Di Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, warga hidup berdampingan dengan ancaman erupsi Gunung Merapi. Setiap kali aktivitas Merapi meningkat, barak pengungsian, atau yang sekarang lebih banyak disebut sebagai tempat atau pos pengungsian, menjadi ruang krusial bagi warga untuk menyelamatkan diri dan bertahan sementara. Namun, dalam situasi darurat, tempat pengungsian terkadang tidak memerhatikan kebutuhan kelompok paling berisiko. Dari persoalan itu, Kampung Siaga Bencana (KSB) Merapi Rescue Umbulharjo mengembangkan sistem barak (tempat) pengungsian yang inklusif.
Wilayah Umbulharjo masuk ke dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) I, II, dan III. Warga di kawasan ini telah berulang kali mengungsi saat aktivitas Merapi meningkat, sehingga keberadaan tempat pengungsian menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan bencana. Lebih dari sekadar tempat mengungsi sementara, kehadiran tempat pengungsian menjadi salah satu penentu keselamatan warga saat krisis berlangsung.
Namun, tempat pengungsian konvensional kerap tidak ramah akses. Hambatan sering kali muncul berkaitan dengan mobilitas warga dan akses terhadap informasi penting selama berada di pengungsian. Kondisi darurat turut memperbesar risiko hambatan tersebut, terutama bagi kelompok berisiko yang membutuhkan perhatian khusus, contohnya warga dengan hambatan pendengaran (disabilitas tuli) yang tidak dapat mendengar informasi yang disampaikan lewat pengeras suara. Pengalaman lainnya, seperti kamar mandi yang tidak aksesibel dapat membuat pengungsi seperti lansia, orang dengan kursi roda, atau perempuan dan anak-anak menjadi enggan menggunakannya, dan dapat berakhir dengan dehidrasi karena memilih untuk tidak minum air putih sehingga tidak perlu ke kamar mandi.
Kamar mandi yang aksesibel juga merupakan salah satu bentuk perlindungan terhadap pengungsi di situasi kebencanaan. Kondisi kamar mandi yang kadang kurang layak, bangunan tidak tertutup rapat, gelap dan tanpa penerangan, dapat meningkatkan risiko berbasis gender dan/atau kekerasan terhadap pengungsi. Melihat ancaman bencana dan kondisi pengungsian yang belum aksesibel, Kelompok Siaga Bencana (KSB) Merapi Umbulharjo membangun inovasi Sistem Barak Inklusi (SIBARI), dengan pilot utama fokus pada peremajaan dan renovasi kamar mandi tempat pengungsian di Umbulharjo agar aksesibel.
“Hambatan bisa terjadi kepada siapa saja, tidak hanya bawaan dari lahir, apalagi di saat terjadi pengungsian, sehingga fasilitas pengungsian yang inklusif ini sangat penting agar semua bisa dengan mudah mengakses sarana prasarana maupun informasi yang dibutuhkan,” kata Ketua KSB Merapi Rescue, Sriyono Hadi, Selasa (27/1). Melalui SIBARI, warga menghadirkan konsep inklusivitas dalam pengelolaan tempat pengungsian. Prinsipnya sederhana: tempat pengungsian harus mudah diakses semua pengguna sekaligus menjadi ruang aman bersama.
“Kelompok rentannya (paling berisiko) itu terutama disabilitas, lansia, ibu hamil, dan anak-anak,” papar Sriyono. Pengembangan SIBARI berlangsung secara bertahap. Saat ini, fasilitas yang telah dibangun mencakup ram keluar-masuk barak dan toilet aksesibel, yang memungkinkan mobilitas dan aktivitas warga selama pengungsian tetap berjalan dengan lebih lancar dan aman.
Selain itu, terdapat pula sistem alarm dan pemantauan melalui CCTV untuk memastikan keselamatan seluruh pihak. KSB Merapi Rescue mencatat sejumlah fasilitas lainnya yang masih perlu dirancang secara aksesibel seperti posko, dapur umum, dan gudang logistik. Dengan demikian, seluruh warga dapat ikut berperan dalam proses penanggulangan bencana.
Inovasi SIBARI mendapat dukungan dana dan pendampingan dari YAKKUM Emergency Unit (YEU) melalui program IDEAKSI (Ide Inovasi Aksi Inklusi). Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat praktik penanggulangan bencana berbasis komunitas, sekaligus memastikan bahwa pelayanan yang diberikan aksesibel dan inklusif, sehingga dapat digunakan oleh seluruh warga, terutama kelompok rentan.





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5487486/original/081234200_1769666779-36073.jpg)