MALANG, KOMPAS – Untuk membuka peluang kerja usai kuliah, dua kampus di Malang, Jawa Timur, bekerjasama dengan perusahaan dalam dan luar negeri. Tujuannya, agar para sarjana tidak lantas menjadi pengangguran.
Kampus Universitas Negeri Malang (UM), misalnya, bekerjasama dengan Kigyou Koryu Centre Japan (KKC), sebuah komunitas bisnis di Jepang. Kedua pihak menandatangani nota kesepahaman bersama, termasuk pendampingan mahasiswa Indonesia jika akan bekerja di Jepang.
”Kami telah menjalin kolaborasi dengan berbagai perusahaan di dalam dan luar negeri, termasuk di Jepang. Ini terutama dalam pengajaran serta pengembangan sekolah profesional. Kerjasama juga hendak menjembatani kebutuhan dunia usaha dengan kapasitas lulusan universitas. Harapannya, nanti banyak lulusan UM bisa bekerja di Jepang,” kata Wakil Rektor IV UM Prof Arif Nur Afandi, Kamis (29/01/2026).
Menurut Arif, kerjasama itu akan menjadi kunci peningkatan daya saing lulusan UM di pasar global. Dia juga yakin, kolaborasi bakal memperkuat peran perguruan tinggi dalam menyiapkan lulusan siap kerja.
“Inisiatif ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDGs 8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kompetensi serta peluang kerja global,” katanya.
Dalam pertemuan, delegasi KKC Japan memaparkan peran lembaganya dalam menerima serta mendampingi tenaga kerja asing di Jepang. KKC Japan memastikan pekerja asing bekerja sesuai regulasi hukum Jepang, sekaligus memberikan pendampingan administratif.
Selain itu, penguasaan bahasa Jepang menjadi perhatian utama sebagai bekal adaptasi di dunia kerja internasional. “Penguasaan bahasa Jepang akan jadi bekal untuk adaptasi di dunia kerja,” kata Chief Director Cooperation Association KKC Japan, Kazuhisa Sumino.
Sumino menyampaikan, pihaknya tertarik menjalin kerja sama berkelanjutan dengan UM. Sebab, ia menilai lulusan UM memiliki kompetensi dan karakter sesuai dengan kebutuhan industri Jepang.
”Kami berharap bisa mengetahui lebih dekat tentang kampus UM dan alumninya, sehingga bisa membuka peluang kerjasama, khususnya dalam hal bekerja di Jepang,” kata Sumino.
Sementara itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalin kerjasama dengan Bank Jatim. Kerjasama mencakup bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Selain itu, ada juga pengembangan UMKM, digitalisasi layanan, literasi keuangan, hingga penguatan sinergi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Bentuk kerjasama tersebut di antaranya mempertemukan kapasitas akademik dengan peran perbankan daerah, dalam mendorong pembangunan ekonomi dan sosial berbasis pengetahuan. Adapun fokus utamanya adalah dukungan terhadap akses pendidikan, melalui program beasiswa bagi mahasiswa UMM.
Direktur Bisnis Mikro, Ritel, dan Usaha Syariah Bank Jatim Tony Prasetyo menyebut nota kesepahaman antara dua pihak tersebut sebagai formalisasi atas kolaborasi selama ini telah berjalan. Salah satu yang utama adalah dalam layanan keuangan mahasiswa dan pengembangan institusi.
“Selama ini kerja sama sebenarnya sudah berjalan, tetapi belum memiliki payung formal. Dengan nota kesepahaman ini, ruang kolaborasi bisa diperluas dan dikembangkan lintas bidang secara lebih sistematis,” kata Tony.
Tony menambahkan, kerja sama tidak hanya berfokus pada layanan transaksi keuangan, melainkan juga meliputi pengembangan layanan digital, penguatan literasi dan inklusi keuangan, serta integrasi program CSR dengan agenda pendidikan dan sosial kampus.
“Program beasiswa diposisikan sebagai instrumen strategis untuk memperluas pemerataan akses pendidikan sekaligus menyiapkan talenta muda yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja dan sektor keuangan daerah,” katanya.
Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi menilai, nota kesepahaman itu menjadi penguatan posisi perguruan tinggi dalam membangun kemitraan strategis dengan sektor industri dan perbankan.
Baginya, kerjasama itu menunjukkan peran pendidikan tinggi saat ini tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghasilkan riset dan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“UMM memiliki agenda riset dan pengabdian yang beririsan dengan isu pembangunan daerah. Sinergi dengan Bank Jatim diharapkan memperkuat aspek pembiayaan, pendampingan, serta keberlanjutan program,” katanya.




