Misteri Gelondongan Kayu Terbawa Banjir hingga Pesisir Tegal, Dari Mana Asalnya?

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Beberapa hari terakhir, masyarakat di Jawa Tengah dihebohkan dengan adanya gelondongan kayu berukuran sedang hingga besar yang berserakan di sekitar muara Sungai Ketiwon hingga Pantai Larangan, Kabupaten Tegal. Masyarakat pun bertanya-tanya, dari mana kayu-kayu yang diduga ikut terbawa banjir bandang itu berasal? 

Kayu-kayu gelondongan yang berserak itu pertama kali diketahui warga pada Sabtu (24/1/2026) pagi. Kala itu, sejumlah wilayah di lereng Gunung Slamet, seperti Pemalang, Tegal, Purbalingga, dan Brebes, baru saja dilanda banjir bandang pada Jumat (23/1/2026) malam hingga Sabtu dini hari.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jateng Widi Hartanto mengatakan, asal kayu-kayu tersebut masih belum bisa dipastikan. Pihaknya bersama dengan Kementerian Kehutanan dan Perhutani masih menelusuri hal tersebut.

Baca JugaBatu Sebesar Mobil Hantam Rumah Saat Banjir Bandang Pemalang, Apa yang Terjadi?

Kendati demikian, Widi menduga, kayu-kayu itu berasal dari hutan rakyat di lereng Gunung Slamet. ”Ada potensi dari hutan rakyat ya, dari lahan-lahan yang baru panen,” katanya, Rabu (28/1/2026).

Gelondongan kayu tersebut, katanya, bukanlah kayu besar, melainkan kayu-kayu berukuran kecil. Jenis kayunya biasa ditanam di hutan rakyat, seperti kayu sengon. Belum ada kayu dari tanaman yang biasanya ada di hutan lindung, seperti kayu pinus.

”Kami masih cek, masih melihat apakah di situ ada (kayu) pinus apa tidak. Namun, identifikasi sementara kemarin memang belum ditemukan yang kayu pinus,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai apakah ada kemungkinan kayu-kayu itu berasal dari aktivitas pembakalan, Widi mengaku belum bisa menyimpulkan. Namun, apabila ditemukan adanya pembalakan ilegal, pelakunya bakal disanksi.

Widi mengakui, tutupan lahan di Gunung Slamet cenderung kurang rapat sehingga menjadi salah satu pemicu bencana, seperti tanah longsor dan banjir bandang. Tutupan lahan yang kurang rapat itu, menurut dia, terjadi karena berbagai faktor, salah satunya penebangan dengan tujuan alih fungsi lahan. Untuk itu, rehabilitasi hutan dan lahan di kawasan tersebut terus didorong.

Di samping itu, DLHK Jateng juga mengusulkan agar Gunung Slamet menjadi taman nasional. Usulan itu telah dilakukan pada 2025. Kini, mereka sedang menunggu kedatangan tim terpadu dari Kementerian Kehutanan dan akademisi untuk melakukan kajian dan pemetaan.

”Kalau sudah menjadi taman nasional, nanti akan lebih ada akselerasi, termasuk dari Kementerian Kehutanan melakukan upaya-upaya perbaikan hutan. Seperti yang telah kita lihat, beberapa waktu lalu ada penebangan. Ini nanti akan bisa direhabilitasi dengan lebih baik lagi,” ujar Widi.

Dikonfirmasi terpisah, Administrator Kesatuan Pemangkuan Hutan Pekalongan Barat, Maria Endah Ambarwati, mengatakan, Perhutani sudah mengecek kayu-kayu yang terbawa banjir bandang sampai ke Pantai Larangan. Menurut Maria, kayu-kayu itu bukanlah berasal dari kegiatan yang disengaja.

”Jadi, itu bukan berasal dari kegiatan tebangan resmi karena Perhutani tidak ada kegiatan penebangan di lereng Gunung Slamet. Bukan juga (dari hasil) tebangan ilegal karena kita bisa lihat dari bekas batangnya tidak rapi dan itu sudah lama, kelihatan sudah lapuk,” kata Maria dalam keterangan yang diterima Kompas, Rabu.

Maria menduga, pohon-pohon tersebut roboh ketika hujan deras terjadi di lereng Gunung Slamet beberapa waktu terakhir. Kemudian, batangnya ikut larut terbawa air hingga masuk ke aliran sungai dan berakhir di Pantai Larangan yang menjadi muara sungai.

Kendati kulitnya telah terkelupas, kayu-kayu yang terbawa banjir bandang itu, kata Maria, masih bisa dikenali jenisnya. Selain kayu sengon, ada kayu lokal, yakni gringging. Perhutani, kata Maria, tidak menanam kedua jenis kayu itu di Gunung Slamet. 

Deforestasi

Staf Kajian dan Pengelolaan Pengetahuan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jateng, Bagas Kurniawan, mengatakan, munculnya gelondongan kayu yang terbawa banjir bandang sampai ke muara mengindikasikan adanya deforestasi yang massif di wilayah hulu. Kondisi kayu yang terkelupas juga menjadi tanda bahwa tumbangnya pohon itu bukan alami, melainkan karena ulah manusia.

”Penebangan itu, baik legal maupun ilegal, saat ini sudah tidak penting lagi. Faktanya, aktivitas itu terbukti mengundang bencana,” ujar Bagas. 

Bagas mengatakan, berdasarkan perkembangan citra satelit dalam beberapa waktu terakhir, jejak deforestasi di Gunung Slamet terekam. Setiap tahunnya, wilayah tutupan yang sebelumnya rapat menjadi semakin terbuka.

