BMKG Tegaskan OMC Adalah Mitigasi Terukur, Bukan Pemicu Cuaca Tidak Stabil

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

BMKG merespons narasi soal operasi modifikasi cuaca yang picu ketidakstabilan cuaca yang beredar di media sosial.

BMKG Tegaskan OMC Adalah Mitigasi Terukur, Bukan Pemicu Cuaca Tidak Stabil. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan di Indonesia merupakan upaya mitigasi bencana yang terukur dan berbasis sains. 

Langkah ini diambil sebagai respons paralel terhadap penurunan daya dukung lingkungan dan meningkatnya ancaman perubahan iklim. Pernyataan itu, sekaligus meluruskan narasi di sosial media. 

Baca Juga:
Antisipasi Cuaca Ekstrem, BNPB Lanjutkan Modifikasi Cuaca di Sumatera hingga Jawa

Dalam narasi yang beredar, OMC disebut memiliki risiko bencana lain, membuat kondisi cuaca tidak stabil serta membentuk cold pool (kolam dingin), memindahkan atau menumpuk air di wilayah tertentu sehingga membuat banjir besar, dan memberikan rasa aman yang palsu. 

“Dalam konteks tersebut, BMKG menegaskan bahwa cold pool atau kolam dingin merupakan fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami. Fenomena ini terjadi saat air hujan menguap di bawah awan badai, mendinginkan udara, dan menciptakan massa udara padat yang jatuh ke permukaan,” jelas BMKG dalam keterangan resminya, Kamis (29/1/2026). 

Baca Juga:
Kali Ciliwung Meluap, 17 RT di Jakarta Terendam Banjir

Sedianya, setiap kali terjadi hujan secara alami cold pool pasti terbentuk secara alami. Sehingga mengaitkan fenomena ini sebagai efek samping yang berbahaya dari OMC adalah kekeliruan sains. 

Pasalnya, OMC dengan teknik penyemaian awan (cold seeding) tidak menumbuhkan awan baru dan hanya bekerja pada awan yang sudah ada di alam. 

Baca Juga:
Modifikasi Cuaca Cegah Hujan Ekstrem Digelar di Jabar hingga 29 Januari 2026

“BMKG menegaskan bahwa implementasi OMC bertujuan murni untuk mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat dengan menambah atau mengurangi curah hujan—bukan pemicu cuaca tidak stabil,” terang BMKG.

Merespon narasi ‘OMC memindahkan hujan ke wilayah tetangga dan berpotensi membuat banjir’, BMKG mengatakan dua metode utama yang digunakan untuk melindungi wilayah strategis. 

Pertama, Jumping Process Method di mana tim OMC mendeteksi suplai awan dari laut (Laut Jawa/Samudra Hindia) menggunakan radar dan menyemainya sebelum mencapai daratan agar hujan jatuh di perairan.

Kedua, Competition Method ialah awan yang tumbuh langsung di atas daratan (in-situ), penyemaian dilakukan sejak dini untuk mengganggu pertumbuhan awan (tidak menghilangkan) agar tidak menjadi awan Cumulonimbus yang masif. 

Hal ini dilakukan untuk meluruhkan intensitas hujan, bukan memindahkannya ke pemukiman lain. Meskipun demikian, BMKG menyepakati bahwa kemampuan lingkungan dalam merespons air hujan yang jatuh menjadi faktor penting terjadi atau tidak terjadinya banjir. 

Fakta hilangnya sekitar 800 situ di Jabodetabek sejak 1930-an menjadi faktor utama kurangnya daerah resapan dan berpotensi menjadi pemicu banjir. 

“Oleh karenanya, BMKG sepakat bahwa penataan lingkungan sebagai respons terhadap penanganan banjir menjadi hal paling utama yang harus dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat secara keseluruhan. Namun demikian, pada saat bersamaan secara paralel juga diperlukan upaya mengurangi curah hujan seperti OMC agar bisa diterima oleh kondisi lingkungan saat ini,” pungkasnya.


(Nadya Kurnia)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Vonis R. De Laguna dan M. Luthfy, Ketua DPD GRANAT Soroti Integritas Pengadilan
• 5 jam lalurealita.co
thumb
Diduga Sebar Hoaks, Oknum Polisi di Polda Polda Sulsel Diadukan ke Propam Polri
• 15 jam laludisway.id
thumb
ULM tanam 749 bibit pohon lokal endemik Kalsel di IKN
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Liem Tjie Sen Dituntut 5 Tahun Penjara, Johan Widjaja Nilai Tak Sejalan Fakta Persidangan
• 20 jam lalurealita.co
thumb
Banjir di Cawang Jaktim, Polisi Terapkan Contra Flow untuk Motor
• 6 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.