EtIndonesia. Dalam dua hari terakhir, suasana politik dan militer di Beijing hanya dapat dirangkum dengan dua kata: aneh dan ganjil. Di permukaan, segalanya tampak tenang dan terkendali. Namun jika ditelisik lebih dalam, gelombang bawah yang bergejolak justru semakin jelas terlihat.
Di satu sisi, Harian Pembebasan Tentara (PLA Daily)—corong resmi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA)—selama tiga hari berturut-turut menampilkan pemberitaan yang terasa “tenang tanpa gelombang”, seolah-olah tidak ada peristiwa besar yang sedang berlangsung di jantung kekuasaan militer Tiongkok.
Namun di sisi lain, rangkaian peristiwa sejak 24 Januari 2026 justru mengindikasikan bahwa situasi internal rezim tengah berada dalam fase yang sangat sensitif.
Xi Jinping Muncul Kembali Setelah Enam Hari Menghilang
Pada 27 Januari 2026, Presiden Tiongkok sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Komunis, Xi Jinping, akhirnya kembali muncul di hadapan publik setelah enam hari tidak terlihat sejak pengumuman penangkapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, Zhang Youxia.
Xi tampil di Balai Agung Rakyat, Beijing, untuk menerima kunjungan resmi Perdana Menteri Finlandia, Petteri Orpo. Penampilan Xi langsung menjadi sorotan.
Dari rekaman video resmi, ekspresi wajah, intonasi bicara, dan logat Xi Jinping terlihat normal, tanpa tanda-tanda tekanan fisik maupun emosional. Dalam pertemuan tersebut, Xi bahkan tidak membaca catatan kecil—sebuah detail yang jarang terjadi dan mengindikasikan bahwa pertemuan ini kemungkinan telah dipersiapkan secara matang.
Isi pembicaraan pun terdengar familiar: Xi kembali mengajak perusahaan Finlandia untuk masuk dan berinvestasi di pasar Tiongkok, yang digambarkannya sebagai “samudra luas penuh peluang”.
Namun publik internasional sudah sangat memahami metafora ini. Banyak perusahaan asing—terutama dari Jepang—yang awalnya “berenang penuh harapan”, namun akhirnya kehabisan tenaga dan memilih mundur perlahan dari pasar Tiongkok.
Sindiran Warganet dan Kontras Diplomasi
Menariknya, perhatian warganet Tiongkok justru tertuju pada hal lain: iring-iringan kendaraan kenegaraan Perdana Menteri Finlandia yang dinilai sangat besar dan mewah.
Kolom komentar di media sosial langsung dipenuhi sindiran. Banyak netizen menyebut bahwa di Finlandia, sang perdana menteri dapat bepergian sendirian, namun di Tiongkok dia langsung merasakan “nikmatnya status elite berkuasa”.
Di permukaan, pertemuan Xi dengan tamu asing tampak berjalan normal dan stabil. Namun di balik layar, situasi di tubuh militer justru menunjukkan gejolak yang sama sekali berbeda.
PLA Daily: Dari Guntur ke Sunyi dalam Tiga Hari
Perubahan sikap PLA Daily dalam tiga hari terakhir menjadi indikator penting dinamika internal militer.
- 24 Januari 2026
Militer Tiongkok secara resmi mengumumkan bahwa Zhang Youxia Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC) dan Liu Zhenli (Kepala Staf Gabungan CMC) diduga melakukan pelanggaran disiplin dan hukum berat, dan telah resmi diselidiki. - 25 Januari 2026
PLA Daily menerbitkan editorial bernada keras, membahas apa yang disebut sebagai “lima masalah besar” Zhang Youxia, dengan bahasa yang sarat ancaman politik. - 26 Januari 2026
Halaman depan memuat artikel berjudul “Terus Meniupkan Terompet Serangan”, yang mengangkat kembali kisah-kisah eksekusi tokoh Partai akibat korupsi sejak puluhan tahun lalu—mulai dari Liu Qingshan dan Zhang Zishan, hingga perwira berjasa besar yang akhirnya dieksekusi mati.
Namun, artikel tersebut justru terasa “bertulang besar namun berdaging tipis”. Dia membahas koruptor masa lalu, memuji kampanye antikorupsi era kini, namun sama sekali tidak menyebut satu pun nama besar masa kini, termasuk Zhang Youxia atau Liu Zhenli.
