CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Rabu (28/1/2026) di Bursa Efek Indonesia mengalami penurunan signifikan di zona merah, tergerus -659,674 basis point atau ditutup turun -7,35% di level 8.320,556.
Lain di pasar saham lain pula situasinya di pasar uang atau valuta. Di saat IHSG yang mencakup seluruh saham anjlok sebesar 8% dan mengalami trading halt (penghentian perdagangan) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,36% di posisi Rp16.706 per dolar. Rupiah menghijau bersama dengan mayoritas mata uang Asia, akibat pelemahan indeks dolar AS secara global.
IHSG bergerak dari batas atas di level 8.980 hingga batas bawah pada level 8.187 setelah dibuka pada level 8.980. Tekanan di pasar saham, menurut laporan Bloomberg, lebih menggambarkan penyesuaian persepsi risiko ekuitas, terlebih setelah MSCI menyampaikan kekhawatiran dan membekukan sejumlah perubahan indeks.
Sementara, penguatan rupiah hari ini terdongkrak oleh pelemahan indeks dolar AS secara global. Indeks dolar AS terhadap mata uang Asia susut 0,11% menjadi 96,1. Pelemahan dolar AS ini memberi ruang mata uang high-yielding seperti rupiah untuk menguat.
Namun di pasar surat utang, investor sudah mulai meminta imbal hasil (yield) tinggi dan menghadapi tekanan jual di beberapa tenor.
IHGSG sempat anjlok 8% ke level 8.261,79 atau terkoreksi 718 poin pada penutupan perdagangan intraday sesi kedua. Atas koreksi dalam ini IHSG mencapai ambang batas perhentian perdagangan sementara (trading halt) yang dipatok oleh otoritas bursa.
Nyaris seluruh saham yang aktif diperdagangkan di bursa masih berada di zona merah. Sebanyak 768 saham turun, 8 tidak bergerak, dan hanya 28 saham yang naik.
Nilai transaksi tercatat jumbo atau yakni mencapai Rp 31,92 triliun yang melibatkan 45,40 miliar saham dalam 2,96 juta kali transaksi.
IHSG ambruk sebagai respon pelaku pasar terhadap pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes.
Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
MSCI menjelaskan bahwa sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan. Namun, banyak investor menyampaikan kekhawatiran signifikan atas kategorisasi pemegang saham KSEI yang dinilai belum cukup andal untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.
Menurut MSCI, persoalan mendasar masih berkaitan dengan keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga wajar.
Oleh karena itu, MSCI menilai dibutuhkan informasi kepemilikan saham yang lebih rinci dan dapat diandalkan, termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham, guna mendukung penilaian free float yang lebih wajar atau sehat.
"Sejalan dengan kondisi tersebut, MSCI menerapkan perlakuan sementara atau interim treatment untuk sekuritas Indonesia yang berlaku efektif segera," sebagaimana disampaikan dalam pengumuman di situs resminya, sebagaimana dilaporkan CNBC.
Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko perputaran indeks dan risiko investabilitas sembari menunggu adanya perbaikan transparansi dari otoritas pasar terkait.
Dalam kebijakan sementara tersebut, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham atau Number of Shares (NOS) hasil peninjauan indeks maupun aksi korporasi.
Selain itu, MSCI tidak akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta menahan migrasi naik antar segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Atas kejadian ini, terdapat kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes. Bahkan, MSCI membuka peluang reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market, dengan tetap melalui proses konsultasi pasar.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan dikutip CNBC mengatakan pengumuman MSCI tersebut berdampak kepada risiko volatilitas meningkat dan potensi outflow asing bisa muncul, khususnya pada saham-saham yang sensitif terhadap arus dana berbasis indeks.
Sejumlah saham di Indonesia bergerak naik dengan narasi hendak masuk ke dalam indeks MSCI.



