Angka Percobaan Bunuh Diri Remaja Meningkat Hampir Tiga Kali Lipat

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.

JAKARTA, KOMPAS — Kasus percobaan untuk mengakhiri hidup pada anak dan remaja butuh perhatian serius dari semua pihak. Dalam beberapa bulan terakhir, kasus terkait percobaan diri pada usia muda cukup tinggi. Data pun menunjukkan adanya peningkatan kasus yang signifikan pada usia remaja.

Peningkatan kasus percobaan bunuh diri terlihat dari data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) 2023. Survei yang dilakukan pada siswa usia 13-17 tahun di tiga wilayah, yakni Sumatera, Jawa, dan Bali, menunjukkan adanya peningkatan persentase percobaan bunuh diri pada siswa dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023. Itu artinya ada kenaikan hampir tiga kali lipat.

Dari data tersebut menunjukkan, angka percobaan bunuh diri lebih besar pada siswa perempuan yang mencapai 12,9 persen dibandingkan laki-laki sebesar 8,4 persen. Angka tersebut amat tinggi yang sekaligus memperlihatkan rapuhnya jiwa-jiwa remaja di Indonesia.

Baca JugaKetika Rel Kereta Menjadi Saksi Kerentanan Remaja
Baca JugaKesehatan Jiwa Remaja Pelajar Sering Diabaikan

Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Imran Pambudi yang dihubungi di Jakarta, Rabu (28/1/2026), mengatakan, anak sekolah dan remaja merupakan kelompok yang paling rentan mengalami masalah kesehatan jiwa. Dari hasil cek kesehatan gratis (CKG) yang telah dilakukan pada setidaknya 70 juta penduduk Indonesia, gejala depresi ditemukan paling banyak pada usia sekolah dan remaja.

Setidaknya dari 52,8 juta anak dan remaja usia 7-17 tahun yang dilakukan skrining kesehatan jiwa, sebanyak 5,6 persen atau lebih dari 400.000 anak menunjukkan gejala depresi. Selain itu, sekitar 4,4 persen atau 300.000 anak menunjukkan kemungkinan gejala kecemasan.

Jumlah itu jauh lebih besar daripada persentase yang ditemukan pada usia dewasa dan lansia. Persentase kemungkinan gejala kecemasan pada kelompok usia tersebut sekitar 0,9 persen dan gejala kecemasan sebesar 0,79 persen.

”Ini menunjukkan kecenderungan (masalah kesehatan jiwa) yang lebih tinggi pada kelompok usia muda. Meski perlu dicatat, alat skrining yang digunakan berbeda antara anak-anak dan usia dewasa-lansia,” kata Imran.

Meski begitu, menurut Imran, masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja tidak boleh disepelekan. Sebab, data lain dari survei yang dilakukan pada 100 lebih anak SMA, khususnya pada pengurus OSIS SMA di Jakarta menunjukkan sekitar 30 persen mengalami masalah kesehatan jiwa.

”Ini semakin memperkuat gambaran bahwa kerentanan kesehatan jiwa pada remaja memang cukup tinggi dan perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Media sosial

Imran menyebutkan, faktor pemicu masalah kesehatan jiwa bisa berbeda-beda di setiap usia. Pada usia remaja, biasanya tidak banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Meski tidak dimungkiri, ada juga anak-anak yang memiliki beban ekonomi karena faktor kondisi keluarga.

Selain itu, ia mengatakan, penggunaan media sosial juga turut memicu masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja. Media sosial seperti pedang bermata dua. Di satu sisi dapat bermanfaat untuk mendekatkan berbagai hal dalam satu genggaman tetapi di lain sisi juga dapat menjauhkan hal-hal yang sebenarnya berada di dekat orang tersebut.

Media sosial ini juga bisa memicu adanya persaingan diri dengan orang lain. Tidak sedikit pula remaja yang cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang dilihatnya di media sosial.

Hal tersebut semakin diperburuk dengan tekanan terkait validasi diri di media sosial. Anak dan remaja mengukur validasi sosial lewat likes ataupun followers di media sosial. Aktivitas daring yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kecemasan dan depresi hingga munculnya keinginan mengakhiri hidup.

