Kader NasDem Pindah ke PSI Rentan Kena Stempel Oportunis dan Kutu Loncat

kompas.com
16 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti senior bidang politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, mengatakan kader Partai NasDem yang memilih pindah ke PSI belum tentu mendapatkan penilaian positif dari publik.

Dia mengingatkan bahwa kader-kader tersebut berpotensi mendapat penilaian negatif dari publik, termasuk dicap oportunis hingga politikus “kutu loncat”.

“Ketika mereka yang pindah ke PSI belum tentu juga mendapat respons yang positif, alih-alih bisa negatif dengan muncul anggapan sebagian orang yang oportunis dan pragmatis dan bisa muncul stigma sebagai ‘kutu loncat’,” kata Lili saat dihubungi Kompas.com, Kamis (29/1/2026).

Baca juga: Citra Nasdem Dinilai Berpotensi Memburuk Usai Kader Hijrah ke PSI

Menurut Lili, perpindahan kader atau elite partai dari satu partai ke partai lain sebenarnya adalah fenomena yang lazim dalam dinamika politik Indonesia.

“Perpindahan kader atau elite partai dari partai yang satu ke partai yang lainnya tampaknya menjadi hal yang dianggap biasa atau lumrah sehingga tidak heran bila fenomena ini orang kerap menyebutnya sebagai ‘kutu loncat’,” ujar dia.

Lili menjelaskan, terdapat banyak faktor yang mendorong migrasi kader dari satu partai ke partai lain.

Faktor tersebut antara lain kekecewaan terhadap partai sebelumnya, keinginan memperoleh posisi yang lebih baik, hingga kepentingan politik dan ekonomi.

“Ada banyak faktor migrasi kader dari satu partai ke partai lain. Bisa karena faktor kecewa terhadap partai sebelumnya, faktor untuk mendapat posisi yang lebih baik, faktor kepentingan politik dan ekonomi, faktor untuk mendapatkan perlindungan dengan patron yang baru,” kata Lili.

Baca juga: Rusdi Masse Resmi Gabung PSI Usai Tinggalkan Nasdem, Dipakaikan Jaket Oleh Kaesang

Dalam konteks NasDem, dia menilai perpindahan sejumlah kader ke PSI bisa disebabkan oleh satu atau gabungan dari berbagai faktor tersebut.

“Pindahnya beberapa kader atau pengurus Nasdem ke PSI tersebut bisa karena dari berbagai faktor-faktor di atas atau gabungan dari faktor di atas,” ujar Lili.

Dia menambahkan, peluang memperoleh posisi strategis di partai baru juga dapat menjadi alasan kuat bagi kader untuk berpindah haluan politik.

“Artinya, bisa jadi karena ada kekecewaan di Nasdem lalu pindah ke PSI karena ada kesempatan untuk mendapatkan posisi strategis dalam partai sehingga kemudian bergabung dengan PSI,” kata dia.

Di sisi lain, Lili menekankan bahwa perpindahan kader tersebut juga bisa berdampak terhadap citra partai yang ditinggalkan.

Lili mengatakan, tak menutup kemungkinan jika publik akan menganggap internal Nasdem tak solid dan bermasalah, hingga kadernya memilih hengkang.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Dampak terhadap Nasdem pasti ada, salah satunya mendapatkan citra yang tidak baik karena beberapa kader meninggalkan Nasdem. Tentu publik menganggap bahwa Nasdem tidak solid dan sedang diterpa masalah. Persepsi ini tentu akan merusak citra partai di mata publik,” ungkap Lili.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pak Pramono Tolong, Warga Rawa Buaya Kebanjiran 3 Kali Seminggu: Hujan 3 Jam, Surutnya 2 Hari
• 20 jam laludisway.id
thumb
Laba Bersih Tesla Anjlok, Microsoft Malah Raup Untung Banyak di 2025
• 40 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Permintaan Ahok Periksa Jokowi, Tunjukkan Hubungan Politiknya Naik Turun
• 1 jam lalugenpi.co
thumb
OJK Bakal Umumkan Langkah Konkret Respons MSCI 
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Anomali Cuaca Awal Tahun: Mengenal Fenomena CENS, Booster Hujan di Pulau Jawa
• 19 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.