EtIndonesia. Ada seorang gadis muda yang cantik, terlahir dari keluarga terpandang, memiliki kekayaan melimpah, serta berbakat dalam banyak hal. Hidupnya serba berkecukupan. Para mak comblang bahkan hampir merusak ambang pintu rumahnya karena terlalu sering datang. Namun gadis itu tetap tidak ingin menikah, sebab dia merasa belum bertemu dengan pria yang benar-benar ingin dia nikahi.
Suatu hari, dia pergi ke sebuah perayaan kuil untuk menenangkan pikirannya. Di tengah lautan manusia yang berdesakan, dia melihat seorang pria muda. Tanpa perlu alasan atau penjelasan, gadis itu tahu—dialah pria yang selama ini dia tunggu.
Sayangnya, keramaian terlalu padat. Dia tak mampu mendekatinya dan hanya bisa menyaksikan pria itu menghilang di tengah kerumunan.
Dalam dua tahun berikutnya, gadis itu berkeliling ke mana-mana untuk mencari pria tersebut. Namun seolah-olah pria itu menguap begitu saja—tanpa jejak, tanpa kabar.
Setiap hari gadis itu berdoa kepada Buddha, memohon agar diberi kesempatan bertemu kembali dengan pria itu.
Ketulusan doanya akhirnya menggerakkan Buddha, dan Buddha pun menampakkan diri.
Buddha bertanya: “Apakah kamu ingin bertemu kembali dengan pria itu?”
Gadis itu menjawab: “Ya. Aku hanya ingin melihatnya sekali lagi.”
Buddha berkata: “Kamu harus melepaskan semua yang kamu miliki sekarang—keluargamu yang mencintaimu, dan kehidupan bahagiamu.”
Gadis itu menjawab: “Aku sanggup.”
Buddha melanjutkan: “Kamu juga harus menjalani pertapaan selama lima ratus tahun, baru bisa melihatnya sekali. Apakah kamu tidak menyesal?”
Gadis itu berkata dengan tegas: “Aku tidak menyesal.”
Maka gadis itu berubah menjadi sebuah batu besar, tergeletak di tempat terpencil. Selama lebih dari empat ratus tahun, dia diterpa angin dan matahari, menderita tanpa henti. Namun semua penderitaan itu terasa biasa baginya.
Yang paling menyakitkan justru adalah—selama ratusan tahun itu, dia tidak melihat seorang manusia pun, tak ada secercah harapan. Hampir saja dia runtuh.
Pada tahun terakhir, sebuah tim penambang datang. Mereka melihat batu besar itu, memahatnya menjadi balok batu raksasa dan membawanya ke kota untuk membangun sebuah jembatan. Gadis itu pun berubah menjadi pagar batu jembatan.
Pada hari pertama jembatan itu selesai dibangun, gadis itu akhirnya melihat pria yang telah dia tunggu selama lima ratus tahun.
Pria itu berjalan tergesa-gesa, seolah memiliki urusan penting. Dia melintas tepat di tengah jembatan dan tentu saja tidak menyadari bahwa sebuah batu sedang menatapnya dengan penuh cinta. Sekali lagi, pria itu menghilang.
Buddha pun muncul kembali.
Buddha bertanya: “Apakah sekarang kamu puas?”
Gadis itu menjawab: “Tidak! Mengapa aku hanya menjadi pagar jembatan? Jika aku berada di tengah jembatan, aku bisa menyentuhnya… setidaknya menyentuhnya sekali!”
Buddha berkata: “Jika kamu ingin menyentuhnya, kamu harus bertapa lima ratus tahun lagi.”
Gadis itu berkata tanpa ragu: “Aku bersedia.”
Buddha bertanya lagi: “Kamu sudah menanggung begitu banyak penderitaan. Apakah kamu masih tidak menyesal?”
Gadis itu menjawab: “Aku tidak menyesal.”
Maka gadis itu berubah menjadi sebatang pohon besar, berdiri di sisi jalan raya yang ramai dilalui orang. Setiap hari banyak orang lewat. Dia bisa melihat dari dekat—namun ini justru lebih menyiksa. Berkali-kali harapan muncul saat seseorang datang, dan berkali-kali pula harapan itu hancur.
Jika bukan karena pertapaan lima ratus tahun sebelumnya, mungkin gadis itu sudah lama runtuh.
Hari demi hari berlalu. Hati gadis itu perlahan menjadi tenang. Dia tahu—pria itu tidak akan muncul sebelum hari terakhir.
Lima ratus tahun pun berlalu. Pada hari terakhir, dia tahu pria itu akan datang. Anehnya, hatinya tidak lagi berdebar.
Dia datang.Dia benar-benar datang.
Dia masih mengenakan jubah putih kesayangannya, wajahnya tetap tampan seperti dulu. Gadis itu menatapnya dengan penuh cinta.
Kali ini, pria itu tidak berjalan tergesa-gesa. Hari itu sangat panas.
Dia melihat sebuah pohon besar di tepi jalan. Rimbun, sejuk, mengundang untuk beristirahat. Dia pun berjalan ke bawah pohon itu, bersandar pada akarnya, perlahan memejamkan mata, dan tertidur.
Gadis itu menyentuhnya. Dia bersandar tepat di sisinya.
Namun dia tidak bisa mengatakan apa pun—tentang kerinduan yang telah dia simpan selama seribu tahun.
Yang bisa dia lakukan hanyalah mengumpulkan seluruh keteduhan yang dia miliki, melindunginya dari teriknya matahari.
Seribu tahun kelembutan… seribu tahun cinta tanpa kata.
Pria itu hanya tertidur sejenak. Dia masih memiliki urusan. Dia bangkit, menepuk debu di jubahnya, lalu sebelum pergi, dia menoleh ke arah pohon itu dan dengan lembut menyentuh batangnya—seolah berterima kasih atas kesejukan yang diberikannya.
Lalu dia pergi, tanpa menoleh kembali.
Saat pria itu menghilang dari pandangannya, Buddha muncul sekali lagi.
Buddha bertanya: “Apakah kamu masih ingin menjadi istrinya? Jika ya, kamu harus bertapa lagi.”
Gadis itu dengan tenang menyela: “Aku sangat ingin… tetapi tidak perlu.”
Buddha terkejut: “Oh?”
Gadis itu berkata: “Seperti ini sudah cukup. Mencintainya tidak harus menjadi istrinya.”
Buddha berkata pelan: “Oh…”
Gadis itu bertanya: “Istrinya sekarang… apakah dia juga telah menderita seperti aku?”
Buddha mengangguk pelan.
Gadis itu tersenyum tipis: “Aku juga bisa melakukannya. Tapi tidak perlu.”
Pada saat itu, gadis itu melihat Buddha menarik napas panjang—atau mungkin menghembuskannya dengan lega.
Dia bertanya heran: “Apakah Buddha juga memiliki kegundahan?”
Wajah Buddha pun tersenyum: “Karena dengan keputusanmu ini, ada seorang pria yang tidak perlu menunggu seribu tahun lagi.
Demi bisa melihatmu sekali saja, dia telah bertapa dua ribu tahun…”
Hidup selalu menjaga keseimbangan— dengan cara yang kita pahami, atau mungkin tidak pernah kita pahami.
Apakah itu hakikat cinta? Satu hal menaklukkan hal lainnya. Bukankah demikian? (jhh/yn)



