Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) menilai kinerja investasi dana pensiun sepanjang 2025 menunjukkan pertumbuhan dengan aset yang terjaga positif. Strategi investasi yang cenderung konservatif dinilai relevan untuk menjaga stabilitas dan keamanan dana peserta.
Humas ADPI Syarifudin Yunus mengatakan, pertumbuhan tersebut tercermin dari peningkatan dana kelolaan industri dana pensiun. Meski portofolio investasi masih didominasi instrumen berisiko rendah, imbal hasil yang diperoleh relatif stabil.
“Sekalipun portofolio investasi masih konservatif, return investasi relatif stabil. Memang imbal hasil tidak melonjak drastis, tetapi investasi dana pensiun pada 2025 tetap tumbuh dan aman untuk mendukung stabilitas jangka panjang bagi peserta pensiun,” ujar Syarifudin, dikutip Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan, portofolio investasi dana pensiun saat ini masih didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN), deposito, obligasi, serta sukuk korporasi. Menurut dia, komposisi tersebut mencerminkan karakter dana pensiun yang berhati-hati, menghindari volatilitas tinggi, sekaligus menjaga likuiditas untuk pembayaran manfaat pensiun.
Penempatan dana pada instrumen konservatif itu dinilai sejalan dengan prinsip tata kelola dana pensiun. Namun, untuk jangka panjang, Syarifudin menilai strategi yang lebih agresif tetap diperlukan secara selektif dan bertahap.
“Diversifikasi diperlukan asal berbasis profil peserta dan tetap dalam koridor manajemen risiko. Edukasi dan kompetensi menjadi prasyarat penting,” tegasnya.
Baca Juga
- Goldman Sachs Turunkan Peringkat Saham Indonesia Usai Peringatan MSCI
- Apa Itu MSCI, Daftar Saham dan Mengapa Penting Bagi Investor
- Perhitungan Pesangon PHK 2026 dan Hak-Hak Pekerja
Ia menambahkan, pilihan mayoritas dana pensiun bertahan pada instrumen berisiko rendah bukan karena kurangnya pemahaman terhadap diversifikasi, melainkan karena struktur kewajiban dan kerangka regulasi yang menuntut stabilitas jangka pendek.
“Tantangan seperti dinamika suku bunga, volatilitas pasar, dan ketidakpastian ekonomi global seharusnya menjadi momentum untuk mengelola dana pensiun secara lebih strategis dan berorientasi jangka panjang dengan tata kelola yang kuat,” kata Syarifudin.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total investasi industri dana pensiun hingga November 2025 mencapai Rp388,10 triliun, tumbuh 5,61% year on year. Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menyampaikan, portofolio investasi dana pensiun masih didominasi instrumen konservatif sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko jangka panjang.
“Terutama Surat Berharga Negara, deposito, serta obligasi dan sukuk korporasi,” ujar Ogi dalam lembar jawaban Rapat Dewan Komisioner (RDK) Desember 2025.
OJK juga mencatat hingga November 2025, imbal hasil investasi dana pensiun mencapai 7,34%, mencerminkan pengelolaan investasi yang prudent di tengah dinamika pasar keuangan.





