Arab Saudi membantah klaim yang beredar di media sosial bahwa pihaknya menolak menerima kunjungan pejabat senior Uni Emirat Arab (UEA) Syaikh Tahnoun bin Zayed Al Nahyan.
Isu penolakan tersebut mencuat di tengah sorotan terhadap dinamika hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, terutama menyangkut perbedaan pendekatan dalam penanganan konflik Yaman.
Adapun Tahnoun bin Zayed Al Nahyan adalah Wakil Penguasa Abu Dhabi sekaligus Penasihat Keamanan Nasional Uni Emirat Arab (UEA). Dia juga merupakan saudara lelaki Presiden UEA Pangeran Mohamed bin Zayed (MBZ).
Menteri Media Arab Saudi Salman Al-Dossary dalam unggahan di platform media sosial X menyebut laporan yang menyatakan Arab Saudi menolak kunjungan Tahnoun sebagai "tidak benar".
“Apa yang beredar mengenai Kerajaan Arab Saudi yang disebut menolak menerima Yang Mulia Syaikh Tahnoun bin Zayed adalah tidak benar. Yang Mulia dapat datang ke Kerajaan kapan pun ia menghendaki tanpa perlu izin," tulis sang Menteri di platform X, dikutip dari Arab News, Kamis (29/1).
"Arab Saudi adalah rumahnya [Tahnoun bin Zayed] dan para pemimpinnya adalah keluarganya,” imbuhnya.
Hubungan Kedua Negara PentingMeski sama-sama menjadi aktor utama di kawasan Teluk dan memiliki kepentingan strategis yang beririsan, Riyadh dan Abu Dhabi dalam beberapa tahun terakhir diketahui memiliki perbedaan perspektif taktis di lapangan, tanpa mengubah fondasi kerja sama bilateral kedua negara.
Pada Senin (26/1), Menlu Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan menyatakan bahwa hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tetap "vital" bagi stabilitas kawasan meski dia mengakui kedua negara memiliki “perbedaan pandangan” terkait isu Yaman.
“Kerajaan [Saudi] selalu berkomitmen untuk menjaga hubungan yang kuat dan positif dengan UEA sebagai mitra penting di dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC),” kata Faisal.
Ia menambahkan bahwa penarikan pasukan UEA dari Yaman menjadi “pondasi” bagi hubungan kedua negara agar tetap kuat.
Bulan lalu, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional meminta UEA untuk menarik pasukannya dari negara itu setelah Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA merebut wilayah Yaman di bagian selatan dan timur.
Koalisi Arab Mendukung Legitimasi di Yaman pimpinan Saudi menyatakan pada 30 Desember 2025 bahwa pihaknya telah melakukan serangan udara "terbatas" terhadap pengiriman senjata selundupan yang ditujukan ke STC.
UEA menolak tuduhan Saudi dan kemudian menarik penuh pasukannya dari Yaman pada 2 Januari 2026.




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2026%2F01%2F26%2Fbc787b4f-79dd-4207-89be-a226c2699842.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485301/original/027379200_1769502279-Edit_Jordy_Wehrmann_Bola_Break_21.jpg)