TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com – Permohonan maaf telah disampaikan, tetapi proses hukum belum sepenuhnya selesai. Itulah situasi yang kini dihadapi Christiana Budiyati atau Bu Budi, guru Sekolah Dasar di Pamulang, Tangerang Selatan, yang dilaporkan ke polisi atas dugaan kekerasan verbal terhadap muridnya.
Permintaan maaf tersebut disampaikan Bu Budi dalam proses mediasi atau restorative justice yang digelar di Mapolres Tangerang Selatan, Serpong, Rabu (28/1/2026). Mediasi itu mempertemukan pihak guru dengan orangtua murid sebagai pelapor.
Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan AKP Wira Graha Setiawan mengatakan, Bu Budi menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada pelapor dalam forum tersebut.
Baca juga: Komnas PA Dorong Kebiri Kimia bagi Guru Pelaku Pelecehan di Tangsel
“Dari pihak terlapor menyampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya jika dalam hal mendidik anak ada kata-kata kurang berkenan dari anak atau pun wali murid tersebut,” ujar Wira saat ditemui di Mapolres Tangsel, Rabu.
Selain itu, Bu Budi juga meminta maaf apabila selama proses belajar-mengajar terdapat kekeliruan atau ucapan yang dianggap menyinggung perasaan murid maupun orangtuanya.
Laporan masih berjalan
Meski telah dilakukan mediasi, laporan ke kepolisian hingga kini belum dicabut.
Menurut Wira, keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan pihak pelapor.
“Pihak pelapor masih minta waktu dan meminta ruang untuk diberikan kepada keluarga dan anaknya,” kata Wira.
Ia menambahkan, pelapor belum menentukan batas waktu untuk mengambil keputusan, meski membuka peluang penyelesaian melalui restorative justice.
Baca juga: Maaf dari Guru SD di Pamulang yang Dipolisikan Usai Nasihati Murid...
“Dari pelapor memang masih memikirkan apakah hal tersebut masih bisa diterima atau belum. Namun dari pihak pelapor sangat membuka diri, sudah progres baik,” ujarnya.
Awal mula perkara
Kasus ini bermula dari kegiatan lomba sekolah pada Agustus 2025.
Saat itu, seorang murid terjatuh ketika digendong oleh temannya yang belum siap.
Murid yang menggendong tersebut justru meninggalkan temannya yang terjatuh.
Bu Budi kemudian menegur murid tersebut. Namun, teguran itu dipersepsikan sebagai kemarahan yang disampaikan di depan kelas.