," kata Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.
- [Mohammad Yudha Prasetya]
Dia pun kembali mengingat momen menegangkan pada detik-detik tutup buku APBN 2025 di akhir Desember lalu, dimana kekhawatiran saat itu adalah defisit yang berpotensi menyentuh batas 3 persen.
Dia menjelaskan, defisit APBN 2025 lebih besar sebagai imbas dari tidak tercapainya target pendapatan negara, sementara belanja negara terus berjalan demi menopang program-program prioritas.
Sehingga, defisit APBN 2025 pun melonjak ke 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), melampaui asumsi awal yang hanya sebesar 2,53 persen.
"Akibatnya, Pak Prima (Direktur Jenderal Perbendaharaan), Pak Luky (Direktur Jenderal Anggaran) juga enggak bisa tidur sampai jam 12 malam. Kemudian Pak Wamen, Pak Bimo (Direktur Jenderal Pajak) juga, semuanya lah," ujar Purbaya.
Meskipun, hal yang ditakutkan tidak terjadi karena defisit APBN 2025 tercatat sebesar 2,92 persen dari PDB atau senilai Rp 695,1 triliun.
Namun berbeda dengan APBN di tahun 2026 ini, yang menurut Purbaya ruang fiskalnya semakin kecil. Sehingga upaya mendorong penerimaan negara melalui pajak dan bea cukai juga harus terus dioptimalkan.
"Saya pikir tahun lalu enggak begitu ya? Sama, tetapi enggak tegang lewat 3 persen apa enggak. Kalau ini beda, karena fiskal space kita semakin kecil," ujarnya.




