Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan berkantor di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai besok, Jumat (30/1), sebagai langkah mempercepat reformasi dan penguatan sistem pasar modal Indonesia. Hal ini dilakukan di tengah gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipicu kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan kehadiran OJK secara langsung di BEI ditujukan untuk memastikan proses perbaikan tata kelola, transparansi, serta integritas pasar modal berjalan cepat, tepat, dan efektif.
"Kami fokusnya adalah reformasi perbaikan itu seluruhnya dan berjalan cepat, tepat dan efektif dan untuk memastikan hal itu maka mulai besok kami juga akan berkantor di sini (di BEI)," ujar Mahendra saat konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (29/1).
Selain itu, OJK dan pemerintah juga bakal menerbitkan peraturan turunan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, terkait demutualisasi BEI pada kuartal I 2026.
"Kami memahami dalam diskusi dengan pemerintah bahwa pemerintah akan menerbitkan peraturan terkait demutualisasi bursa dalam kuartal pertama tahun ini," katanya.
"Itu yang kami ingin sampaikan sebagai bagian dari komitmen yang lebih baik berintegritas dan meningkatkan transparansi semuanya," sambung dia.
OJK, kata Mahendra, juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menyempurnakan pengaturan dan implementasi kebijakan yang berlaku saat ini agar reformasi pasar modal dapat dijalankan secara menyeluruh.
"Untuk melakukan hal tadi, maka kami juga melakukan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan terkait sehingga proses dan langkah-langkah reformasi yang dilakukan untuk penyempurnaan terhadap pengaturan dan pelaksanaan yang berlaku saat ini," jelasnya.
Prabowo Tahu Pasar Saham RI Terjun Bebas
Terkait perhatian pemerintah terhadap kondisi pasar yang bergejolak dalam dua hari terakhir, Mahendra meyakini Presiden Prabowo Subianto mengetahui dan mencermati perkembangan tersebut.
"Asumsi saya ya tahu dong, ini kan penting dan ini kan juga diperhatikan tentunya mempengaruhi cukup banyak hal," ujarnya.
Sebelumnya, IHSG sempat anjlok hingga 8 persen ke level 7.654,66 pada Kamis (29/1) dan Rabu (28/1), yang memicu pembekuan sementara perdagangan (trading halt) oleh BEI. Tekanan pasar dipicu pengumuman MSCI yang memberlakukan perlakuan sementara terhadap pasar saham RI dengan membekukan sejumlah perubahan dalam proses rebalancing indeks.
Dalam kebijakannya, MSCI membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), menghentikan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta membekukan perpindahan antar segmen ukuran indeks, termasuk dari Small Cap ke Standard.




