Ekspor CBU Indonesia: Jepang Dominan, Korea Stagnan, China Masih Pemanasan

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Data ekspor kendaraan utuh atau completely built up (CBU) Indonesia dalam tiga tahun terakhir memperlihatkan kontras tegas antara pabrikan Jepang, Korea, dan China dalam memanfaatkan Indonesia sebagai basis produksi global. Di saat Jepang kian memantapkan dominasinya, Korea terlihat stagnan, sementara China masih berada pada tahap awal pengujian pasar.

Merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) periode 2023–2025, perbedaan strategi dan tingkat keseriusan masing-masing negara terlihat jelas, baik dari sisi volume maupun konsistensi ekspor.

Dominasi Jepang masih kuat

Pabrikan Jepang tampil sebagai pemain paling dominan dalam ekspor CBU dari Indonesia. Dalam periode tiga tahun terakhir, volumenya nyaris tidak terkejar oleh negara lain.

Pada 2023, ekspor kendaraan CBU Jepang mencapai 446.845 unit. Angka ini sempat terkoreksi pada 2024 menjadi 408.494 unit, sebelum kembali melonjak tajam pada 2025 hingga 461.569 unit. Koreksi positif pada 2025 menjadikannya sebagai capaian tertinggi dalam periode tersebut.

“Peta ekspor otomotif Indonesia tahun 2026 diproyeksikan masih akan didominasi oleh pabrikan Jepang yang sudah lama berinvestasi di Indonesia, khususnya Toyota dan Mitsubishi yang menjadikan Indonesia benteng pertahanan utama untuk membanjiri pasar Global South dengan produk ICE (internal combustion engine) dan hybrid,” ungkap pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu kepada kumparan beberapa waktu lalu.

Dengan tren tersebut, Indonesia tidak lagi sekadar diposisikan sebagai negara konsumen bagi pabrikan Jepang, melainkan telah berfungsi sebagai pusat produksi dan export hub global.

Korea Punya Kapasitas, Tapi Belum Dilepas Penuh

Berbeda dengan Jepang, pabrikan Korea yang diwakili Hyundai menunjukkan pola ekspor yang cenderung datar. Pada 2023, ekspor CBU Korea tercatat sebanyak 56.538 unit. Angka ini naik menjadi 62.443 unit pada 2024, namun kembali turun ke 54.175 unit pada 2025.

Secara tren, tidak terlihat akselerasi yang konsisten. Padahal, Hyundai telah memiliki infrastruktur yang relatif lengkap di Indonesia, mulai dari pabrik modern di Cikarang, portofolio kendaraan ICE dan EV, hingga dukungan ekosistem baterai.

”Korea dengan Hyundai berpeluang stabil atau tumbuh moderat,” imbuh Yannes.

Namun kapasitas tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam volume ekspor. Indonesia tampak masih diposisikan sebagai basis regional terbatas, bukan sebagai hub ekspor global yang dilepas penuh, termasuk untuk kendaraan listrik.

Situasi ini mengindikasikan bahwa ekspor belum menjadi prioritas utama Hyundai dari Indonesia, setidaknya dalam periode 2023–2025.

China Masih Pemanasan

Sementara itu, pabrikan China masih berada jauh di belakang dari sisi volume ekspor. Data Gaikindo menunjukkan ekspor CBU China dari Indonesia masih berada pada level yang sangat kecil.

Pada 2023, ekspornya tercatat hanya 1.751 unit. Angka ini turun menjadi 1.256 unit pada 2024, sebelum naik menjadi 2.468 unit pada 2025. Meski ada pertumbuhan di 2025, terutama dari Wuling dan mulai masuknya Chery, skalanya masih sangat minor jika dibanding Jepang maupun Korea.

Kondisi ini menunjukkan bahwa produksi pabrikan China di Indonesia masih berfokus pada pasar domestik. Aktivitas ekspor sejauh ini lebih menyerupai eksperimen awal atau menyasar pasar niche, bukan strategi ekspor berskala besar.

“Meskipun terlihat kontradiktif karena pabrikan China memiliki kelebihan kapasitas produksi yang masif di negaranya, potensi mereka menjadikan Indonesia sebagai basis ekspor sesungguhnya sangat besar,” ujarnya.

Dengan kata lain, agresivitas China di Indonesia saat ini lebih terasa di sisi penjualan lokal, sementara pemanfaatan Indonesia sebagai basis ekspor masih berada pada tahap awal.

”Indonesia tampaknya akan bertransformasi menjadi hub produksi krusial untuk pasar RHD (right hand drive) seperti Australia, ASEAN, dan wilayah Asia Selatan yang sulit dilayani dari China,” pungkasnya.

Perbedaan ini menegaskan satu hal penting: kesiapan Indonesia sebagai basis ekspor otomotif sangat bergantung pada strategi dan komitmen masing-masing pabrikan. Jepang telah membuktikan konsistensinya, Korea masih berhitung, sementara China baru memulai langkah.

Dalam konteks industri, data 2023–2025 ini juga menjadi pengingat bahwa investasi dan kapasitas produksi tidak otomatis berujung pada peran sebagai hub ekspor global. Tanpa keputusan strategis dari prinsipal, Indonesia berpotensi tetap berada di level yang berbeda: menjadi tulang punggung bagi Jepang, basis regional bagi Korea, dan arena uji coba bagi China.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
MU Kalahkan Arsenal, Akun Kemenag hingga Pemkab Ikut Rayakan, Desainnya Bikin Ngakak
• 8 jam lalugenpi.co
thumb
PLN IP Kebut Transformasi Hijau Berkelanjutan di 2026
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mobil Warga Tiba-tiba Terbakar Saat Bertamu di Bogor, Diduga Korsleting
• 15 jam laludetik.com
thumb
Hasil Lengkap 18 Laga Terakhir Liga Champions Hari Ini
• 18 jam laluharianfajar
thumb
Banjir Berkepanjangan, Sekolah dan Masjid Terendam di Kalangligar
• 5 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.