Deforestasi yang terjadi di Gunung Slamet seiring dengan terus meluasnya kawasan pertambangan. Kendati demikian, aktivitas itu tidak kunjung dievaluasi karena dinilai telah mengantongi izin.

”Pemerintah dalam hal ini jangan hanya terpaku pada apakah aktivitas itu legal atau tidak, tetapi lihat lebih jauh apakah aktivitas itu dapat berkontribusi lebih besar terhadap kebencanaan yang ada,” ujarnya.

Bagas berharap, bencana banjir bandang yang menerjang empat wilayah di lereng Gunung Slamet itu menjadi titik balik bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi mendalam. Ke depan, izin-izin kegiatan yang berpotensi merusak, seperti penambangan, hendaknya tak lagi dikeluarkan. Pemerintah diharapkan fokus pada perlindungan dan pemulihan kondisi lingkungan.

Keterangan Bagas soal makin terbukanya tutupan lahan diamini oleh Candra (18), warga Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Pemalang. Remaja yang kerap naik Gunung Slamet itu menyaksikan sendiri gundulnya hutan di gunung tersebut.

”Terakhir saya naik Gunung Slamet itu Mei 2025. Itu posisinya sudah gundul banget. Vegetasinya jarang-jarang, terus ada longsoran juga. Padahal, kalau kata orang-orang tua, dulu vetagasinya itu rapat,” kata Candra saat ditemui, Senin (26/1/2026).

Candra yang saat ini turut terdampak dalam banjir bandang berharap pemerintah segera bertindak supaya bencana serupa tidak kembali terulang. Selain menghentikan aktivitas yang berpotensi semakin merusak Gunung Slamet, Candra ingin agar ada penanaman kembali di lahan-lahan yang telah gundul.

Dimanfaatkan warga

Video dan foto soal kayu-kayu yang berserakan di Pantai Larangan dengan cepat viral di media sosial. Hal itu lantas mengundang perhatian warga di Tegal dan sekitarnya untuk datang menyaksikan langsung. Sebagian dari mereka bahkan datang untuk mengambil kayu-kayu itu.

Hasanah (51), warga Desa Munjungagung, Kecamatan Kramat, Tegal, adalah satu dari ratusan orang yang datang ke Pantai Larangan untuk mengambil kayu. Aktivitas itu dilakoni Hasanah yang rumahnya berjarak sekitar 200 meter dari pantai itu sejak Minggu (25/1/2026). 

”Saya sudah bolak-balik mengangkut kayu-kayu ini ke rumah, pakai gerobak. Rencananya mau saya pakai untuk kayu bakar. Lumayan, biar hemat gas,” kata Hasanah, Senin.

Hasanah menyebut, adanya gelondongan kayu-kayu yang jumlahnya banyak hampir memenuhi bibir pantai itu baru pertama kali terjadi selama puluhan tahun terakhir. Biasanya, kayu-kayu yang sampai ke pantai jumlahnya sedikit, bisa dihitung jari.

”Kali ini, jumlah kayunya luar biasa banyak. Ini dari Sabtu, orang-orang tidak pernah berhenti ambil kayu, dari pagi sampai sore hari. Namun, sampai sekarang masih banyak banget. Rasanya enggak habis-habis saking banyaknya,” ujarnya.

Tak hanya warga setempat, warga dari kecamatan lain juga menyerbu Pantai Larangan untuk mengambil kayu-kayu tersebut. Karnadi (62), warga Desa Jatibogor, Kecamatan Suradadi, Tegal, misalnya, datang jauh-jauh membawa mobil bak terbuka ke Pantai Larangan pada Senin.

Sama seperti warga lainnya, Karnadi ingin mengangkut kayu-kayu itu ke rumahnya. Menurut rencana, kayu-kayu itu bakal dimanfaatkan untuk membakar batu bata.

”Saya pertama kali lihat di Tiktok, orang ramai-ramai ambil kayu ke sini, jadi saya ikut-ikutan. Saya sampai mengajak dua tetangga yang biasa bantu saya bakar-bakar batu bata untuk mengangkut kayu-kayu ini. Daripada mengotori pantai, mending kami manfaatkan,” ujarnya.

Baca JugaBanjir Badang Terjang Pemalang, Ribuan Warga Mengungsi

Karnadi senang karena mendapatkan kayu-kayu secara gratis untuk membakar batu bata yang diproduksinya. Di sisi lain, Karnadi prihatin karena artinya ada yang tidak beres dengan lingkungan di Gunung Slamet sampai kayu-kayu sebanyak itu bisa terbawa sampai ke pantai.

”Ya, kalau disuruh memilih, mending saya tidak usah dapat kayu-kayu ini. Mending kayunya tetap di gunung saja, kan memang tempatnya seharusnya di situ,” ujarnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tuduh Penjual Es Gabus, Babinsa akan Diberi Hukuman Disiplin
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kali Bekasi Meluap, Gang Mawar Kota Bekasi Banjir 90 cm
• 4 jam laluidntimes.com
thumb
Menghadap Presiden Prabowo, Menteri Nusron Laporkan 554 Ribu Hektare Sawah Jadi Perumahan
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Danantara Gaspol KRL Baru, Rute Jakarta-Cikampek dan Sukabumi Siap Tersambung Listrik pada 2026
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Waspada Musim Hujan, Ini Cara Cegah Hewan Masuk ke Dalam Rumah-Serius Ini Hewan?
• 5 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.