Jakarta, VIVA – Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib atau akrab disapa Gus Salam mengeluarkan posisi penataan kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) untuk menjaga marwah ulama dan menata jam'iyah dengan hikmah.
Gus salam menegaskan kertas posisi tersebut bukan untuk mengoreksi masa lalu, bukan pula untuk menghakimi.
- tvOnenews/Aldi Herlanda
"Kertas posisi saya buat dari ikhtiar menjaga marwah ulama dan merawat NU agar tetap kokoh, teduh, dan bermartabat di tengah perubahan zaman," kata Gus Salam dalam keterangannya, Kamis, 29 Januari 2026.
Gus Salam mengingatkan bahwa NU sejak kelahirannya tak pernah dimaksudkan sebagai organisasi administratif semata. NU lahir sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah, perhimpunan keagamaan dan kemasyarakatan yang bertumpu pada kepemimpinan ulama—baik dalam dimensi keilmuan, moral, maupun sosial kebangsaan.
"Dalam tradisi NU, kepemimpinan tidak dibangun di atas kekuasaan, melainkan di atas ilmu, adab, keteladanan, dan keberkahan. Ulama bukan sekadar pengurus, melainkan penjaga nilai, penuntun umat, dan pemikul amanat sejarah. Karena itu, sejak awal NU menempatkan ulama sebagai poros utama organisasi," ujarnya.
Namun seiring perjalanan waktu, kata Gus Salam, NU berkembang menjadi organisasi yang sangat besar, kompleks, dan berhadapan langsung dengan dinamika sosial, politik, dan kebangsaan yang semakin rumit.
"Dalam kondisi seperti ini, ketulusan saja tidak cukup. Diperlukan sistem kelembagaan yang kuat, agar kewibawaan ulama tetap terjaga dan organisasi tidak terseret pada tarik-menarik kepentingan," ucapnya.
- Dok. NU
Wakil Ketua PWNU Jawa Timur 2018-2023 berkata, ada enam prinsip dasar penataan kepemimpinan NU. Kepenataan kelembagaan NU harus berpijak pada prinsip-prinsip dasar yang selaras dengan tradisi pesantren dan ruh jam’iyyah, yakni:
1. Supremasi Kepemimpinan Ulama
2. Pemisahan Tegas Antar Otoritas
3. Musyawarah Mufakat sebagai Prinsip Mutlak
4. Kepemimpinan Kolektif-Kolegial
5. Anti-Kooptasi dan Anti-Politik Transaksional
6. Kesinambungan Tradisi dan Keterbukaan Zaman





