Jangan Terkecoh dengan Klaim Produk, Teliti Baca Kandungannya!

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pemahaman orang tua terhadap label pangan anak masih terbilang rendah dan sering kali menimbulkan kesalahpahaman dalam memilih makanan. Banyak produk terlihat sehat dari namanya, namun kandungan gizinya belum tentu sesuai dengan kebutuhan anak. Kondisi ini berisiko berdampak pada tumbuh kembang anak jika tidak disikapi dengan tepat.

Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, Dr. dr. Klara Yuliarti, Sp.A, Subsp.N.P.M(K), menyoroti masih rendahnya pemahaman masyarakat dalam membaca label pangan, terutama untuk produk yang dikonsumsi anak. Hal tersebut disampaikannya dalam acara webinar bersama IDAI, Selasa (27/1).

Lebih Teliti Baca Kandungan Produk

Menurut dr. Klara, tidak sedikit orang tua yang belum terbiasa membaca informasi nilai gizi pada kemasan makanan. Bahkan, istilah dasar seperti karbohidrat, protein, dan lemak masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat. Akibatnya, banyak orang tua yang belum benar-benar memahami kandungan gizi dari produk yang diberikan kepada anak.

dr. Klara menjelaskan bahwa tidak jarang masyarakat hanya melihat nama produk tanpa memahami kategori pangannya. Padahal, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengatur penamaan kategori produk pangan, termasuk produk susu. Ia menyinggung kasus susu kental manis yang sempat menimbulkan masalah gizi pada anak.

Banyak orang tua mengira susu kental manis adalah susu yang baik untuk anak karena namanya mengandung kata “susu”. Padahal, produk tersebut sebenarnya merupakan krimer dengan kandungan gula tinggi dan rendah zat gizi esensial.

Tidak Semua Mengandung Zat Gizi Lengkap

Kesalahan serupa juga kerap terjadi pada pemahaman tentang zat besi. Banyak orang tua menganggap anak yang minum susu otomatis mendapatkan zat besi yang cukup. Padahal, beberapa jenis susu seperti susu UHT atau fresh milk tidak selalu diperkaya zat besi.

“Tidak semua produk itu jelek, tapi banyak yang kurang mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh anak, terutama anak 0-3 tahun yang membutuhkan kadar protein yang tinggi.,” tegasnya.

Pentingnya Konsumsi Real Food dan Bervariasi

Sebagai solusi, dr. Klara menyarankan orang tua untuk lebih mengutamakan konsumsi makanan segar (fresh food) yang diolah secara sederhana dan dikonsumsi secara bervariasi. Pola makan yang beragam memungkinkan zat gizi mikro saling melengkapi.

Sebagai contoh, jika anak mengonsumsi ikan tertentu yang rendah zat besi, kebutuhan zat besi bisa dipenuhi dari sumber lain seperti daging pada waktu makan berikutnya. Tidak ada satu jenis makanan yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi mikro anak.

“Apakah zat gizi mikro itu bisa lengkap banget dari satu makanan? Tidak bisa. Karena hanya ASI yang seperti itu, satu-satunya nutrisi yang tidak bisa makan apa-apa lagi ya, itupun ASI sampai usia sekitar 4-6 bulan,” katanya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
18 RT di Jakarta Masih Terendam Banjir hingga Kamis Pagi
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Jurist Tan Dikabarkan Pindah Kewarganegaraan, Begini Respons Kejagung
• 19 jam laluliputan6.com
thumb
AC Milan Bakal Kesulitan Kejar Inter, Kata Fabio Capello
• 8 jam lalugenpi.co
thumb
Profil Fajar Sad Boy, Pemuda Asal Gorontalo yang Melejit Gegara Video Viral Nangis Ditolak Cewek
• 10 jam lalugrid.id
thumb
Film Tygo Lisa BLACKPINK Syuting di Kota Tua, Polisi Rekayasa Lalu Lintas
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.