Tahun 2026 menjadi tahun yang ditunggu-tunggu oleh pecinta film khususnya pengagum karya Christopher Nolan karena karya terbarunya: The Odyssey, akan dirilis pada Juli 2026. Film yang bertabur bintang hollywood tersebut akan mengadaptasi epos klasik yunani karya homer yang berkisah perjalanan pulang Odysseus pasca perang.
Odysseus menjalani perjalanan pulang yang sama panjangnya daripada perang itu sendiri, di mana ia sepuluh tahun bertempur di Troya dan sepuluh tahun tersesat di lautan. Odysseus paham betul bahwa ia harus kembali pulang ke Ithaca, namun jalan menuju ke sana penuh badai, godaan, dan ujian sulit. Kisah ini terasa relevan dengan arah ekonomi global hari ini.
Berkeloknya Perjalanan PulangPandemi menjadi pertarungan hebat dan great reset bagi dunia, oleh karenanya ekonomi pasca pandemi juga tengah mencari jalan pulang menuju “Ithaca”: Pertumbuhan berkelanjutan dan kesejahteraan yang inklusif. Namun perjalanan pulang tidak berjalan lurus dan mulus. Ketegangan geopolitik, fragmentasi ekonomi, disrupsi rantai pasok hingga perang tarif membuat peta perjalanan pulang ekonomi dunia menjadi berkelok-kelok. Seperti Odysseus, negara-negara mengetahui arah pulang, tetapi harus menempuh rute berbahaya yang tidak pernah mereka rencanakan sebelumnya.
Salah satu pelajaran penting dari Odyssey adalah bahwa penderitaan panjang Odysseus tidak sepenuhnya disebabkan oleh takdir, melainkan juga oleh kesalahan manusiawi. Ketika ia mengejek Polyphemus Cyclops, raksasa bermata satu, ia memicu murka Poseidon dan memperpanjang penderitaannya sendiri. Pola sama juga terjadi pada perjalanan ekonomi global. Krisis besar kerap lahir bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kesombongan pengambilan kebijakan.
Mungkin kita tidak pernah lupa bagaimana krisis 2008 terjadi, instrumen berisiko dibiarkan menumpuk dengan pagar regulasi yang minim dan terlalu yakin dengan konsep “too big to fail”. Tidak hanya itu, dalam beberapa tahun terakhir kita juga terus diingatkan dengan banyaknya bencana iklim yang terjadi merupakan “panen” dari budaya ekstraktif nan eksploitatif yang telah berlangsung sekian lama. Bahkan tahun 2025 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kerugian terbesar akibat perubahan iklim yang mencapai 120 Miliar USD dan penyebab utamanya adalah kerakusan manusia itu sendiri.
Pelajaran penting lainnya dari odysseus adalah ia mampu bertahan hidup bukan karena kekuatan fisik, melainkan karena kecerdikan dan kemampuannya mengelola godaan. Saat melewati Sirene, ia memilih mengikat dirinya ke tiang kapal: sebuah pengakuan jujur bahwa mendengar godaan tanpa pengaman akan berujung kehancuran.
Dalam konteks ekonomi global, “sirene” itu hadir dalam bentuk pertumbuhan instan yang dilakukan melalui berlanjutnya eksploitasi sumber daya tanpa transisi yang adil, proteksionisme impulsif, dan stimulus berlebihan. Godaan ini terdengar manis, terutama di tengah tekanan ketidakpastian politik dan sosial, tetapi sering kali meninggalkan luka struktural yang mahal di kemudian hari.
Definisi “Rumah” yang BaruOdyssey juga mengingatkan bahwa perjalanan bukan hanya soal pelaut, tetapi juga tentang rumah. Ithaca tetap bertahan karena kesabaran Penelope, yang menolak solusi instan dan janji palsu para pelamar. Dalam ekonomi modern, Penelope adalah institusi: lembaga yang mampu menjaga tekanan, aturan kebijakan yang menahan populisme, serta tata kelola yang memastikan keberlanjutan jangka panjang.
Tanpa kekokohan institusional ini, perjalanan ekonomi sepanjang dan sekeras apa pun akan kehilangan makna karena “rumah” yang dituju telah runtuh dari dalam. Hal ini sejalan dengan temuan pada Nobel Ekonomi 2024, di mana institusi yang lemah dan bersifat ekstraktif cenderung menghasilkan stagnasi, sementara institusi yang inklusif, menegakkan rule of law, dan partisipasi ekonomi luas mampu menjadi fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan nan adil.
Ketika Odysseus akhirnya tiba di Ithaca, ia pulang bukan sebagai pahlawan yang gemilang, melainkan sebagai manusia yang lelah, lebih rendah hati, dan lebih bijak. Barangkali itulah pelajaran terpenting bagi ekonomi kita hari ini. Dunia tidak sedang menuju masa keemasan baru yang spektakuler, melainkan mencari keseimbangan baru yang lebih realistis, lebih tangguh, dan lebih madani.
IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia bertahan di sekitar 3 persen dalam jangka menengah, relatif rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Walau begitu, masyarakat semakin menginginkan kemerataan dan hidup lebih panjang, hal ini tercermin dari pergeseran fokus global terhadap kebahagiaan dan kualitas hidup.
Menurut World Happiness Report 2025, faktor seperti dukungan sosial, kebebasan membuat pilihan, dan kepercayaan masyarakat terbukti lebih menentukan kebahagiaan daripada sekadar pertumbuhan PDB, menunjukkan bahwa orang kini menghargai hubungan sosial dan kesejahteraan yang lebih tinggi. Kesadaran baru ini tampak jelas dalam agenda iklim global.
Survei Global Green Attitudes Survey 2025 menemukan bahwa 84 % orang di berbagai negara memilih perlindungan lingkungan yang lebih kuat bahkan jika itu mengorbankan pertumbuhan ekonomi yang cepat, menunjukkan bahwa dukungan masyarakat terhadap prioritas hijau sangat kuat dan melampaui paradigma pertumbuhan semata. Temuan ini menegaskan bahwa kemajuan abad ke-21 semakin diukur dari kualitas hidup dan pemerataan, bukan semata dari seberapa cepat ekonomi tumbuh.
Ekonomi global masih berada di tengah laut. Jalan pulang belum terlihat jelas, dan badai belum sepenuhnya reda. Namun selama arah tetap dijaga, godaan diikat dengan disiplin kebijakan, dan institusi setia menjaga Ithaca, perjalanan panjang ini masih menyimpan harapan untuk berakhir dengan madani.