Baca JugaMedia Sosial Mengambil Alih Waktu Remaja untuk Membaca, Menggambar, dan Olahraga
Baca JugaMedia Sosial Bisa Lebih Menghibur Dibandingkan Teman Biasa

”Anak muda cenderung membandingkan diri dengan pencapaian orang lain yang padahal kalau di media sosial hanya menampilkan sisi suksesnya saja. Itu bisa memicu rasa tidak aman, kecemasan, dan tekanan psikologis,” tutur Imran.

Dalam artikel yang terbit di laman UGM pada November 2025, Manajer Center for Public Mental Health Universitas Gadjah Mada Nurul Kusuma Hidayati menyebutkan, peran pengasuhan dalam keluarga kini banyak digantikan oleh media digital. Itu membuat anak-anak kehilangan kesempatan belajar langsung dari orangtua, terutama mengenai cara mengekspresikan dan mengelola perasaan dengan cara sehat.

”Paparan dunia digital yang tidak terkontrol semakin memperparah kondisi ini karena anak-anak sering kali tidak memiliki filter dalam menyerap informasi atau membandingkan diri dengan orang lain di media sosial,” katanya.

Selain itu, generasi muda, terutama yang lahir di tengah paparan teknologi digital, yang masif punya tekanan psikologis yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dengan paparan teknologi sejak lahir serta hidup dengan banjirnya informasi dan interaksi intensif di dunia maya.

Kondisi itu membuat mereka lebih akrab dengan dunia digital. Di sisi lain, kondisi itu juga membuat generasi ini lebih rentan terhadap kelelahan emosional (emotional burnout). Padahal, pengelolaan pikiran mereka belum matang. Hal tersebut memicu anak bisa terjebak dalam tekanan mental yang berat yang berujung pada tindakan ekstrem.

Namun, ia menuturkan, komunikasi antargenerasi kini juga semakin berjarak. Akibatnya, banyak orangtua dan guru tidak memahami masalah kesehatan mental yang dialami oleh anak-anak dan remaja. Deteksi dini pun tidak dapat dilakukan sehingga berisiko berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Baca JugaRemaja Paling Banyak Alami Kesepian, Risiko Bunuh Diri Pun Meningkat
Baca JugaRemaja dengan Masalah Kesehatan Mental Menggunakan Media Sosial secara Berbeda

Keluarga menjadi gerbang utama dalam mencegah masalah kesehatan mental pada anak dan remaja. Keluarga perlu membangun komunikasi yang lebih suportif sehingga tanda-tanda awal perubahan perilaku anak bisa diketahui sejak dini.

Selain itu, sekolah juga berperan untuk membangun sistem kesehatan mental secara komprehensif. Upaya promotif dan preventif harus diutamakan daripada sekadar penanganan setelah terjadi masalah. Rujukan ke psikolog atau konselor perlu disediakan dalam sistem pembelajaran di sekolah.

Menurut Nurul, angka kasus bunuh diri yang semakin meningkat di usia muda harus dimaknai sebagai alarm darurat untuk segera melakukan langkah cepat dalam melindungi kesehatan mental anak. Kesejahteraan anak tidak bisa dipandang sebatas prestasi akademik, tetapi juga kesejahteraan mental dari setiap anak-anak di Indonesia.

”Ini sudah semacam wake-up call yang harus membuat semua pihak waspada. Sudah saatnya setiap elemen bangsa melihat kesehatan mental anak sebagai hal yang penting untuk diperhatikan,” ujarnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
PSI Dukung Polri Tetap di Bawah Presiden: Wujud Supremasi Sipil
• 14 jam laludetik.com
thumb
Wamenag Harap Awal Puasa Ramadan 2026 Bisa Serempak, Masyarakat Diminta Tunggu Sidang Isbat
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
PBNU Gelar Puncak Harlah ke-100 Masehi di Istora Senayan 31 Januari, Undang Presiden Prabowo
• 12 jam laluliputan6.com
thumb
Tanpa Inggris-Prancis, Donald Trump Umumkan 26 Anggota Dewan Perdamaian Gaza Termasuk Indonesia
• 10 jam lalumerahputih.com
thumb
Dashcam Bisa Mencegah Tindak Kejahatan di Jalan, Kok Bisa?
• 19 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.