Tekanan pasar saham akibat kebijakan MSCI tak hanya dirasakan investor institusi, tetapi juga berdampak langsung ke investor ritel. Ini terlihat dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
BEI melakukan trading halt setelah IHSG merosot hingga 8 persen ke level 7.654,66 pada perdagangan Kamis (29/1), seiring respons negatif pasar terhadap keputusan MSCI membekukan sejumlah aksi rebalancing indeks saham Indonesia akibat persoalan transparansi dan free float.
Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy menjelaskan, meskipun kebijakan MSCI secara langsung menyasar investor asing dan dana pasif global, dampaknya ikut merembet ke investor ritel domestik.
“Begitu saham-saham yang dimiliki asing itu pada dijual, net sale, net foreign sale itu kan berdampak ke saham-saham yang lain. Jadi itu akibat investor domestik ikut panik juga, ya jadi terkena juga dampaknya, saham-saham yang sebenarnya hampir tidak ada hubungannya dengan kepemilikan asing ya," ucap Budi ketika dihubungi kumparan, Kamis (29/1).
Menurut Budi, pembekuan rebalancing indeks MSCI tetap berpotensi mempengaruhi saham yang biasa dimiliki investor ritel, terutama saham berkapitalisasi besar.
“Ya, kalau retailnya memiliki saham yang sama seperti investor asing dan ETF asing, iya. Tapi yang relatif yang tidak dimiliki oleh investor asing juga kan kena ikut turun karena yang ikuti sentiment pasar kan, market risk," kata dia.
Terkait kekhawatiran pasar akan potensi penurunan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market, Budi menilai implikasinya cukup signifikan bagi likuiditas pasar.
“Kalau itu terjadi maka dana asing yang bisa masuk ke Indonesia dan juga ETF dan sebagainya, dana pasif itu ya akan berkurang sekitar separohnya, sekarang aja sudah kecil ya, rendah 1,3% dari dana global, akan lebih turun lagi dan ini akan ya membuat mungkin transaksi harian turun, kemudian juga bid-nya berkurang, sementara supply-nya meningkat," jelas Budi.
Dalam kondisi pasar yang bergejolak, Budi menyarankan investor ritel untuk tidak mengambil keputusan emosional.
"Jangan jual karena ini menambah tekanan lebih besar lagi, atau justru kalau masih ada dana nganggur ya silahkan, saya nggak tahu ya apakah besok atau awal minggu depan, mulai membeli, mulai mengoleksi pada saat IHSG-nya mulai stabil," terangnya.
Pandangan senada disampaikan Pengamat pasar modal, Desmond Wira. Dia menilai dampak kebijakan MSCI terhadap investor ritel tergolong besar.
"Besar, walaupun investor asing jumlahnya sedikit tapi uangnya banyak. Itu akan sangat berdampak kalau mereka membuang saham. Jadi anjlok tajam harganya," kata Desmond kepada kumparan.
Desmond juga bilang potensi penurunan status Indonesia ke Frontier Market akan semakin menekan pasar saham. Menurutnya, dampak arus keluar dana asing bisa berlangsung lama jika tidak ada perbaikan kebijakan.
"Tergantung tindak lanjut dari BEI. Mau memperbaiki soal transparansi misalnya tentang free float seperti yang disyaratkan MSCI nggak. Kalau nggak mau ya potensi anjlok lama nggak balik-balik," ungkap Desmond.
Adapun emiten saham yang terdampak sentimen MSCI, Desmond menilai hampir tidak ada pengecualian. "Hampir semua. Ini soal sentimen, institusi asing jualan, biasanya ritel jualan. Baik saham yang dimiliki asing atau nggak juga sama-sama turun," imbuhnya.