Lebih janggal lagi, pada 27 Januari, PLA Daily tiba-tiba kembali ke pemberitaan normal, seolah-olah tidak pernah ada pengumuman besar pada 24 Januari. Kasus “lima masalah besar” pun menghilang begitu saja.
Dalam politik Tiongkok, perubahan sikap secepat ini sering kali mencerminkan tarik-ulur kekuasaan yang belum mencapai konsensus.
Tank Bergerak, Pasukan Muncul di Jalan Raya
Jika media militer tampak “bermain tai chi”, maka lapangan menunjukkan cerita berbeda.
Dalam dua hari terakhir, berbagai video dari dalam Tiongkok memperlihatkan aktivitas militer tidak biasa di banyak wilayah.
Yang paling mencolok adalah Grup Angkatan Darat ke-82 PLA, unit elite yang bertugas melindungi Beijing dan bermarkas di Baoding, Provinsi Hebei—penerus legendaris Grup ke-38 yang dikenal sebagai “Tentara Sepuluh Ribu Tahun”.
Unit ini terpantau melakukan konsentrasi besar-besaran kendaraan lapis baja dan tank, bahkan melintas di jalan raya umum, membentuk iring-iringan panjang—sebuah pemandangan yang sangat tidak lazim dalam periode sensitif seperti ini.
Komentar Publik: Harapan dan Kegelisahan
Komentar warganet di bawah video-video tersebut bahkan lebih mengguncang dibanding pawai militernya sendiri.
Pada 26 Januari, China Youth Daily merilis video resmi latihan satu brigade penerbangan dari Grup ke-82.
Kolom komentarnya dipenuhi pesan-pesan seperti:
- “Semoga PLA berdiri di pihak rakyat.”
- “Tuntaskan misi.”
- “Pikirkan masa depan generasi berikutnya.”
Bahasa seperti ini jarang muncul secara terbuka di ruang publik Tiongkok, dan menunjukkan kegelisahan sosial yang sedang meningkat.
Pergerakan Meluas ke Tianjin dan Selatan
Aktivitas militer tidak hanya terjadi di sekitar Beijing.
- 26 Januari 2026, sejumlah besar kendaraan militer terlihat di Distrik Wuqing, Tianjin, hanya sekitar 40–50 km dari pusat Beijing.
- Di Xuzhou, Jiangsu, warga merekam sekelompok besar tentara bersenjata senapan mesin ringan berjalan di pusat kota.
- Pergerakan serupa juga terpantau di Zhanjiang (Guangdong) dan beberapa lokasi di Fujian.
Hal ini terjadi meski beredar informasi bahwa unit-unit militer telah diperintahkan masuk status siaga tempur tingkat satu, menghentikan semua operasi, menyerahkan ponsel, dan menjalani pendidikan politik terpusat.
Keheningan Media Militer: Pesan yang Paling Keras
Yang paling mencolok justru adalah keheningan total media militer resmi.
Baik China Military Network maupun akun resmi Tentara Polisi Bersenjata sama sekali tidak menyinggung kejatuhan Zhang Youxia—tidak diposting, tidak dipin, seolah-olah peristiwa itu tidak pernah ada.
Dalam politik Tiongkok, diam sering kali merupakan jawaban paling keras.
Xi Muncul, Pesan Stabilitas, dan Hari-Hari Penentu
Dalam konteks ini, kemunculan Xi Jinping pada 27 Januari terasa lebih seperti pernyataan politik bahwa “situasi terkendali”, ditujukan untuk menenangkan publik domestik sekaligus meredam kegelisahan mitra internasional.
Namun, hari-hari ke depan akan sangat menentukan.
Jika pasukan kembali ke barak dan komando wilayah militer menyatakan loyalitas penuh kepada pusat, maka Xi kemungkinan masih memegang kendali.
Namun jika tank dan pasukan terus bergerak mendekati Beijing, maka konflik internal di Zhongnanhai berpotensi berubah dari pertarungan politik tertutup menjadi konfrontasi terbuka tanpa aturan.
Bagi dunia luar, ini bukan sekadar urusan domestik Tiongkok. Sejarah telah membuktikan, setiap guncangan besar di Beijing selalu berdampak global.
Dan seperti kepanikan dunia pada awal 2020, ada kalanya satu pusat kekuasaan yang goyah dapat membuat seluruh dunia ikut gemetar.



