JAKARTA, KOMPAS - Dua kasus virus Nipah yang mematikan di India telah mendorong pihak berwenang di Thailand, Singapura, Hong Kong, dan Malaysia untuk meningkatkan pemeriksaan di bandara untuk mencegah penyebaran infeksi. Indonesia juga meningkatkan pengawasan kesehatan terhadap kedatangan internasional di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selain upaya itu, kita juga perlu waspada mengingat banyaknya pintu masuk.
"India kemarin menyatakan bahwa situasi penularan virus Nipah telah mereka kendalikan, tetapi Singapura tetap mengumunkan peningkatan kewaspadaan," kata Tjandra Yoga Aditama, Adjunct Professor Griffith University Australia, di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Virus Nipah yang dibawa oleh kelelawar buah dan hewan seperti babi, dapat menyebabkan demam dan peradangan otak serta memiliki tingkat kematian antara 40 persen hingga 75 persen. Meski dapat menyebar dari orang ke orang, penularannya tidak mudah dan biasanya membutuhkan kontak yang lama dengan individu yang terinfeksi.
Penyakit ini lebih umum menyebar ke manusia dari kelelawar yang terinfeksi atau buah yang terkontaminasi oleh kelelawar tersebut. Menurut laporan Reuters, infeksi virus Nipah di India akhir Desember lalu di negara bagian Bengal Barat, India timur, didapati pada dua tenaga kesehatan. Keduanya kini dirawat di rumah sakit setempat.
Kementerian Kesehatan India, dalam pernyataan Selasa (27/1/2026) menyatakan telah mengidentifikasi dan melacak 196 kontak yang terkait dengan dua kasus tersebut. Tidak ada satupun yang menunjukkan gejala dan semuanya negatif penyakit Nipah. "Angka spekulatif dan tidak akurat mengenai kasus penyakit virus Nipah sedang beredar," demikian pernyataan itu.
Laporan infeksi tersebut membuat sejumlah negara waspada, salah satunya Thailand yang melakukan upaya pencegahan penularan ke negaranya dengan serius. "Thailand melakukan skrining (penapisan) pelaku perjalanan di Bandara Suvarnabhumi, Don Mueang, dan Phuket," kata Tjandra.
Bahkan, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengeluarkan pernyataan khusus tentang penyakit ini. PM Charnvirakul menyebutkan bahwa di Thailand belum ada kasus penyakit virus Nipah ini. Meski begitu, monitoring kesehatan masyarakat dan penapisan ditingkatkan.
Penyakit ini lebih umum menyebar ke manusia dari kelelawar yang terinfeksi atau buah yang terkontaminasi oleh kelelawar tersebut.
Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand melaporkan, sampai 27 Januari 2026, lebih dari 1.700 penumpang pesawat udara yang datang dari Kolkata, India, ke tiga bandara di Thailand sudah ditapis. Sejauh ini tidak ada kasus positif penyakit Nipah.
Departemen Pelayanan Medik Thailand juga sudah menginstruksikan tiga Rumah Sakit untuk menyiapkan ruang isolasi dan tim dokter spesialis bila nantinya ada kasus terduga dan terkonfirmasi yang dideteksi.
Tjandra mengatakan, Pemerintah Singapura juga telah mengumumkan enam langkah awal antisipasi infeksi virus Nipah. Pertama, penapisan temperatur bagi pendatang dari daerah terjangkit akan dilakukan di bandara Changi.
Ke dua, meminta para dokter dan laboratorium untuk segera melaporkan ke “Communicable Diseases Agency/CDA” jika menemukan kasus suspek atau terkonfirmaasi penyakit Nipah. Ketiga, meminta rumah sakit untuk waspada akan kemungkinan pasien dengan riwayat kunjungan ke West Bengal yang datang dengan gejala yang serupa dengan infeksi virus Nipah.
Ke empat, memberikan penyuluhan kesehatan di bandara. Mereka yang datang ke Singapura akan segera diminta menghubungi petugas kesehatan kalau mengalami gangguan kesehatan. Sedangkan warga yang akan ke bepergian keluar dari Sigapura akan diberi informasi untuk kehati-hatian.
Ke lima, surveilans pada pekerja migran yang baru datang dari Asia Selatan akan ditingkatkan. Ke enam, koordinasi dengan otoritas pengendalian penyakit menular di Asia Selatan terus dilakukan untuk memonitor ketat perkembangan.
"Keenam upaya kesehatan masyarakat Singapura yang baru diumumkan 28 Januari 2026 menunjukkan upaya keras untuk melindungi warga dan rakyat Singapura,” ujar Tjandra.
Kantor Karantina Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta telah meningkatkan pengawasan terhadap pelancong internasional sebagai bagian dari strategi proaktif untuk mencegah masuknya virus Nipah.
"Kami memiliki sistem profil untuk setiap penerbangan langsung dari negara-negara yang terdampak. Kami menganalisis deklarasi kesehatan yang diisi penumpang 21 hari sebelum kedatangan mereka untuk mengidentifikasi potensi risiko," kata Naning Nugrahini, Kepala BBKK Soekarno-Hatta, pada Selasa (17/1/2026), seperti dikutip oleh Antara.
Menurut Naning, penapisan mewajibkan maskapai penerbangan melakukan pemeriksaan kesehatan awal di titik keberangkatan hingga pengecekan status kesehatan setiap penumpang.
Proses penyaringan di bandara dilakukan dengan pemindai suhu tubuh untuk mendeteksi demam dan inspeksi visual oleh petugas medis. Apabila penumpang terdeteksi memiliki gejala seperti demam tinggi, kebingungan, atau kesulitan bernapas, petugas karantina akan melakukan inspeksi di dalam pesawat sebelum penumpang turun.
Selain itu, BBKK berkoordinasi dengan otoritas karantina hewan karena virus ini dibawa oleh kelelawar buah dan ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi atau kontak dengan hewan yang terinfeksi seperti babi.
Tjandra berharap, penapisan juga dilakukan di bandara-bandara internasional lain di Indonesia, termasuk di pintu masuk pelabuhan.





