Dibungkus Estetika Party, Whip Pink Dinilai Menyesatkan dan Membahayakan Anak Muda

grid.id
4 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Whip Pink belakangan menjadi sorotan karena marak disalahgunakan oleh anak muda. Produk gas whipped cream itu dinilai berbahaya karena dikemas dengan tampilan estetika pesta yang menyesatkan.

Kemasan berwarna cerah dan narasi fun membuat Whip Pink kerap dianggap aman. Padahal, produk ini mengandung Nitrous Oxide yang berisiko tinggi jika dihirup secara sengaja.

Kepala Laboratorium Narkoba BNN RI, Brigjen Pol dr. Supiyanto, menegaskan bahwa Nitrous Oxide memiliki efek serius terhadap sistem saraf. Penyalahgunaan gas tersebut dapat memicu gangguan kesehatan yang tidak bisa dianggap sepele.

“Nitrous Oxide yang dihirup tanpa indikasi medis dapat menyebabkan hipoksia hingga kematian,” ujar Supiyanto dikutip Grid.ID melalui tayangan Youtube Denny Sumargo, Rabu (28/01/2026).

Dari sisi medis, dampak Whip Pink juga disoroti oleh dr. Samuel Sunarso Sp.P. Ia menyebut penggunaan berulang dapat menimbulkan gangguan pada paru-paru dan otak.

Efek sesaat seperti euforia sering membuat pengguna lengah terhadap risiko jangka panjang. Padahal, tubuh bisa mengalami kekurangan oksigen secara perlahan.

“Kerusakan saraf akibat kekurangan oksigen bisa bersifat permanen jika terjadi berulang,” kata Samuel.

Fenomena ini semakin mengkhawatirkan karena Whip Pink mudah dibeli secara online. Tidak ada batasan usia yang ketat dalam penjualannya.

Doni, mantan penyalahguna Whip Pink, mengaku awalnya tergoda karena tren di media sosial. Ia menyebut penggunaan awal terasa ringan, namun efeknya cepat membuat ketagihan.

“Awalnya cuma ikut-ikutan karena kelihatan seru, tapi lama-lama kepala sering pusing dan susah fokus,” ungkap Doni.

Doni juga mengaku sempat menganggap Whip Pink tidak berbahaya karena bukan narkoba. Persepsi itulah yang membuat banyak anak muda lengah dan mencoba tanpa pikir panjang.

 

Edukator kesehatan di media sosial, Doktif, menilai kemasan dan promosi Whip Pink menjadi masalah utama. Menurutnya, estetika party menciptakan ilusi aman pada produk berisiko.

“Kalau sesuatu berbahaya dikemas seolah fun, anak muda pasti menganggapnya sepele,” ujar Doktif.

Doktif juga menekankan pentingnya literasi kesehatan di era media sosial. Konten edukatif dinilai perlu mengimbangi tren yang berpotensi membahayakan.

BNN mengingatkan bahwa legalitas sebuah produk tidak menjamin keamanannya jika disalahgunakan. Pengawasan dan edukasi dinilai harus berjalan beriringan.

Kasus Whip Pink menjadi alarm bahwa tren viral bisa membawa dampak serius. Anak muda diimbau lebih kritis terhadap produk yang terlihat estetik namun menyimpan risiko kesehatan. (*)

Artikel Asli


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pramono Anung Lanjutkan Normalisasi Ciliwung, Pembebasan 133 Tanah Dikebut
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
IHSG Longsor 7,35% ke 8.320, Ada Crossing Jumbo BBCA, ASII, BRPT, TLKM
• 15 jam lalukatadata.co.id
thumb
Wamenag Harap Awal Puasa Ramadan 2026 Bisa Serempak, Masyarakat Diminta Tunggu Sidang Isbat
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Foto: Belajar di Tenda Darurat, Siswa Gayo Lues Jalani Trauma Healing
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Manajer PSBS Tegaskan Status M. Tahir: Belum Ada Kontak dari Persipura, Masih Pemain Pinjaman PSS
• 5 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.