Saham PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) mencatatkan net buy asing sekitar 51 juta pada perdagangan Rabu (28/1/2026).
IDXChannel - Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) mencatatkan net buy asing sekitar 51 juta pada perdagangan Rabu (28/1/2026).
Aksi beli tersebut dilakukan di tengah investor asing membukukan tekanan jual di pasar reguler. Masuknya aliran dana asing ke saham REAL mengindikasikan adanya sentimen yang membuat emiten ini tetap dilirik di tengah volatilitas pasar.
Analis MNC Sekuritas Rudy Setiawan, menilai saham REAL saat ini berada pada level yang baik, secara valuasi maupun sentimen.
Menurutnya, PBV REAL berada di kisaran 1,2x, yang mencerminkan valuasi relatif murah, sementara pergerakan harga saham telah berada di area oversold setelah mengalami tekanan koreksi.
“Selain faktor teknikal yang sudah oversold, saat ini REAL juga sedang mengembangkan bisnis ke sektor properti digital melalui data center, yang menjadi salah satu tema investasi yang tengah diminati investor asing. Kombinasi valuasi yang relatif murah dan sentimen pengembangan bisnis ini membuka peluang technical rebound,” ujar Rudy dalam keterangan tertulis Kamis (29/1/2025).
Meski demikian, pelaku pasar tetap diimbau mencermati realisasi konkret dari pengembangan bisnis data center REAL ke depan, termasuk kejelasan model bisnis, kebutuhan belanja modal (capex), skema pendanaan, serta dampaknya terhadap kinerja keuangan perseroan.
Dengan kombinasi masuknya aliran dana asing, valuasi yang masih atraktif, serta kuatnya sentimen investasi data center yang tengah digencarkan investor global, saham REAL berpotensi menjadi sorotan pelaku pasar di tengah tekanan dan volatilitas bursa saham domestik.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah rencana pengembangan bisnis REAL ke sektor properti digital, khususnya data center. Perseroan disebut tengah mengkaji dan mengembangkan segmen properti berbasis digital, seiring meningkatnya kebutuhan lahan dan bangunan khusus untuk pusat data di Indonesia.
Sentimen tersebut sejalan dengan semakin agresifnya investasi asing di sektor data center Tanah Air. Sejumlah investor global tercatat tengah mengucurkan dana jumbo untuk membangun pusat data di Indonesia.
Salah satunya adalah Digital Edge, perusahaan data center asal Singapura, yang berencana menggelontorkan investasi hingga USD4,5 miliar untuk membangun kampus data center berskala besar di kawasan Bekasi.
Masifnya investasi asing tersebut menegaskan Indonesia sebagai salah satu tujuan utama investasi data center di Asia Tenggara, didorong oleh pertumbuhan ekonomi digital, cloud computing, hingga meningkatnya kebutuhan komputasi dan penyimpanan data berkapasitas besar. Bagi emiten properti, data center dinilai sebagai aset dengan karakter pendapatan berulang (recurring income) dan stabilitas arus kas yang lebih baik dibandingkan properti konvensional.
(kunthi fahmar sandy)




