Seperti yang banyak orang tahu, kuliah sambil bekerja bukanlah hal yang mudah. Saya dihadapkan dengan dua peran sekaligus, menjadi mahasiswa dan guru SD. Keduanya menuntut tanggung jawab dan kedisiplinan di mana saya harus benar-benar siap secara mental. Setiap hari selama 2 bulan perkuliahan saya menjalaninya dengan jadwal yang padat, berpindah dari satu kewajiban ke kewajiban lainnya tanpa banyak waktu untuk beristirahat.
Guru SD swasta, tantangan tersebut membuat saya terasa lebih kompleks. Di sekolah dituntut full senyum, memberikan pelayanan yang baik, hadir secara utuh, dan menjadi teladan bagi siswa. Sementara di bangku kuliah, harus memahami teori, menyelesaikan tugas akademik, dan memenuhi tuntutan perkuliahan. Nyatanya, mendapatkan pekerjaan saat masih menyandang predikat sebagai mahasiswa tidak seenak yang orang lain bicarakan. Ada beberapa kenyataan yang saya rasakan sebagai mahasiswa PGSD sekaligus guru, berdasarkan pengalaman pribadi yang barangkali relate dengan kehidupan para pembaca.
1. Pagi mengajar, malam kuliah
Di pagi hari, tenaga dicurahkan untuk mengajar dan memberi perhatian kepada siswa. Malam hari pun mau tidak mau harus mengerjakan tugas kuliah, bahkan melanjutkan administrasi sekolah yang belum terselesaikan. Rutinitas ini hampir tidak pernah berubah selama pembelajaran tiap semester perkuliahan. Kehidupan seolah-oleh berjalan 24 jam tanpa jeda.
Kondisi tubuh tidak bisa berbohong, memulai aktivitas dari pagi hingga larut malam tentu menyebabkan keletihan dan tidak heran banyak tugas yang tertunda untuk dikerjakan. Namun, dibalik rutinitas yang melelahkan ini, perlahan tumbuh sikap disiplin dari diri saya serta kemampuan management waktu yang semakin baik.
2. Ilmu dari perkuliahan langsung dipraktikkan di kelas, namun tidak semudah yang tertulis dalam modul
Kelebihan kuliah sambil mengajar adalah ilmu yang saya dapatkan bisa langsung diujikan di kelas sehingga mudah melekat di kepala. Namun, apa yang terlihat rapi dan ideal secara teori di dalam modul belum tentu mulus apabila dipraktikkan. Sering kali harus disesuaikan dengan kondisi nyata siswa yang memiliki karakter, kemampuan, dan latar belakang yang berbeda-beda.
Situasi kelas yang sering kali naik turun menuntut saya harus belajar keterampilan mengajar, menjelaskan, dan mengkondisikan kelas secara bersamaan. Ternyata sekadar membaca modul tidak langsung membuat saya jadi pandai menjadi guru, butuh kerja keras, jam kerja yang tinggi, dan memahami karakter siswa. Dari sinilah saya belajar bahwa menjadi pendidik tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya sesuai dengan realitas di lapangan.
3. Hari libur jadi sesuatu yang mewah
Tidak bisa berbohong, melihat orang-orang seumuran pulang kuliah bisa nongki dengan dengan mudah rasanya iri, sedang saya harus bekerja. Apalagi saat teman-teman pulang dari perantauan lalu mengajak kumpul tapi lagi-lagi harus lihat Kalender. Alasannya bermacam-macam mulai dari tidak adanya waktu libur yang sama, lelahnya badan sehingga harus membatalkan pertemuan, atau adanya kerjaan tambahan yang tidak bisa ditinggalkan.
Saat hari libur tiba rasanya seperti barang mewah di mana saya berhasil melewati sepekan dengan penuh tugas sekolah dan tugas kuliah. Hanya hari libur saya bisa bergabung bersama teman-teman. Hari-hari efektif bekerja mungkin bisa saya luangkan untuk nongki, tapi akan sangat melelahkan.
4. Tumbuh lebih dewasa dan tangguh
Menjalani peran ganda secara tidak langsung dalam diri saya terbentuk kedewasaan berpikir dan bersikap. Adanya tuntutan dari kampus dan sekolah mengajarkan bagaimana mengambil keputusan, mengatur prioritas, dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat. Situasi ini membuat saya belajar menghadapi tantangan tanpa mengeluh. Rasa lelah, keterbatasan akademik, dan tuntutan akademik tidak jarang ingin berhenti sejenak, bahkan menyerah. Namun dari proses inilah terbentuk daya tahan dan sikap percaya diri saya.
Prosesnya tidak mudah, tapi yakin bisa tumbuh jadi pribadi yang lebih mekar. Jika dibandingkan dengan orang lain tidak ada apa-apanya, tapi jika dibandingkan dengan diri saya di tahun-tahun yang lalu banyak sekali yang berubah. Ini memang bukan pengalaman terbaik saya, tapi saya belajar banyak dari pengalaman kuliah sambil mengajar ini.
5. Tugas kuliah sering bertabrakan dengan agenda sekolah
Salah satu tantangan paling nyata bagi mahasiswa PGSD sekaligus guru adalah ketika tugas kuliah berjalan bersamaan dengan deadline administrasi sekolah. Sering kali tugas mengerjakan soal, pembuatan bahan presentasi, dan merangkum beriringan dengan kegiatan study tour, persiapan kelulusan, hingga pembuatan laporan nilai siswa.
Kondisi ini pusingnya bukan main dan mau tidak mau saya harus memaksa otak bekerja dua kali libat lebih keras. Dari dua prioritas ini, seringkali saya tidak bisa memilih salah satunya. Jalan pintasnya harus rajin minum suplemen, tidur teratur, dan mengurangi nongki agar tidak drop.
Perjalanan saya sebagai guru SD yang juga menjalankan kuliah sangat menantang tapi juga proses kedewasaan yang sarat makna. Itulah beberapa kenyataan di balik manisnya ucapan orang-orang yang mengatakan bahwa kuliah sambil bekerja terasa enak karena sudah memiliki pekerjaan. Jika kamu berada di posisi sama dengan saya, pesan saya sederhana: terus semangat, terus melangkah, dan terus bertahan karena selalu ada hal baik meskipun musim kemarau panjang sekalipun.




