Ujian Praktik Seni: Pendidikan yang Menguji Rasa, Bukan Sekadar Angka

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Setiap kali ujian praktik seni digelar di sekolah, suasananya selalu terasa berbeda. Aula yang biasanya digunakan untuk seminar dan sosialisasi mendadak berubah menjadi ruang pertunjukan. Kabel-kabel sound system terlihat sempat saling terlilit, kursi yang digeser ke sana kemari, siswa yang mondar-mandir sambil membawa properti, dan guru-guru yang ikut sibuk memastikan semuanya berjalan lancar. Di sudut ruangan, beberapa anak terlihat komat-kamit menghafal gerakan. Yang lain memegang alat musik dengan tangan sedikit gemetar.

Di momen seperti itu, saya sadar, anak-anak ini sedang diuji bukan dari seberapa banyak yang mereka hafal, tetapi dari seberapa sungguh mereka menjalani proses.

Ada yang wajahnya pucat sebelum naik panggung. Ada yang salah gerak di awal lalu sempat menoleh ke temannya, tapi akhirnya memilih lanjut. Ada juga yang setelah selesai tampil langsung menghela napas panjang seperti baru melewati sesuatu yang berat. Tidak ada yang benar-benar sempurna. Justru di situlah ujian praktik seni terasa paling jujur. Yang dinilai bukan hanya hasil akhir, tetapi keberanian, ketekunan, dan tanggung jawab atas apa yang mereka tampilkan di depan orang lain.

Di sekolah, kita terlalu sering menyederhanakan keberhasilan menjadi angka: nilai rapor, peringkat kelas, skor ujian. Padahal angka tidak pernah benar-benar bisa menceritakan perjuangan seorang siswa. Angka tidak menunjukkan latihan berulang yang melelahkan, perdebatan kecil saat latihan kelompok, atau rasa kecewa ketika penampilan tidak sesuai harapan.

Belajar Jujur, Belajar Peka, Belajar Jadi Manusia

Ujian praktik seni memberi ruang belajar yang jarang kita temukan di kelas biasa. Di sini, siswa belajar bahwa salah itu bukan aib. Salah gerak, nada meleset, atau dialog lupa bukan akhir segalanya. Mereka belajar memperbaiki diri, belajar menyesuaikan dengan teman satu tim, dan belajar tetap tenang saat situasi tidak berjalan sesuai rencana.

Saya sering melihat sendiri, setelah tampil, mereka saling menepuk bahu. “Tadi bagian itu kurang kompak ya.” “Iya, tapi kita selamat sampai akhir.” Percakapan sederhana seperti itu menunjukkan proses belajar yang nyata—belajar menerima kekurangan tanpa saling menyalahkan.

Seni juga melatih kejujuran. Saat di panggung, tidak ada tempat bersembunyi. Guru bisa langsung melihat mana yang sungguh-sungguh latihan, mana yang setengah hati. Yang tampil adalah kemampuan diri sendiri. Mungkin sederhana, mungkin belum rapi, tapi itu asli hasil usaha mereka. Di tengah budaya serba instan, kejujuran proses seperti ini justru makin berharga.

Lebih dari itu, seni membentuk kepekaan. Penari belajar membaca irama dan posisi teman. Pemusik belajar menahan ego agar bunyinya selaras dengan yang lain. Siswa seni rupa belajar memperhatikan detail kecil di sekitarnya. Sebagai guru PPKn, saya melihat ini bukan sekadar pelajaran seni, tapi latihan hidup bersama. Empati, toleransi, dan kerja sama tidak tumbuh dari hafalan, melainkan dari pengalaman langsung.

Sekolah Bukan Pabrik Nilai

Sayangnya, pelajaran seni masih sering dipandang sebagai pelengkap. Fasilitasnya kerap terbatas, dan keberadaannya belum selalu dianggap sepenting mata pelajaran lain. Namun, sekolah kami berkomitmen, menempatkan pelajaran seni sebagai bagian penting dalam pendidikan siswa. Padahal, di tengah kehidupan yang semakin keras, serba cepat, dan penuh tekanan, pendidikan yang menyentuh rasa seperti ini justru sangat dibutuhkan.

Ujian praktik seni selalu mengingatkan saya bahwa sekolah bukan pabrik nilai. Sekolah adalah tempat anak-anak belajar menjadi manusia. Mereka belajar mengenali rasa takut, belajar gagal di depan orang lain, belajar bangkit, dan belajar menghargai proses—hal-hal yang akan mereka temui terus dalam kehidupan nyata.

Dalam semangat Kurikulum Merdeka, pendidikan seharusnya memberi ruang seimbang antara pengetahuan dan pembentukan karakter. Seni sudah lama melakukan itu. Ia memberi kebebasan berekspresi, tetapi juga menuntut disiplin, latihan, dan tanggung jawab.

Ketika seorang siswa berdiri di panggung ujian praktik seni, sebenarnya ia sedang belajar menghadapi kehidupan. Ada rasa gugup, ada usaha keras, dan ada keberanian untuk tetap melangkah meski tidak sempurna. Di situlah pendidikan bekerja dengan cara yang paling manusiawi.

Ujian praktik seni mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar soal angka, tetapi tentang proses tumbuh menjadi pribadi yang utuh. Dan tugas sekolah adalah menjaga agar proses itu tetap hidup dan bermakna.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kronologi Suderajat, 30 Tahun Jualan Es Gabus Hancur Dituduh Dagang Makanan Berbahan Spons
• 12 jam lalusuara.com
thumb
Berikan Klarifikasi Terkait Penjual Es di Kemayoran, Kodim 0501 Jakarta Pusat: Telah Diselesaikan Secara Kekeluargaan
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
Mesin Diesel dan RWD Jadi Kunci Innova Reborn Masih Diminati
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
IIMS 2026 Bidik Transaksi Tembus Rp8 Triliun
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Foto: Kawasan Padat Menteng Tenggulun Akan Dirancang Ulang Jadi Kampung Tematik
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.