IHSG Tersengat Pengumuman MSCI, Investor Bisa Alihkan Fokus ke Saham Berfundamental Kuat

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

Dengan tenggat waktu hingga Mei 2026, investor masih memiliki ruang untuk menyesuaikan strategi investasi.

IHSG Tersengat Pengumuman MSCI, Investor Bisa Alihkan Fokus ke Saham Berfundamental Kuat (Foto: dok Freepik)

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami guncangan hebat pada perdagangan Rabu (28/1/2026) setelah pengumuman terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). 

IHSG sempat anjlok hingga 8,8 persen secara intraday yang memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt), sebelum akhirnya ditutup melemah 7,3 persen di level 8.320,6.

Baca Juga:
MSCI Picu Guncangan Pasar, IHSG Terkoreksi 8 Persen dan Kena Trading Halt

Tekanan tajam tersebut dipicu oleh keputusan MSCI pada Selasa (27/1/2026) yang mengumumkan penerapan perlakuan sementara (temporary treatment) terhadap pasar saham Indonesia. Kebijakan ini mencakup pembekuan sejumlah perubahan dalam indeks MSCI, termasuk indeks review Februari 2026.

Dalam pengumumannya, MSCI membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), menghentikan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta menunda perpindahan saham antar segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard Index. 

Baca Juga:
BEI Ungkap Strategi Redam Gejolak Pasar Pascapengumuman MSCI

Langkah ini dilakukan untuk menekan tingkat index turnover sekaligus memitigasi risiko kelayakan investasi (investability) di pasar Indonesia.

MSCI menilai, pasar modal Indonesia masih menghadapi tantangan struktural, terutama terkait transparansi kepemilikan saham dan penilaian free float. 

Baca Juga:
IHSG Turun 8 Persen, CEO Danantara Dorong BEI Tindaklanjuti Permintaan MSCI

Sebelumnya, pada Oktober 2025, MSCI telah menggelar konsultasi pasar terkait rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report dari KSEI sebagai referensi tambahan dalam penghitungan free float. 

Namun, hasil konsultasi tersebut menunjukkan kekhawatiran investor global terhadap kurangnya transparansi struktur kepemilikan serta potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu mekanisme pembentukan harga yang wajar.

Baca Juga:
IHSG Turun hingga 8 Persen Imbas Pengumuman MSCI, Purbaya Beri Respons Begini

MSCI menegaskan bahwa peningkatan transparansi informasi kepemilikan saham yang lebih rinci dan reliabel menjadi kunci untuk memperkuat penilaian investability pasar Indonesia. 

Apabila tidak terdapat kemajuan signifikan hingga Mei 2026, MSCI akan melakukan evaluasi ulang terhadap status aksesibilitas pasar Indonesia. Risiko terburuk dari evaluasi tersebut mencakup penurunan bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index hingga potensi reklasifikasi dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier.

Menanggapi hal tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) yang terdiri dari KSEI, KPEI, dan OJK menyatakan komitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan MSCI. 

Otoritas pasar menilai masukan dari MSCI sebagai bagian penting dalam upaya meningkatkan kredibilitas dan daya saing pasar modal Indonesia di mata investor global.

Tekanan jual pada perdagangan Rabu bersifat menyeluruh. Sebanyak 753 dari 910 saham yang tercatat di IHSG ditutup di zona merah, mencerminkan efek domino dari kejatuhan harga saham-saham konglomerasi yang selama ini memiliki bobot besar di indeks.

Dalam kondisi tersebut, Stockbit menilai investor tidak perlu bersikap reaktif berlebihan. Dengan tenggat waktu hingga Mei 2026, investor masih memiliki ruang untuk menyesuaikan strategi investasi. 

"Dalam jangka pendek, fokus dapat dialihkan ke saham-saham dengan fundamental solid, terutama emiten yang tidak tergabung dalam indeks MSCI Indonesia sehingga memiliki risiko aliran dana pasif yang lebih terbatas," tulis Stockbit, Rabu (28/1/2026) malam.

Selain itu, koreksi tajam IHSG berpotensi membuka peluang akumulasi menjelang musim pembagian dividen yang umumnya dimulai pada April 2026. Dengan pendekatan selektif dan berorientasi fundamental, tekanan pasar akibat sentimen global dapat dimanfaatkan sebagai peluang investasi jangka menengah hingga panjang.

(DESI ANGRIANI)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Agensi sebut FOREVER:CHERRY merek kolaborasi Jang Won Young IVE
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Jauh-jauh dari Jatim, Buruh Kecewa Gagal Mengadu ke Mensesneg soal PT Pakerin
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Kasus HIV Kota Malang Tertinggi Kedua di Jatim, DPRD Bakal Godog Perda Penanggulangan
• 18 jam lalurealita.co
thumb
BRI Super League: Bojan Hodak Pastikan Tak Ada Perlakuan Khusus bagi Pemain Bintang di Persib
• 16 jam lalubola.com
thumb
Pesan Tegas Komisi III DPR: Keadilan di Atas Kepastian Hukum, Kasus Hogi Minaya Wajib Dihentikan
• 15 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.