Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.723 per Rabu, 28 Januari 2026. Posisi rupiah itu menguat 78 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.801 pada perdagangan Selasa, 27 Januari 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Kamis, 29 Januari 2026 hingga pukul 09.05 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.771 per dolar AS. Posisi itu melemah 49 poin atau 0,29 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.722 per dolar AS.
- ANTARA
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar merespons positif kebijakan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang mengumumkan empat program stimulus tahun 2025 yang akan dilanjutkan pada tahun 2026.
Antara lain meliputi PPh Final 0,5 persen bagi UMKM hingga tahun 2029, PPh 21 DTP (Ditanggung Pemerintah) untuk pekerja sektor pariwisata, serta PPh 21 DTP untuk pekerja industri padat karya, Diskon iuran JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja) dan JKM (Jaminan Kematian) bagi peserta Bukan Penerima Upah (BPU).
Di tengah tekanan harga komoditas dan gejolak global, APBN menjalankan peran strategis sebagai peredam guncangan (shock absorber). Sepanjang tahun 2025, realisasi belanja negara mencapai Rp 3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari APBN, sementara pendapatan negara tercatat sebesar Rp 2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari APBN.
Defisit anggaran hingga akhir 2025 tercatat sebesar Rp 695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap PDB. Dana tersebut dialokasikan untuk program pembangunan nasional yang berdampak langsung ke masyarakat.
Realisasi belanja negara di antaranya yakni untuk pelaksanaan program pembangunan nasional seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG), pembinaan program Koperasi Desa (KUD), dan paket stimulus 1 sampai dengan 4 selama tahun 2025 guna menjaga daya beli masyarakat dan dunia usaha.
Pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatatkan perbaikan kinerja dengan penurunan yield SBN 10 tahun ke level 6,41 persen. Angka ini turun signifikan dibandingkan posisi akhir tahun 2024 yang sempat berada di atas 7 persen, dan mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap tata kelola fiskal Indonesia.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5486637/original/099632500_1769592758-pramono_dan_lemhannas.jpeg)