Sudah dua minggu warga RW 07, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, mengandalkan getek sebagai satu-satunya alat transportasi untuk terhubung dengan dunia luar.
Sebelumnya, terdapat jembatan di atas Kali Beringin. Namun, jembatan yang dibangun secara swadaya oleh warga tersebut amblas diterjang banjir pada Kamis (15/1) malam.
Praktis, getek menjadi satu-satunya harapan untuk menghubungkan wilayah Mangunharjo dan Mangkang Wetan dengan Kampung Tambaksari.
Setiap pagi dan siang hari, bocah-bocah berseragam sekolah menggantungkan aktivitasnya pada sebuah getek yang terbuat dari jeriken biru yang digabungkan menjadi satu. Ukuran getek tersebut sekitar 1,5 x 2 meter dan hanya mampu menampung delapan anak.
Tak hanya anak sekolah, getek itu juga digunakan seluruh warga RW 07, Kelurahan Mangkang Wetan, untuk berbagai aktivitas, mulai dari berbelanja kebutuhan sehari-hari hingga bekerja ke kampung atau daerah lain.
Puluhan kendaraan milik warga pun terpaksa diparkir di sebuah tenda di tepi sungai.
Di Kota Semarang, ibu kota Jawa Tengah, hidup dan keselamatan warga RW 07 kini bergantung pada kecakapan sopir getek dan seutas tali yang digunakan untuk menyeberang.
Sopir getek bernama Ngamuri (46) sebenarnya merupakan nelayan setempat. Namun sementara waktu ia beralih profesi menjadi sopir getek demi membantu warga RW 07 menyeberangi sungai.
“Ini sudah mau dua minggu, hari Jumat (30/1) besok dua minggu. Ini saya membantu warga yang kesusahan, anak sekolah. Saya sebenernya nggak narik getek tapi ya mbantu-mbantu warga di sini,” ujar Ngamuri di lokasi, Rabu (28/1).
Ngamuri tidak mematok tarif bagi warga yang menggunakan jasanya. Warga dipersilakan membayar seikhlasnya untuk biaya perawatan getek.
“Bayar seikhlasnya buat beli bambu, buat perbaikan. Kasihan anak-anak sekolah cari ilmu kok susah banget. Tapi warga di sini itu guyub sekali, saling bantu,” jelasnya.
Ngamuri juga tidak sendirian menjaga getek tersebut. Jika ia berhalangan, tugasnya akan digantikan oleh warga lain.
“Jadi gantian kalau saya ndak bisa. Ini jalan terus kecuali kalau airnya sedang tinggi,” ungkap Ngamuri.
Ketua RT 9 RW 07, Mustaghfirin, berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen yang kuat dan tahan lama. Ia khawatir warganya setiap hari harus mempertaruhkan nyawa untuk menyeberangi sungai menggunakan getek.
“Kecamatan sudah tahu semua, mereka cuma memberi semangat. Di RW 7 ada sekitar 250-300 KK. Semua warga sudah menyampaikan agar segera terrealisasi jembatannya,” harap Mustaghfirin.
Meski terdapat jalur alternatif lain, jalan tersebut tidak dapat dilalui karena kontur tanah dan kondisi musim hujan. Selain itu, jarak tempuhnya juga cukup jauh.
“Sebenarnya ada jalan lain tapi mutar ke timur sana. Nggak bisa dilaluin karena dari tanah liat, ini kan lagi musim hujan,” imbuhnya.
Iksan, bocah kelas 3 Sekolah Dasar (SD), mengaku takut menyeberangi sungai menggunakan getek setiap hari.
“Setiap hari naik getek pergi pulang sekolah. Sama teman bareng-bareng. Pengennya ya ada jembatan lagi, takut kecempulung (terjebur ke sungai),” kata Iksan.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/4852925/original/033519100_1717507108-Timnas_Indonesia_-_Thom_Haye_dan_Ivar_Jenner_copy.jpg)


